
Alona dan Bobby mulai melangkah bersama menuju parkiran Rumah Sakit. Setibanya, beberapa bodyguard sudah terlihat menunggu. Pun dengan seorang supir yang terlihat standby di kursi kemudi.
Sang supir bangkit dan membuka pintu mobil saat menyadari dua orang terhormat sudah kembali. Dan langsung mempersilahkan mereka masuk ke kursi belakang.
"Di mana alamat rumah loe?" tanya Bobby pada Alona, masih dengan nada dingin.
"Sini, berikan HP loe! Biar mudah, gue tunjukkin alamatnya lewat aplikasi GPS!"
"Kenapa harus HP gue?! Lu kan punya HP sendiri!"
"Lu lupa ya? HP gue kan lowbat!"
Bobby terlihat sedikit berdecak mengeluarkan ponselnya kemudian memberikan pada Alona. Gadis itu sedikit terpana menatap handphone mahal yang kini merekat di atas jemarinya. Lalu tanpa menunggu lama, mengetik alamat rumahnya pada aplikasi GPS dalam ponsel Bobby.
"Sudah!" Menyerahkan kembali ponsel itu ke tangan Bobby.
"Kenapa ngasih ke gue?"
"Emang ke siapa lagi?"
"Kasih ke supir!" Menunjuk ke arah supir dengan bibir. Supir yang di tunjuk hanya dapat mengembangkan senyuman kikuk, seraya mengangguk saat menatap Alona dari kaca spion depan. Alona membalas anggukannya, lalu menyunggingkan bibirnya ke arah Bobby sebelum akhirnya memberikan ponsel itu ke supir di depannya.
"Tolong antar kami ke alamat itu!" perintah Bobby yang langsung disambut dengan anggukan oleh sang supir.
Mobil kini melaju pelan. Seirama dengan suasana yang mulai terasa hening di sepanjang jalan. Ya, Bobby dan Alona memilih diam. Sikap dingin Bobby membuat Alona merasa canggung untuk mengajak bicara. Padahal sebelumnya gadis itu tak pernah sekikuk ini.
"Apa Arya ada menghubungi elo?" Tiba-tiba saja pria di samping Alona itu berbicara.
"Ehh!" Alona tersentak kaget. "Lu bicara sama gue?"
"Sama siapa lagi?"
"Huh!" Respon Alona terlihat kesal dengan nada bicara Bobby. "Gak tau! Sedari tadi kan hp gue lowbat!" Ketus. Kembali keduanya hening.
"Pak! Bisa berhenti di sini?"
Alona dan sang supir terkejut mendengar permintaan Bobby. Gadis itu spontan menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
"Ah, iya, baik!" Segera sang supir menepikan kendaraan yang ia kemudikan. Menoleh ke arah Bobby. "Ada apa, Pak?"
"Maaf, tapi Bapak turun di sini saja! Saya ingin mengendarakan sendiri mobil ini!"
Meski sedikit ragu, tapi sang supir tak dapat membantah perintah. "Ah iya! Baik, Pak!" sahutnya dan segera turun dari area kemudi. Bobby langsung menggantikan posisi sang supir untuk selanjutnya mengemudikan sendiri. "Bapak ikut sama para bodyguard saja, ya!"
__ADS_1
Sang supir mengangguk dengan menundukkan kepala.
"Alona! Sini, pindah ke depan!" ajaknya. Tak banyak kata, gadis itu menurut dengan permintaan Bobby. Sedang dalam hati sedikit menggerutu. 'Bobby kenapa ya? Sikapnya hari ini rada aneh!'
Pria itu kemudian menutup rapat kaca mobil. Dan mulai menjalankan mobil yang isinya hanya ada mereka berdua.
'Bobby kenapa sih??' batin Alona semakin menerka-nerka. "Bob, kok lu tega nurunin pak supir begitu aja? Dan kenapa kita cuma berdua?"
"Ck! Cuma nurunin doang kenapa harus gak tega! Lagian dia bisa ikut pengawal." tuturnya tanpa menatap. "Gue nurunin pak supir karena ada hal penting yang mau gue bicarakan sama loe!"
Gadis itu menoleh dengan tatapan tajam penuh tanya. "Hal penting? Apaan??"
"Gue mau tanya, apa lu yakin dengan keputusan loe menerima lamaran Arya??"
Deg!!
