Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Mencari Keberadaan Jesica


__ADS_3

Arya sudah kembali ke sofa setelah sebelumnya benar-benar menenggelamkan kepala ke dalam air di bak mandi. Ia ingin menyegarkan otaknya dari bayangan negatif yang menghantui isi kepalanya.


"Hufftt!! Entah kenapa, aku justru memiliki selera dengan gadis sepolos itu!" Ia menggumam sendiri. Direbahkannya tubuh ke atas sofa yang sudah lapuk di ruang tamu itu. Keras. Tulangnya bahkan seperti dapat menyentuh langsung busa sofa yang sudah menipis.


"Sofa seperti ini kenapa mereka belum mengganti yang baru sih!" Arya mengeluh, kembali duduk menepuk-nepuk bantalan sofa yang sama sekali tak memantul lagi. "Huh! kalau sudah sejelek ini sih harus di ganti. Besok aku harus memesankan yang baru!"


Kembali bayangannya teringat pada Alona. 'Alona, ternyata selama ini gadisku cukup menderita. Aku menyesal karena baru mengetahuinya sekarang!'


Drrtt!!


Drrtt!!


Ponsel Arya bergetar selama beberapa detik. Pria itu menoleh dan langsung menyambar ponsel yang ia letakkan sebelumnya ke atas meja itu. Ia tahu, pasti ada berita penting yang akan dikabarkan padanya saat menerima panggilan di jam subuh begini.


Klik!


"Halo?!"


Tuan!! Gawat, Tuan!!


"Gawat?? Apa maksudmu??"


Sepertinya keluarga wanita ini menelpon polisi!


Degg!!


"Lalu, jangan bilang kau tak mampu mengatasi masalah sepele begini??"


Maaf, Tuan!!


"Apa maksudmu dengan minta maaf??"


Kami sempat kesusahan saat mengejar gadis ini, dia bersembunyi, jadi pencariannya sedikit memakan waktu, polisi juga datang lebih awal!


"Apa? Lalu, apa kalian tertangkap?"


Tidak! Rekan kami yang lainnya sudah berhasil pergi dengan mobil untuk menghilangkan jejak agar tidak tertangkap! Tapi ....

__ADS_1


"Tapi, apa??"


Saya dan gadis ini terjebak di balik bak sampah. Tadi saya memang menemukannya bersembunyi di sini. Dan sekarang kami belum bisa pergi karena tim kepolisian masih mengepung area ini!


"Bagaimana keadaan gadis itu??"


Dia masih pingsan setelah sebelumnya saya beri obat bius!


"Bagus! Tunggu aku di sana! Aku yang akan menangani para polisi itu dan menjemputmu! Kau hanya perlu memastikan agar para polisi itu tidak menemukanmu bersama gadis itu! Mengerti?"


Baik, Tuan! Saya mengerti!


"Oke! Aku segera ke sana!"


Tut!


Tut!


Tut!


Buru-buru ia melangkah menuju mobil yang sebelumnya terparkir di halaman rumah Alona. Masuk dan langsung menyalakannya. Tak ada waktu untuk berlama-lama, Arya langsung tancap gas begitu lengannya sudah merekat di atas setiran mobil.


Bruum!


Bruum!


Malam itu ia melajukan dengan kecepatan tinggi. Dan hanya mengandalkan lokasi GPS yang aktif sebagai petunjuk dalam pencariannya.


Lokasi titik yang dituju mulai berkedut dengan warna merah. Menandakan bahwa Arya sudah semakin dekat dengan lokasi persembunyian anak buahnya itu.


Di depan sejarak sepuluh meter, Arya bahkan sudah melihat beberapa polisi memadati area itu. Salah satu polisi bahkan melambaikan lampu rambu-rambu di tangannya sebagai kode untuk memperlambat laju kendaraan Arya.


"Permisi, Pak! Maaf, anda harus memutar arah karena jalur ini untuk sementara kami tutup!"


"Ckk!" Arya berdecak kesal. 'Polisi ini menghambatku!'


"Boleh tunjukkan kartu identitas anda?"

__ADS_1


Arya meraih kartu identitas dari dalam dompetnya. Menyerahkannya pada polisi yang berjaga itu. Dan seketika itu mata sang polisi terbelalak.


"Maaf, sudah menghentikan anda, Presdir Arya! Izinkan saya memeriksa kendaraan anda?"


Saat itu Arya tak punya banyak pilihan selain menuruti perintah si polisi. Sengaja, ia tak ingin membuat para polisi itu memcium bau yang mencurigakan jika membantah.


Selesai. Mereka tak menemukan apa pun yang kiranya dapat di curigai. Polisi itu kemudian menyerahkan kembali kartu identitas Arya.


"Maaf sudah menahan anda, Pak Arya. Silahkan lewat!" Ia langsung membuka jalan untuk Arya setelah memastikan Arya tak menyimpan benda apapun yang kiranya mencurigakan yang tersimpan dalam kendaraan.


Segera Arya menjalankan mobilnya meski kini harus sedikit lamban. Matanya mengedar ke sekitar. mencari sosok anak buahnya dan Jesica si gadis tawanan. Lokasi peta GPS dalam ponselnya menunjukkan ia sudah berada tepat di tempat yang semestinya.


'Di mana mereka? Ahh! Para polisi ini terlalu banyak. Aku jadi sulit bergerak, mereka tak boleh mencurigai gerak-gerikku! Sepertinya aku harus lebih hati-hati.'


Arya masih terus menjalankan kendaraannya meski hanya dengan kecepatan stabil. Tapi titik merah dalam GPS-nya terlihat bergerak mendekat. Membuat Arya semakin kelimpungan saat mengedarkan pandangan, mencari tanda-tanda keberadaan mereka. Tak ada tanda-tanda anak buhanya dan Jesica. Hanya terlihat seorang pemulung dengan topi lusuh dan handuk yang melingkar di lehernya.


Pemulung itu mengangkat kepala, membuat sepasang matanya beradu tatap demgan sepasang mata Arya. Wajah si pemulung tak terlihat asing. Bahkan sangat femiliar. Seketika Arya tersenyum getir. 'Sudah kuduga! Kau memang selalu bisa dinandalkan!' Gumamnya.


Kembali Arya menutup rapat kaca mobil. Kini rasa khawatirnya mulai memudar. Ia kemudian menjalankan mobilnya sejauh satu kilo. Berhenti tepat di tempat yang sunyi dan jauh dari keramaian. Menunggu sang pemulung dengan gerobaknya menuju tempat pemberhentiannya.


Hanya butuh waktu beberapa menit. Pria dengan pakaian pemulung itu sudah berhasil memarkirkan gerobaknya tepat di samping motor Arya.


"Apa mereka mencurigaimu??"


"Tidak, Tuan?"


"Di mana tawanan wanita itu?"


"Ada dalam gerobak ini, Tuan?"


"Apa mereka, para polisi itu tidak memeriksamu?"


Mereka memeriksa, Tuan! Hanya saja, saya sempat menyembunyikan tubuh wanita ke dalam balutan karung dan meletakkannya ke bak sampah! Setelah para polisi itu pergi, baru saya memungutnya kembali."


"Kerja bagus! Letakkan gadis itu ke dalam mobil!"


"Baik, Tuan!"

__ADS_1


__ADS_2