Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Alona Rindu Rumah


__ADS_3

Bobby masih berdiri di depan pintu. Jemarinya sedikit sibuk saat kembali menghubungi Alona. Namun, nomor sang gadis yang sebelumnya aktif mendadak tak bisa dihubungi. Pria itu akhirnya memilih menunggu. Mengaktifkan mode silent pada ponselnya, kemudian meletakkan kembali ke dalam jaznya.


Sengaja ia mengaktifkan mode silent agar tak menimbulkan suara berisik saat ada yang menelpon, sehingga tanpa sengaja ia sudah mengabaikan telepon dari Arya. Pria itu berdiri selama dua puluh menit di depan kamar inap Jesica.


Ia melipat lengan di atas dada. Bersandar pada dinding tembok. Masih setia menunggu Alona yang sudah berjanji akan bertemu di depan ruang inap Jesica. Dan tanpa sengaja ia mendengar jelas percakapan kedua insan yang terdiri dari anak dan ayah di dalam ruangan itu.


"Apa yang sebenarnya Ayah lakukan?"


"Apa lagi?? Ayah hanya mencoba menjodohkanmu dengan Bobby??"


"Lalu??"


"Seperti yang kamu lihat tadi, dia menolak!!"


"Ayah payah banget sih! Apa ayah gak berakting? Pakai air mata juga dong?"


"Heh! Jangan mengatai Ayah payah! Kamu sendiri bagaimana? Kamu sudah berakting pun dia masih kukuh menolak!"


"Aggghhh!!! Kesal! Ini semua karena Alona!"


"Memangnya kenapa dengan Alona??"


"Gak apa-apa! Pokoknya aku gak suka dengan anak itu!"


"Ayah pikir kalian berteman dengan baik?? Bukannya kalian sudah berteman sejak kecil??"


"Iya! Tapi sekarang enggak!"


"Jesica! Kamu gak seharusnya bermusuhan dengan Alona! Biar bagaimana pun, dia anak yang baik!"


"Baik apanya? Tukang tikung!!"


Bobby terus memejamkan kedua bola matanya saat tak sengaja menguping. Semua yang terdengar kini memperjelas alasan kenapa Alona mengatakan Jesica bukan gadis baik.


'Jadi itu alasan Alona mengatakan untuk jangan berhubungan dengan Jesica! Ternyata dugaan gue benar! Hubungan pertemanan mereka sudah renggang!'


Tap!


Tap!


Tap!


Alona berlari setengah terhuyung mendekat ke arah Bobby. Menimbulkan bunyi tapakan kaki pada setiap langkahnya.


Bobby yang terjaga segera mengerjap saat menyadari langkah Alona cukup berisik. Spontan ia meletakkan jari telunjuk di atas bibir. Mengisyaratkan supaya Alona lebih memelankan langkahnya. Agar tak ada suara yang terdengar.

__ADS_1


"Pssttt! Jangan berisik!" tukas Bobby setengah berbisik.


"Kenapa??" jawabnya yang juga berbisik.


Bobby tak lagi menyahut. Ia langsung melingkarkan lengannya di bahu Alona. Mengajaknya beranjak dari tempat itu. Hingga saat langkah mereka cukup jauh, segera gadis itu melepas lengan Bobby.


"Kenapa? Lu risih sama gue??" Bobby seperti kaget mendapat perlakuan aneh itu dari Alona.


"Pake nanya lagi, ya jelas lah! Lagian tangan loe berat! Loe habis makan apa sih?"


Pertanyaan Alona berhasil membuat Bobby tertawa tipis. "Cih! Anak ini!"


"Ihh, ngeledek lagi!"


"Siapa yang ngeledek!"


"Itu barusan, apa?"


"Iya, tangan gue berat karena habis makan besi! Ayo buruan!" jawabnya yang kemudian mempercepat langkahnya, sehingga Alona tertinggal beberapa meter di belakang.


"Bobby, tunggu!! Lu cepat banget sih jalannya! Gue capek nih!"


