
Tepat pada akhir tahun menjadi hari besar dalam sejarah hidup Alona. Bagaimana tidak, ia yang masih berumur 21 tahun itu sudah harus melepas status lajangnya, saat ia kembali dilamar Tuan Presdir kedua kalinya dengan resmi.
Sebuah kamar mewah kini akan menjadi tempat kenangan yang tak akan terlupakan. Gadis yang dulu miskin dan dipandang sebelah mata itu kini telah menjelma menjadi bidadari cantik yang diirikan banyak orang, kehidupan rumit Alona yang berakhir bak cinderella telah membuat puluhan pasang mata tercengang tak percaya.
Alona masih setia mematut diri di depan cermin yang nyaris membuat bayangannya terpantul sempurna.
Gaun putih yang menjadi pilihannya, membalut tubuh mungilnya, dan akan terseret saat ia berjalan nanti.
Lima wanita perias sudah berada di sana, menata make up senatural mungkin di wajah gadis muda itu.
"Tolong jangan terlalu mencolok, aku tak ingin terlihat menor!"
"Baik, Nona Muda!" Dengan ramah, mereka menyahutnya. Panggilan Nona Muda bahkan sudah melekat pada gelar baru Alona. Sepertinya gadis itu juga mulai menikmatinya.
"Oh iya, di mana Tuan Arya?"
"Beliau ada di luar dan sudah menantikan anda, Nona."
"Oke, kalau begitu, segera selesaikan." Nada bicara gadis itu bahkan mulai menggunakan intonasi yang pas layaknya nona muda.
Selesai dirias, Alona masih setia mematut dirinya di depan cermin. Antara gugup dan bahagia, tangannya tak hentinya bersedekap karena terus saja mengeluarkan keringat dingin.
Benarkah yang kualami ini? Rasanya aku masih tak percaya jika hari ini aku resmi dilamar Tuan Muda.
"Kakak!" Suara itu datang dari belakang.
"Qea?" Alona sampai tersentak kaget. "Ih, bikin kaget aja! Ibu di mana?"
"Ada tuh, di luar!" ucapnya yang langsung duduk di kursi perias.
"Nanti, minta ibu masuk ke sini, yaa!"
"Siap, Kak! Eh, ngomong-ngomong hari ini kakak cantik banget loh!"
"Memangnya kemarin-kemarin kakak gak kelihatan cantik?"
"Enggak tuh! Kemarin-kemarin kakak gak pernah cantik, Kakak jelek, cuma Qea yang cantik!"
"Yee, dasar kamu! Tapi, kamu juga cantik loh hari ini!"
__ADS_1
"Ah, gak perlu kakak puji, Qea sih udah sadar dari dulu, wajah Qea ini memang cantik sejak lahir, hihihi!"
Alona menarik seutas senyum di bibirnya, menandakan senyumnya tak tulus.
"Oh, iya, Qea dengar, di hari ulang tahun Perusahaan GCK Grup ini, Tuan Muda akan menampakkan dirinya di depan publik loh Kak!"
"Hmm, terus?"
"Kakak gak penasaran bagaimana sosoknya?"
"Gak tuh!"
"Om Bobby aja bahkan udah standby di luar, eh tapi ngomong-ngomong, kenapa kakak dilamar sama pengawal Om Bobby di hari ulang tahun GCK Grup?"
"Menurut kamu?"
"Hm ...." Qea menautkan jemarinya di atas dagu. "Mungkin om pengawal calon Kakak itu berjasa banyak pada GCK Grup, jadinya sampai acara pelamaran pun di rayakan oleh tuan muda."
"Menurut kamu begitu, ya? Apa kamu pernah berpikir, mungkin saja calon Kakak, justru tuan muda yang selama ini gak pernah menampakkan batang hidungnya itu?"
"Itu mana mungkin, jangan mengkhayal ketinggian deh, Kak!"
Dasar Qea, lihat saja nanti, kamu akan tercengang saat tau kebenarannya,' batin Alona bergumam.
"Oh, iya! Qea ke depan dulu ya, Kak! Mau samperin Om Bobby, takut Om Bobby diembat sama Kakak-kakak cantik di luar sana! Dah Kakak!" Qea langsung melambai, dan berlari kecil keluar dari ruang kamar mewah itu.
"Nona Muda, apa anda sudah siap?" Seorang wanita tiba-tiba datang dan langsung menghampiri Alona.