Penuturan Bobby berhasil membuat Alona terkejut. Bahkan menimbulkan raut tak percaya di wajah Alona. Gadis itu mengernyit. "Maksudnya??"
"Apa loe tau Arya itu pria yang seperti apa? Dan apa profesinya selain CEO pendiri perusahaan?"
"Gu-gue sih .. memang gak tau! Tapi, apa maksud loe dengan menanyakan hal ini?"
"Gue mau memperingatkan elo!"
"Sekarang gue mau ngasih elo kesempatan yang hanya berlaku satu kali! Jadi tolong pertimbangkan penawaran yang mau gue sampaikan ini!"
Netra Alona terlihat membulat. Bingung dan penasaran kini bercampur aduk. Penawaran apa yang ingin disampaikan Bobby? Jika dilihat dari rautnya, pria itu terlihat serius.
"Penawaran apaa??"
"Kalo loe keberatan dengan lamaran Arya. Gue bisa bantu loe untuk terbebas dari kehidupannya!"
Deg!!
"Gue akan belikan tiket keluar negeri. Juga bakal menyediakan rumah untuk loe dan keluarga di sana. Soal keuangan juga gak perlu lu pikirkan. Gue beri pekerjaan yang gajinya lebih dari cukup."
"Bobby! Apa maksud loe dengan mengatakan semua ini? Apa loe cemburu sampai mau mengkhianati Arya??"
"Alona! Ini bukan masalah cemburu dan pengkhianatan! Tapi ini masalah takdir loe kedepannya! Apa loe tau julukan yang degelarkan untuk Arya?"
Alona tak menjawab. Hanya terlihat memasang wajah penasaran.
"Dia dijuluki serigala! Dan apa loe tau apa artinya itu? Mungkin sekarang sikapnya hangat! Tapi jika suatu saat lu terkena masalah, lu gak bisa keluar dari kehidupannya. Mengemis sekalipun gak akan bisa! Bahkan, keluar dalam keadaan cacat pun juga gak akan bisa! Jadi gue tekankan sama loe sekali lagi! Apa loe serius mau menikah dengan Arya??"
__ADS_1
Deg!!
"Apa loe serius dengan pernyataan loe ini??"
"Yaa!!"
Alona terdiam. Tangannya menggenggam erat pakaian yang ia kenakan. 'Benarkah aku akan masuk dalam kehidupan mengerikan seperti yang dibilang Bobby?'
"Gue melakukan hal ini hanya semata karena gue peduli sama loe!"
Alona terlihat berat menelan saliva."Apakah setelah menikah Arya langsung bersikap dingin sama gue??"
"Tergantung!"
Gadis itu menoleh dengan mata yang nyaris terbelalak.
"Jika selama pernikahan loe gak menimbulkan masalah! Gue rasa akan baik-baik aja!"
"Bobby! Apa omongan lu bisa gue percaya? Gue rasa lu cuma mengarang!"
Deg!!
Kini berbalik jantung Bobby yang terasa berhenti berdetak. Pernyataan Alona benar-benar menusuk. Maksud loe?? Jadi loe mengira gue mengatakan ini semua karena cemburu??"
"Iyaa!!"
"Apa itu artinya, loe menolak tawaran gue??"
"Ya!!"
"Oke! Seperti yang gue bilang, tawaran ini hanya berlaku satu kali. Dan karena loe sudah menolak tanpa memikirkannya, gue putuskan untuk menarik tawaran gue!"
"Ya! Gak masalah! Arya adalah pria yang mencintai gue. Jadi gue rasa, dia gak akan berbuat hal seperti itu sama gue!"
"Oke! Gue harap loe gak akan memohon sama gue jika kelak terjadi masalah dalam kehidupan loe. Karena gue gak akan ikut campur jika loe sudah sah menjadi milik Arya!"
"Iya, gue pastikan gak akan memohon sama loe!"
'Semoga loe setangguh itu saat mengalami kesulitan, Alona!'
Sepanjang jalan, keduanya hening. Bahkan Alona yang biasa tak pernah berhenti merocok kini sudah mulai kehabisan kata yang bisa dijadikan bahan cerita. Selain itu, juga karena faktor sikap Bobby yang kini sudah berubah dingin terhadap Alona juga menjadi penyebabnya.
'Duh! Yang di samping gue ini, manusia apa kulkas sih? Dingin banget, jadi berasa dikutub utara gue!'
__ADS_1