
Beberapa saat sebelum kedatangan Alona ....
"Aggghhh! Alona gadis sialan itu! Sudah dua hari dia gak pulang, dia pasti lagi akting di villa buat cari muka di depan Bobby!" Jesica mondar-mandir di dalam kamarnya. Gelisah dan emosi terpaut jelas pada wajahnya.
"Masa sih, Alona bisa berbuat gitu, Jes?"
"Jadi lu gak percaya?"
"Ya, iya. Secara, dia kan orangnya kekanakan, labil. Terus cantik juga kagak, body kerempeng, gak mungkin Bobby tertarik sama dia! Selera Bobby itu kan tinggi, kayak loe gitu!"
"Kalo soal itu sih kalian emang bener! Memang cuma gue yang pantas bersanding sama Bobby. Tapi kali ini kalian juga harus percaya! Gue serius ini!"
"Lu yakin udah ngelihat dengan mata kepala sendiri?"
"Iya lah, lu pikir gue ngomong ngasal? Nih ya, waktu gue sama Bima mau jenguk dia di villa karena katanya sakit, ternyata dia lagi ngerayu Bobby sampai rebahan di atas dada Bobby, parahnya lagi, di dalam kamar itu cuma ada mereka berdua!"
"Whaaat??? Ahh! Gila banget! Sumpah lu Jes?"
"Swear! Dan itu bukan pertama kali gue mergoki dia di atas body cowok. Sebelumnya, saat karyawan yang lain sibuk nyelenggarain pesta barbeque, Alona juga berduaan dalam kamar Bima! Dan dia sedang asyik ciuman di sama Bima!"
"Widiih! Jijay banget yah tuh anak. Masih bisa belagak sok polos. Gak taunya nempel sana nempel sini!"
"Makanya, gue mau kalian bantu gue buat bikin tuh anak sadar dan tau diri!"
"Maksud loe, Jes?"
"Gue mau kalian semua kerja sama dengan gue, kita buat perhitungan saat dia pulang nanti!"
"Caranya gimana?"
"Sini loe semua, mendekat!"
Wanita itu berbisik pada keenam sohib yang kini mulai termakan hasutannya.
"Gila lu, Jes!"
"Ck! Lu mau bantu gue apa kagak?"
"Ya udah lah!"
******
Mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan halaman hotel borneo. Ketujuh wanita itu mendongak, menyibak horden, mengintip melalui jendela kaca transparan dalam kamar Jesica.
"Siapa tuh yang datang, mobilnya mewah banget!"
"Iya siapa tuh!"
"Kalian pasti kaget kalo ngelihat siapa yang di antar dalam mobil mewah itu!" Saat itu Jesica hanya menebak. Namun entah kenapa, feeling-nya mengatakan bahwa orang yang akan turun dari mobil mewah itu adalah Alona.
Dan benar saja, selang beberapa saat Alona keluar dari dalam mobil setelah pintunya terangkat.
"Wah iya, Jes. Itu Alona! Ternyata yang lu bilang itu bener!"
"Tuh kan! Apa gue bilang! Dan lihat aja siapa pria yang mengantarnya!"
"Ya sudah pasti Bobby lah!"
"Jangan buru-buru memutuskan, baiknya kalian lihat aja dulu!"
Supir yang mengantar itu kemudian membuka kaca mobil depan lalu mengobrol sebentar pada Alona. Kini nampak jelas wajah sang supir pada ke tujuh wanita pengintip tadi.
"Astaga! Iyaa! Yang antar ternyata bukan Bobby. Tapi kalo dilihat-lihat, cowok itu lebih mirip supir."
"Mau supir kek, mau om-om bau tanah kek, kalo sudah ketemu Alona, semua diembat!"
"Masa iya begitu, Jes?"
"Diiiih! Kalian gak percayaan banget sih sama gue!"
__ADS_1
"Eh! Eh! Lihat tuh mobilnya udah pergi. Kayaknya Alona udah mau ke sini deh!"
"Buruan! Buruan! Kita cegah dia di depan kamarnya!"
Bergegas mereka menghambur keluar menuju kamar Alona, dan berhenti tepat di depan pintu.
Saat itu Jesica sudah mulai melupakan janji dengan Alona sewaktu kecil. Mereka berjanji untuk saling menyayangi dan melindungi. Seberapa besar pun masalah yang akan datang di kemudian hari, mereka berjanji untuk memecahkan dengan segala cara dan solusi.
Tap! Tap!
Langkah Alona terdengar pasti menaiki anak tangga. Jesica yang saat itu sudah termakan cemburu tak lagi berpikir jernih.
Ia dan ke tujuh teman sekantor itu menghadang Alona dengan tangan berlipat di dada. Tak ada senyuman manis, hanya raut sinis yang mereka kembangkan.
"Jesica? Wah kalian semua berdiri di sini demi nunggu gue ya?" Alona tersenyum sumeringah.
Tak ada sahutan. Hanya tatapan sinis yang terus terpancar.
"Jesicaa! Gue kangen banget sama loe!"
"Stop!" Satu buah tangan menahan Alona yang tengah berlari menghambur ke arahnya. "Lu ikut kita sekarang juga!"
"Apa?? Ke mana?"
Tak lagi bicara, Jesica menggenggam lengan Alona. Menarik paksa untuk ikut bersama mereka.
"Ta-tapi, kalian mau bawa gue ke mana?"
"Lu bilang kangen gue kan?" Senyum seringai memancar dari bibir Jesica.
"I-iyaa, tapi ...."
