
Mobil itu akhirnya berhenti di bawah pohon rindang setelah memakan waktu yang cukup lama. Ya, Kurang lebih dua jam barulah mereka tiba di tempat kelahiran Alona. Tempat yang terbilang pelosok itu membuat Bobby sedikit mengeluh karena ternyata rumah Alona cukup jauh.
"Duh! Kalau tau rumahnya sejauh ini sih, mending tadi gue nolak permintaannya! Agghhh!" Pria itu terlihat menggerutu. Kesal.
Segera setelah sampai, Alona langsung turun dan berlari menuju pintu rumahnya.
"Huh! Seperti anak kecil yang gak ketemu setahun aja!" Kembali pria itu bergumam merutuki Alona.
"Emaaak! Aku pulang!" Panggilnya yang masih berdiri di depan pintu menunggu seseorang membukanya. Sedang Bobby terlihat berjalan pelan mendekat ke arah rumah itu.
'Jadi ini rumah Alona! Benar-benar sederhana!' Bergumam seraya mengedarkan pandangan ke sekitar halaman. Lalu terdengar suara seseorang membuka pintu. Seorang wanita paruh baya langsung menjadi sorotan Bobby. Wanita tua itu terlihat sedikit menggerutu.
"Alona?? Kenapa baru pulang sekarang? Katanya libur sebulan, ini sudah lebih beberapa hari. Mana gak ada ngehubungi. Emak sama adikmu sampai khawatir!"
"Benarkah? Emak sama Adik sampai Khawatir? Duuh, maafin Alona ya, Mak. Sinyal di sana kurang bagus, jadi susah mau ngehubungi! Oh iya, mana adik Qeya?"
"Ah! Biasa! Anak itu selalu pulang terlambat! Biasa dia selalu main game online di warnet! Kelakuannya udah kayak anak lelaki aja! Ahh! Yang penting sekarang Anak Emak sudah pulang!" Wanita tua itu tersenyum ramah, mengelus rambut hitam Alona. "Lah, ini siapa?" Menunjuk ke arah Bobby yang sudah semakin dekat.
"Ehh!!"
"Pacar kamu yaa? Wahh, ganteng sekali pacarmu, Nak!"
"Ah, itu, dia buk...."
"Sudah, jangan malu-malu sama Emak!" tukasnya memutus ucapan Alona. "Siapa namamu, Nak?" Bertanya pada Bobby.
"Saya, Bobby tante!"
"Ahh! Sopan sekali anak ini! Sudah ganteng, sopan lagi! Oh iya, jangan panggil tante, panggil Emak aja! Kan juga calon mertua!"
"Ehh!" Bobby sampai tertegun mendengarnya. "Ayo masuk, Nak!" Mengajak paksa dengan menarik lengan Bobby. Pria itu tak dapat membantah, dan terpaksa mengikuti langkah ibu Alona menuju bagian dalam ruang tamu.
Bobby bahkan terus melirik ke arah Alona saat memasuki rumah. Terlihat jelas wajah Alona yang seperti menggerutu tapi tak menimbulkan suara. Seakan berkata, ikuti saja!
"Maak! Sebenarnya laki-laki ini bukan ...."
"Sudah!! Kamu ini banyak omong! Cepat bikinkan minum dulu sana! Ada tamu kok gak dijamu!"
"Isshhh! Tapi, Mak! Dengerin dulu ...."
"Ahhh kamu ini! Gak ada tapi-tapian!" Suara ibu Alona terdengar sedikit memaki.
"Iyee, iyee!" sahut sang gadis mengalah. Lesu. Gadis yang baru pulang itu terpaksa harus langsung menuju dapur.
"Duduk di sini dulu, Nak!" Ibu Alona menepuk kursi sofa yang sudah terlihat lapuk termakan usia. Namun, masih sedikit empuk saat diduduki. "Wahh, Nak Bobby ini ganteng sekali yaa!" Kedua lengan sang ibu sampai menempel di dagu saat memuji.
"Ahaha! Biasa aja, Tante! Tapi terima kasih sanjungannya!"
"Ahh! Gak perlu berterima kasih! Ibu juga bicara apa adanya. Emang ganteng, gimana?"
"Ahaha! Tante juga cantik loh!"
__ADS_1
"Aaahhh! Masa sihhh! Kamu ini, Nak! Bisa saja bikin ibu salah tingkah! Oh iya, ngomong-ngomong, Nak Bobby ini kerja di mana?"
"Saya kerja di GCK grup!"
"Karyawan juga ya? Sama kayak Alona?"
"Aahh! Emm .. iya!" Bobby tampak ragu diawal. Namun, akhirnya mengiyakan juga.
"Dia Direktur, Mak!" sahut Alona dari dapur.
"Oh Direktur ya! Astaga! Aduh maafin kelakuan Emak ya! Aduuh bagaimana ini!"
"Gak perlu panik, Tante! Biasa aja! Dikantor memang saya Direktur! Tapi kalau di luar, saya hanya pria biasa!"
"Ya ampuuun! Sudah ganteng! Berkelas! Gak sombong lagi! Gak salah lagi, Alona memang paling pandai memilih calon mantu buat Emak! Duuh! Ternyata ada juga yang mau sama anak Emak itu! Selama ini Emak pikir dia selalu menjomblo!"
"Oh ya?? Benarkah, Tante??" ucapan wanita paruh baya itu membuat Bobby terkekeh pelan.
"Emaaaak!" teriak Alona dari dalam.
"Gak usah teriak! Fokus bikin minum aja sana!" Bukannya berhenti mengintrogasi Bobby, Alona justru mendapat makian dari ibunya.
