
Arya sudah tiba di depan stadion miliknya. Namun, tiba-tiba sebuah panggilan masuk membuat langkahnya terhenti di ambang pintu.
Drrrttt! Drrrttt!
Klik!
"Halo!"
[Halo, selamat pagi, Presdir Arya!] sahut seseorang dari seberang telepon.
"Ya, ada apa?"
[Maaf, Pak. Sepertinya meeting hari ini harus dibatalkan]
"Apa? Ada masalah apa?"
[Kabarnya, keluarga Pak Brillian sedang berkabung, sehingga mereka memilih untuk tidak hadir]
"Lantas? Mereka membatalkan meeting ini dengan sepihak?!"
[Iya, Pak!]
"Kalau begitu, batalkan semua kontrak yang terlibat dengan perusahaan keluarga Brillian! Aku tak suka bekerjasama dengan pihak yang tak bisa profesional"
[Ta-tapi, Pak Presdir]
Tuuut! Tuuut!
Arya mematikan ponselnya.
"Ck Arrrhh! Kurang ajar! Beraninya mereka menganggap remeh Arya Pohan!" Pria itu berdecak kesal.
Kembali ia mengotak-atik ponsel. Hal yang biasa dilakukan Arya sebagai seorang bisnisman.
"Selamat pagi, Tuan Presdir! Jet sudah siap landing!"
"Batalkan!"
"Ta-tapi, Tuan!"
Baru saja langkahnya sampai di ambang pintu, segera Arya melangkah meninggalkan stadion saat mengetahui meeting tak lagi bisa di lanjutkan. Diiringi oleh beberapa pengawal khusus yang mengikutinya dari belakang.
"Ke mana kami akan mengantar anda, Tuan!"
"Tak perku! Aku pergi sendiri!"
"Tapi, Tuan! Berbahaya jika anda bepergian seorang diri!"
"Jangan khawatir, aku bisa menjaga diri!"
Arya kemudian melangkah mantap menuju halte pemberhentian bus. Dari sana ia menuggu busway yang akan melintas.
Sekitar lima menit, bus yang ditunggu tiba. Sebagian penumpang turun di jalur pemberhentian. Sementara yang menunggu masih terus mengantri hingga yang turun selesai.
Arya naik, jemarinya tak henti memainkan gawai di tangan. Ia kemudian duduk pada sebuah kursi kosong, dengan pandangan yang terus fokus ke layar ponsel.
__ADS_1
Hingga tak sengaja, salah seorang penumpang yang lewat menyenggol lengan Arya, membuat ponsel yang ia pegang jatuh tergeletak di lantai, tepat mengenai mata kaki salah satu penumpang wanita.
"Ah maaf!" tukas Arya.
Sang wanita kemudian meraih ponselnya dan langsung menyerahkan padanya. Namun, Arya terkejut begitu melihat penumpang wanita di hadapannya itu.
"Bimaa!" ucapnya. Nyaris membuat jantung Arya terhenti sejenak.
Deg!
"Eh! Jesica!"
"Wah, kebetulan banget ya, kita naik di bus yang sama!"
"Ahaha! Iya, jodoh kali yaa!" tukas Arya. Ucapannya membuat Jesica terkekeh.
"Lu ketawa sama siapa, Jes?" Mendadak Alona menyenggol lengan Jesica. Dan berhasil mengalihkan pandangan si wanita anggun itu.
Mendengar Jesica berbicara dengan menyebut nama Alona. Seketika mata arya membelalak.
"Gawat! Ternyata si pembuat onar ada dalam bus ini juga!" gumamnya dalam hati.
Malas berurusan dengan Alona, segera ia bangkit dan langsung bergegas menuju pintu bus. Keluar lalu berjalan dengan sedikit tergesa. Sementara, kedua gadis itu justru sibuk bercekcok.
"Apaan sih loe, Al. Main senggol-senggol aja!" sahutnya.
"Gue tanya, lu ngomong sama siapa? Gitu aja pake emosi!"
"Ih, ganggu gue aja lu! Ini nih, gue lagi ngomong sama Bima!" Jesica berbalik dan menunjuk ke arah penumpanh yang duduk di seberangnya.
Namun, seketika bola matanya membulat. Heran. Sang pria yang di maksud tiba-tiba menghilang.
"Loh! Tadi ada di sini, kok!"
"Kan! Kan! Bener kan! Lu mulai lagi kan, ngomong sendiri kayak orang gila!"