"Udah! Gak ada tapi-tapian!"
Mereka langsung membawa Alona menuju gudang kosong di belakang hotel. Entah dari mana, ternyata Jesica sudah menyiapkan segalanya, bahkan ia dapat membuka gudang yang terkunci rapat.
"Jes, kita mau ngapain di sini?" lirih gadis itu berucap.
Jesica kembali menariknya, mendudukannya pada satu buah kursi. Ke tujuh wanita itu kemudian mengitarinya.
"Jes, sebenarnya ada apa ini?"
"Gak ada apa-apa! Cuma gue rasa, lu perlu mandi sekarang!"
"Apa? Maksud loe??"
"Cepat siram!"
"Siram?? Siram apaan?" Gadis itu bingung. Alisnya mengernyit.
Satu orang wanita mengambil ember berisi penuh yang memang sudah tersimpan di dalam gudang itu, membawanya ke tengah perkumpulan mereka.
Byuuuur!
"Ahhh! Apa ini??" Alona menjerit. "Ueee!" Hampir saja gadis itu muntah karena bau yang menyengat.
"Hahahhaha!" tawa jahat tercipta dari bibir-bibir itu.
Bau amis yang menyengat semakin jelas tercium. Bau berasal dari air comberan yang disiram ke tubuh Alona.
Ke tujuh wanita itu langsung menutup wajah dengan masker yang sudah mereka siapkan masing-masing di tangan.
Kini netra Alona mulai berkaca-kaca. "Jes, ada apa? Kenapa lu tega berbuat hal gini sama gue?"
"Ini masih belum seberapa!" sahutnya singkat.
"Maksudnya??"
Plok! Plok! Plok!
__ADS_1
Kembali ke tujuh wanita itu melayangkan telur mentah ke atas tubuh Alona. Pecah dan langsung memenuhi tangan, tubuh dan wajahnya dengan telur.
"Nih buat cewek gatel kayak loe!" Salah satunya melempar seraya menghardik.
"Yang ini karena loe gak tau diri!"
Plok!
"Ini karena loe terlalu ternyata rubah betina!"
Plok!
"Ahhh! Hentikan!" pekik Alona.
Pembully-an itu terus terjadi hingga Alona nyaris menangis sesenggukan. Buliran kristal yang keluar di kedua matanya tak lantas membuat mereka iba.
"Cukup, teman-teman!" Jesica memberi kode pada temannya untuk berhenti melemparinya.
"Apa sekarang loe sudah sadar dengan kesalahan loe, Alona?"
"Jesica, apa maksud elo? Sadar dengan apa? Dan kenapa loe berbuat jahat sama gue?" Gadis itu terisak.
"Loe yang jahat! Loe udah ngerebut Bobby dari gue!"
Alona terdiam sesaat.
"Kenapa? Loe gak bisa ngelak sekarang?"
"Jes, apa semua ini hanya karena Bobby?"
"Apa lu bilang? Hanya karena Bobby??" Wajahnya merah, geram. "Mungkin bagi loe, bermain-main dengan Bobby hanyalah hal sepele. Tapi gak bagi gue! Bobby adalah aset masa depan gue. Dan loe, dengan gampangnya merebut dia dari gue!"
"Jesica, plis! Berhenti! Gue gak pernah rebut Bobby dari elo! Loe udah salah paham!"
"Heh! Alona!" Netra Alona melirik ke arah gadis yang berbicara di samping Jesica. "Gue gak nyangka ya, anak yang selama ini kita pandang lugu dan polos ternyata bisa tidur dengan banyak pria! Menjijikan!"
"Diam, loe! Gue gak urusan sama loe!" sahut Alona.
"Lihat anak ini! Dasar wanita binal!" hardik wanita di sebelahnya.
"Rubah jalang!" sambung temannya.
"Diam kalian semua! Kalian gak tau apa-apa sebaiknya gak usah ikut campur!" Alona berusaha membela diri.
"Ke mana aja loe selama dua hari?" Jesica memasang wajah sinisnya.
Membuat bola mata Alona memutar ke arahnya.
"Gue sakit, Jes! Karena lu dorong gue ke danau."
"Apa? Pembohong, siapa yang percaya dengan omong kosong itu! Sakit! Haha! Semua juga tau kalo lu bisa berenang. Dan loe mau beralibi dengan kata sakit hanya karena gue dorong elu ke danau?"
Alona menatapnya nanar.
"Kalian lihat sendiri kan teman-teman!" Jesica semakin menghasut mereka. "Dia bahkan memberi alasan yang gak masuk akal!"
"Iya! Alona, kita semua gak nyangka, loe ternyata bermuka dua! Di depan kita berlagak polos, di belakang genit udah kayak ulat bulu aja!"
Gadis itu semakin bersungut. Sedih, marah, semua bertumpuk dalam isi kepalanya.
Ditundukkannya kepala hingga nyaris tertutup oleh rambut yang penuh dengan ceplokan telur. Menangis karena tak menyangka kepulangannya di sambut dengan bully-an.
"Apa yang harus gue lakuin untuk membuat kalian percaya kalau gue gak begitu?" tanya Alona tanpa menatap.
"Hanya ada satu cara kalo lu mau kita percaya!"
Alona mendongak pelan.
"Jauhi Bobby dan Bima!" Ungkapan Jesica itu langsung mendengung di indera pendengar Alona.
__ADS_1
'Apa? Jauhi Bobby juga Bima? Kenapa?' Matanya membelalak, sedang bibirnya mendadak terkunci rapat.