"Iyaa! Sebelumnya anak itu terlalu tomboy! Sampai-sampai gak ada laki-laki yang berani dekatin dia!" Bobby sampai terbahak mendengar penuturan ibunya yang kedua itu.
"Tuh kan! Nak Bobby aja sampai ketawa! Eh tapi, kalo boleh tau, apa yang bikin Nak Bobby tertarik sama Alona sampai mau menerima anak Emak Itu?"
"Ah! Alona yaa!" Pandangan Bobby tertuju ke dapur. Terlihat sedikit melamun, sedetik kemudian kembali tersadar. "Maaf, Tante, tapi sebenarnya .. saya bukan pacar Alona!"
"Ehh! Bukan yaa?!" Mata sang ibu sedikit terperangah. Terkejut mendengar pengakuan Bobby.
"Eh, begitu yaa?!" ucapnya yang kini menutup mulut dengan satu tangan.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketukan pintu itu berhasil membuat Bobby dan ibu Alona menoleh bersamaan.
Deg!!
Ibu Alona bahkan sampai terkejut dengan tamu yang datang kali ini.
"Si-siapa ya?" tanya ibunya sedikit ragu. "Nak Bobby, siapa mereka? Apa mereka pengawal Nak Bobby??"
"Ehh!!" Bobby terkejut mendengar pertanyaan dari ibu Alona. "Bukan!"
Pria yang berdiri di depan pintu bersama segenap pengawal itu menatap tajam ke arah Bobby. Selang beberapa saat Alona sudah keluar dari ruang dapur. Terlihat membawa sebuah nampan dengan satu buah ceret dan dua gelas di atasnya. Seketika matanya terbelalak mendapati Arya yang berdiri di ambang pintu.
"Bima?? Lu kapan datangnya?" Gadis itu sedikit terperangah. Juga nadanya terdengar ragu. 'Kacau! Kacau semuanya!'
__ADS_1
"Baru juga sampai, Sayang!"
"Eh! Apa?? Sayang?? Wah pria ini gak sopan sekali! Baru datang langsung panggil sayang- sayangan!!" Geram. Ibu Alona berbicara sedikit kasar. Lebih tepatnya memaki.
"Mak! Pelankan suara Emak!" Alona mendesah pelan.
"Memangnya kenapa! Di sini bahkan ada seorang direktur, tapi sifat orang yang di sana itu, sangat tidak sopan! Dari pakaian dan wajah saja terlihat sombong!"
"Maaf, Tante! Tapi dia itu bos saya!" Seketika Ibu Alona terbelalak mendengarnya. Tak percaya dengan apa yang baru diucapkan Bobby.
"Perkenalkan, saya Arya, CEO dari GCK grup!" Wajah sang ibu semakin tercengang saja mendengarnya. Sedang tangan Arya tak berbalas sambutan dari ibu Alona.
"Ada apa ini?" Raut panik mulai menghias di wajah keriput itu. Segera ia berbalik badan menghampiri putrinya.
"Bima, masuk aja dulu, ya! Gue siapkan minum lagi!" Alona terlihat sedikit gugup saat meminta Arya menunggu di ruang tamu bersama Bobby. Pria itu tersenyum ramah ke arah sang gadis.
Cepat-cepat ibunya menarik Alona menuju dapur. "Alona, apa yang terjadi? Kenapa orang-orang penting itu ada di sini??"
"Tenang dulu, Mak! Jangan panik!"
"Gimana gak panik! Mereka itu orang-orang berderajat. Kenapa bisa punya hubungan dengan kamu??!"
"Mak, plis! Dengerin Alona dulu!"
"Nak! Pokoknya Emak gak setuju kalo kamu berhubungan dengan mereka!"
"Tapi kenapa, Mak?"
"Kita ini orang rendah, Alona! Mereka bisa dengan mudah menginjak-injak kita! Jangan mau berhubungan dengan mereka. Apalagi pria yang manggil kamu dengan sebutan sayang tadi!"
"Namanya Arya, Mak! Dia orang terpandang!"
"Justru itu, Nak! Dari matanya Emak gak lihat adanya kehangatan! Lihat aja cara dia menatap. Matanya menunjukkan kalo dia laki-laki yang dingin. Orang-orang seperti mereka itu terbiasa bertindak sesukanya!"
"Tapi Mak! Arya gak begitu! Alona tau! Lagian, laki-laki itu mencintai Alona! Dan kami akan segera menikah!"
"A-apaa??" Hanya mendengar penuturan Alona saja sudah membuat Ibunya menjadi lemas.
"Mak! Mak! Mak gakpapa??" Gadis itu berusaha menopang tubuh ibunya yang nyaris pingsan.
"Nak, ingatlah pesan Emak! Kelak jangan menyesal jika kamu sudah terjerat dalam rantainya orang itu!"
"Emak ngomong apa sih?! Siapa yang ngejerat Alona?! Gak akan ada, Mak!"
"Nak! Pikirkanlah matang-matang sebelum memutuskan untuk menikah! Hidup dilingkungan keluarga kaya itu gak akan mudah!"
"Tenang, Mak! Alona bisa mengatasinya, kok!" Mata sang ibu terlihat berair. Ia menyekanya pelan dengan satu tangan.
"Maakk??" Sendu Alona menatap ibunya.
"Cepat keluar, Nak! Jangan biarkan mereka diluar tanpa tuan rumah. Itu tidak sopan!"
__ADS_1
"Hmm!" Alona mengangguk pelan. Memperhatikan punggung ibunya yang bangkit dengan sedikit terhuyung menuju ruang kamar. Menarik napas panjang sebelum akhirnya menghembus dengan kasar.
Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa mampir bagi komentar dan vote yaa! Next kita sambung besok! Love you all ....