"Idih, sembarangan! Emang kapan lu penah lihat gue ngomong sendirian?!"
"Pernah kok! Dulu waktu elu kecil!"
"Ck! Waktu kecil lu jadiin alasan!"
"Heheh! Yang penting pernah kan!"
"Gue serius ini! Tadi gue lagi ngomong sama orang namanya Bima!"
"Iya gue percaya, orang dalam khayalan loe kan!"
"Ck! Serah lu deh kalo gak percaya!"
"Hehhehe! Marah niyeee?!"
"Kagaak!"
Buru-buru Jesica mengalihkah pandangan keluar bus yang sudah mulai bergerak.
__ADS_1
Benar saja, pria yang ia ketahui bernama Bima itu tengah berjalan menuju area pemberhentian bus, tempat sebelumnya si pria menunggu.
"Pak! Pak! Berenti, Pak!" Seketika Jesica memanggil si supir untuk menghentikan laju bus.
"Loh, mau ke mana, Jes?" Alona mengernyit saat tiba-tiba Jesica meminta sang supir berhenti.
"Ada yang mau gue urus. Lu duluan aja ya, ntar gue nyusul!"
"E-ta-ta-pi! Jes!" panggilnya. Wanita anggun itu tak lagi menyahut. Bergegas ia turun dan langsung membayar begitu bus benar-benar berhenti. Sedang Alona hanya bisa memandangnya yang mulai jauh dan semakin menjauh.
Kembali bus bergerak.
"Jesica kenapa sih!" gumamnya seraya menghempaskan punggung pada sandaran empuk dari kursi yang ia duduki. Diedarnya pandangan keluar. Tampak jalanan padat dengan kendaraan lalu lalang menghiasi aspal hitam.
Sejenak ia terdiam.
Hal yang terpikir dalam benak Alona hanyalah mengambil ponsel yang ia simpan dalam tas mungil. Mencari kontak bernama Jesica Lovlov pada panggilan terakhir. Namun, begitu hendak menekan tombol hijau untuk memanggil, mendadak perhatiannya teralihkan pada panggilan sebelumnya dengan nama Rentenir Mesum.
Seketika ia teringat akan hutang dan kontrak. Dan juga teringat akan isi dompet yang jika dibuka, mungkin hanya lalat yang keluar dari dalamnya.
"Astaga! Gue lupa kalo gue gak punya duit!" gumamnya.
"Pak! Pak! Berenti sini, Pak!"
Ban dari bus berdecit saat dipaksa berhenti mendadak.
Segera Alona berlari keluar bus.
"Eh, Neng, bayar dulu, Neng!"
tukas si supir. Alona tak mendengarkan. Lebih tepatnya, pura-pura tak mendengar.
"Sialan! Gue berasa udah kayak maling aja!" keluhnya saat langkah sudah semakin jauh dari bus. Ia pun berhenti berlari. Kedua lengan menopang pada persendian lutut.
Napasnya tersengal. Berusaha ia mengatur agar kembali stabil.
Gadis itu kemudian mencari sosok Jesica. Diedarnya pandangan.
"Ke mana tuh orang? Cepat banget ngilangnya!" gumamnya.
Sedetik kemudian tampak sosok Jesica berada dalam sebuah bus yang sedang melintas di hadapannya. Ia duduk dengan seorang pria di sebelahnya.
Seketika Alona kaget dan langsung mengejar bus itu.
"Jesicaa! Jesiiicaa!" Gadis itu berteriak sambil trus berlari. Namun, sahabatnya tak dapat mendengar. Bus itu kemudian semakin menjauh, membuat Alona menyerah dalam pengejaran.
"Fouuhh!" Kembali gadis itu tersengal. Disapunya keringat yang mulai membanjiri jidat mungilnya.
"Jesicaa! Lu tega banget sih ninggalin guee!" ungkap Alona dengan rasa sedih yang mulai menggerayunginya. "Mana gue gak pegang duit lagi! Huaaa!"
Sang gadis masih mematung untuk beberapa saat. Dengan langkah putus asa, ia berjalan yang entah ke mana akan melabuhkannya.
Hingga seketika ia teringat nomor kontak yang bernamakan Rentenir Mesum. "Oh iya, kenapa selama ini gue gak sadar sih! Bukannya dari kemarin gue nyariin dia! Apa sekarang gue telpon aja yaa!"
Alona mencoba menelpon. Namun, berkali-kali panggilan masuk itu gagal.
__ADS_1
Sementara di tempat lain ....
_________&&