Merasa Alona tertinggal jauh. Pria itu berhenti sejenak. Sedang lengannya masih setia bersembunyi dalam kantung di samping jeans. Menoleh ke belakang. Membuat tubuhnya ikut terputar.


"Buruan! Lu gak lagi pakai gaun pengantin kan! Jadi jalannya jangan lemot kayak siput!"


"Bobby! Kita mau ke mana?"


"Balik! Calon suami loe pasti lagi kelimpungan nyariin elo! Oh iya, loe tadi kemana aja? Kenapa ponsel loe gak aktif?"


"Hp gue lowbat. Udah gak bisa di pakai sama sekali!"


"Oh, pantesan!"


Alona mulai mengikuti langkah Bobby yang dua kali lebih cepat dari langkah Alona. Bahkan kini napasnya mulai tersengal.


"Bobby ...."


"Hmm!" Pria itu menyahut tanpa menoleh, masih dengan langkah yang cepat.


"Bisa gak kita mampir ke rumah gue dulu!"


Tap!


Mendadak langkah Bobby terhenti. Menoleh. "Gak bisa! Lu ikut gue ke sini aja udah pasti mendatangkan masalah buat gue! Gue gak mau Arya salah paham!"

__ADS_1


"Kalo soal Arya, lu gak perlu risau! Biar gue nanti yang nanggung kalo dia marah!"


"Ck! Apa sih yang elo tau tentang Arya??"


"Ahhh! Itu ...." Alona terlihat membuang wajahnya. Bingung saat menjawab. Sedang tangannya mulai menggaruk telinga bagian belakang.


"Gak ada yang loe tau kan?? Lu belum tau sifat asli Arya seperti apa! Jadi, gue saranin lu jangan meremehkan dia!"


Deg!


Seketika jantung Alona seperti terhenti. "Apa Arya sedingin itu??"


"Yaa! Arya itu pria dingin! Dia hangat hanya selama menyamar sebagai Bima! Jadi, lu jangan coba buat meremehkan dia!"


"Tapi, Bob ...."


"Apa lagi??"


"Gue udah sebulan liburan ke pulau xx. Dan sampai sekarang belum pulang! Gue kangen ibu sama adik gue!" Raut Alona kini terlihat sendu. Wajahnya tertunduk. Melihatnya, seketika Bobby yang tadi kukuh kini luluh.


'Duh! Kalo Alona sedih begini, apa boleh buat??' rutuknya memegangi pelipis. "Oke! Kita ke rumah elo! Tapi sebentar aja! Kalo Arya tau, gue bisa digulat sama dia!" Seketika wajah Alona berbinar mendengarnya.


"Serius, Bob??"


"Hmm!" sahutnya dengan deheman.


"Asyiiiik!!! Bobby memang teman yang terbaik!!" Alona kegirangan hingga tanpa sadar memeluk erat dada bidang Bobby.


Masih dengan tawa riangnya. Namun, tanpa sadar ia sudah membuat Jantung Bobby berdegub kencang. Seketika pria itu mendorong pelan Alona agar pelukan itu terlepas.


"Eh! Sorry! Gara-gara gue kelewat seneng!" Alona masih tertawa kecil hingga menyipitkan mata bulatnya.


"Ya udah! Buruan berangkat! Waktu kita gak banyak!"


"Yeaaayyy!!"


"Padahal sih gak seharusnya lu pulang ke rumah lu bareng gue??"


"Kenapa?"


"Harusnya, lu perginya bareng Arya! Karena dia pacar loe!"


"Ahh! Gakpapa! Loe juga kan teman gue! Lagian, gue pulang karena terlalu kangen sama keluarga gue."


"Ya sudah lah! Apa boleh buat!"

__ADS_1


Bagaimanakah pertemuan Bobby dengan keluarga Alona? Dan seperti apa tanggapan Arya saat mengetahui bahwa Bobby membawa Alona tanpa izin darinya? Dapatkah Arya menemukan lokasi mereka?


Simak kisahnya besok yaa ....


__ADS_2