"Ya, aku sudah siap, ibuku di mana?"
"Ibu Nona Muda ada di luar, beliau duduk bersampingan dengan Adik Nona!"
"Bisakah kamu memanggilnya sebentar!"
"Maaf, Nona. Tapi waktunya sudah tidak sempat! Nona sudah harus keluar sekarang!"
Hmm, padahal aku ingin terlebih dulu mencium punggung tangan ibu dan meminta restu. Alona tampak bersungut lesu.
"Mari, Nona Muda, saya akan mengantar Nona keluar!"
__ADS_1
"Hmm!" sahut Alona yang tangannya kini disambut oleh wanita itu. Ia berjalan mengikuti langkah wanita di sampingnya. Kini terlihat jelas, aula besar yang super mewah dan menakjubkan. Dekorasi romansa mawar merah dan putih, dihiasi lampu-lampu kuning keemasan langsung menyapu pandangan Alona. Jamuan mewah sudah tertata rapi di sana.
Inikah acara lamaran terindah yang dimaksud Arya? Ia menggumam dalam hati.
Seorang pemandu acara tampak tersenyum di atas panggung, memegang sebuah mik di tangannya.
"Hadirin sekalian, marilah kita sambut, Presiden Direktur Arya Pohan dan kekasihnya Alona Shaira! Berikan tepuk tangan yang meriah untuk mereka.
Tepuk tangan meriah langsung menggema dalam ruang yang dipenuhi oleh tamu dari para petinggi dan kaum elit itu. Alona semakin gemetar menahan keringat dingin yang semakin deras keluar di antara telapak tangannya.
Dapat ia lihat, seluruh tamu undangan tersenyum menyambutnya. Juga adik dan ibunya yang terlihat duduk di meja ekskulif. Qea antusias memberi support pada kakaknya itu agar tidak terlalu kaku akibat tegang.
Dalam waktu beberapa detik saja, Arya sudah hadir, berjalan dari meja ekslusif menuju panggung.
"Silahkan naik, Tuan Arya!"
Arya naik ke panggung, dan langsung menyambut lengan Alona yang wajahnya sudah sangat pucat.
"Gak perlu tegang, Sayang. Ada aku di sini!" bisik Arya di telinga Alona. Ia menggiring Alona, berjalan ke tengah panggung. Arya langsung mengambil alih mik yang sebelumnya di pegang sang pemandu acara tadi. Ia memulai pidatonya.
"Selamat siang, para hadirin dan tamu undangan. Saya ucapkan terima kasih atas kesediaan kalian untuk hadir di acara ini. Hal pertama yang ingin saya sampaikan adalah mengenai pelelangan harta pulau sittar yang bernilai milliaran dollar. Kedua, saya juga ingin menyampaikan bahwa hari ini saya akan melamar seorang gadis, dia adalah gadis sederhana yang kini berdiri di samping saya, gadis yang berhasil membuat saya kelimpungan saat kehilangannya walau beberapa detik saja, gadis yang berhasil membuat saja menjatuhkan hati padanya. Dia, Alona."
Arya memutar tubuhnya, menghadap Alona. Membuat Alona gugup dan semakin tegang.
"Sayangku, bersediakah kau menjadi istriku?" ucap Arya dengan berjongkok, sedang di tangannya, sudah terpampang satu buah cincin yang sangat indah. Seketika Alona terharu hingga hampir menangis, ia sampai menutup mulutnya dengan satu tangan.
Seluruh pasang mata langsung ikut terharu melihat dua muda-mudi yang tampak romantis di atas panggung itu.
Tak terkecuali adiknya si Qea, yang sedari mereka naik ke panggung langsung tercengang, bahkan hingga kini, gadis itu masih saja melotot tak percaya.
Jadi benar, calon suami kakak itu adalah presiden direktur GCK grup. Benar-benar gak di sangka. batin Qea terenyuh melihatnya.
TAMAT
Terima kasih kepada para pembaca yang sudah setia bersama Arya dan Alona hingga akhir kisah ini.
Season 2 untuk novel ini akan diterbitkan, selamat menunggu.
Akhir kata saya mau ucapkan, jangan lupa membaca novel terbitan lanjutan author "Rahim untuk Tuan Muda" kisah yang penuh konflik hingga menggetarkan jiwa, dan romansa romantis yang menggemaskan.
__ADS_1