
"Apa yang udah loe lakuin, Bob?" Pertanyaan dengan nada dingin itu menghujam Bobby, tapi pria bernama Bobby tetap terlihat santai. Menuang air yang sebelumnya dibuatkan Alona untuknya. Sebuah ponsel genggam yang baru saja digunakan tak luput ia letakkan ke atas meja.
"Apa lagi? Gue cuma ngantar Alona! Dia bilang kangen keluarganya!" tuturnya, menyeruput cofee moca yang sudah dituang ke dalam gelas tadi.
"Kalau begitu, kenapa gak ngangkat telepon gue?"
"Telepon??"
Layar ponsel Bobby seketika menyala. Sebuah panggilan masuk mengalihkan pandangan Bobby dan Arya. Ponsel itu tidak bergetar begitupun dengan nada panggilan yang juga tidak berdering. Hening. Hanya layarnya yang terlihat menyala.
"Lu lihat sendiri kan, Sob! Gue tadi gak sengaja aktifkan mode silent! Jadi gue gak tau kalo lu nelpon!" Meski sudah memberi alasan, tetap saja rona merah padam masih menghias di wajah Arya.
Segera Bobby meraih ponselnya untuk menjawab panggilan masuk itu. Menekan ikon hijau untuk mengangkat panggilan yang datang dari dunia bisnis.
Berbicara hingga beberapa menit lalu kembali meletakkannya ke atas meja, setelah sebelumnya kembali mengaktifkan mode dering.
"Bobby! Jangan menutup-nutupi sesuatu dari gue!"
"Hmm?" Bobby mengernyitkan alisnya. "Maksud loe? Menutupi dari apa?"
"Apa lu mencoba merebut Alona dari gue?"
"Merebut Alona? Cih!" tawa Bobby terdengar geli. "Apa menurut loe gue tega berbuat hal itu sama bos gue?"
"Gue mempercayai loe seratus persen untuk mengurus bisnis! Tapi gak untuk urusan wanita! Gue tau lu masih menyimpan perasaan terhadap Alona, iya kan?!"
"Ya, lu emang bener soal perasaan gue itu! sebenarnya gue pengen ngerebut Alona kalo gue bisa! Tapi, dibilang merebut kayaknya kurang pantas. Bukannya kalian belum punya hubungan apa-apa?"
Wajah Arya terlihat geram. Tangannya mengepal. "Bobby! Lu mau ngajak gue gulat yaa!! Kita lakukan nanti saat kembali ke mainland palace!"
"Hahaha! Arya lu kayaknya terbawa emosi!" Bobby masih dengan santainya tertawa seperti tak berbuat salah. "Yah .. seperti yang loe tau, Alona hanya memandang elo sebagai laki-laki. Sementara gue, dia hanya memandang sebagai teman! Andai kata keadaannya terbalik, gue gak akan memungkirinya kok, gue pasti akan perjuangkan Alona. Karena dia memang gadis yang berbeda."
"Ckk!! Pembualan! Loe gak berusaha meracuni pikirannya kan? Karena gue tau, lu bisa berbuat licik demi mendapatkan wanita yang loe suka."
"Hahaha! Bukannya bagus kalo gue melakukannya, itu akan jadi bukti kalo wanita itu benar-benar serius sama loe, dia gak hanya akan memandang sisi baik loe, tapi juga menerima apa pun resikonya jika bersama loe!"
__ADS_1
"Memangnya apa yang sudah lu bilang sama dia? Apa lu mengatakan sesuatu yang buruk tentang gue?"
"Hmm, lu tanya sendiri aja deh sama orangnya!"
"Berhenti bercandanya! Sepertinya sekarang anda mulai meremehkan saya, Pak Direktur!! Hmm .. kalo sudah begini, mau gimana lagi, apa menurut anda, aku tarik saja kembali saham yang sudah kuatas namakan pada anda?" Hanya itu satu-satunya cara untuk mengancam sahabatnya itu. Walau sebenarnya Arya taj benar-benar berniat menarik kembali saham yang sudah ia berikan. Kini Arya mulai tertawa, memasang wajah penuh seringai. Seakan permainan debat sedang dimulai. Ia begitu yakin, dengan kekuasaan, dirinya akan dengan mudah jadi pemenangnya.
"Maafkan saya, Pak Presdir. Saya mengaku salah! Tolong jangan cabut hak saham yang sudah anda berikan."
'Tuh kan, benar! Kalau sudah begini, lu akhirnya mengaku!' gumam Arya dalam hati. "Bagus! Jadi .. apa sekarang lu mau memgakui semuanya?"
"Ahh! Sebenarnya .. saya cuma mengetes Alona dengan sedikit pertanyaan! Saya mau lihat seberapa tangguhnya dia, agar kelak dia gak terkejut jika sudah menjadi nona besar!"
"Apa maksud anda? Apa anda mau bilang kalau keluargaku kejam dan akan menyiksanya?"
"Bukan begitu, Pak Presdir!" Bobby terlihat gugup. Biar sedekat apapun bersahabatan mereka, sekali bos tetaplah bos. Ada kalanya Bobby harus menundukkan kepala. Ia mulai melanjutkan bicaranya. "Anda tau sendiri bukan? Alona itu gadis biasa! Mungkin anda bisa terima semua kekurangan dan kelebihannya. Tapi bagaimana dengan keluarga anda?"
"Beraninya anda mencoba mengurusi kehidupan pribadi saya! Bukankah, semua itu belum berjalan? Mengapa anda begitu mencemaskannya?!"
"Maaf, saya mengatakan ini, karena saya peduli pada Alona!"
"Saya benar-benar minta maaf!"
"Apa anda juga menyebutkan identitasku yang sebenarnya??"
Deg!!
"Soal itu! Saya gak mungkin katakan pada Alona."
"Oke! Kali ini, Bosmu akan maafkanmu, tapi kalau sampai aku mendengar anda menyebutkan identitas rahasiaku, aku pastikan gak akan memaafkan anda, Pak Direktur!"
"Iya, saya ngerti, Pak Presdir! Saya tidak akan mengulanginya."
"Oke! Kalau begitu, tetaplah terlihat santai. Jangan sampai Alona mencium bau perbincangan panas kita!"
Bobby hanya berani mengangguk tanpa kembali berucap. Karena sekarang nada bicara Arya benar-benar terdengar serius. Itu artinya, tak boleh ada sepenggal kata pun yang bernada seperti bercanda.
__ADS_1
"Ada satu hal lagi yang ingin saya tanyakan!" ungkap Bobby masih dengan wajah sedikit menunduk.
"Hmm, tanyakan saja!"
"Apa mungkin suatu saat anda akan bersikap dingin terhadap Alona jika tiba-tiba gadis itu mendapat masalah besar?"
"Alona adalah wanita yang aku cintai! Aku Arya, gak akan pernah melakukan hal itu padanya!"
Bobby kini terlihat diam.
"Apa masih ada lagi pertanyaanmu, Pak Direktur?"
"Apa anda bisa untuk selalu memberikan kehangatan padanya?"
"Ck! Banyak sekali pertanyaan anda! Hmm, sepertinya itu pertanyaan konyol! Tentu saja aku bisa! Apa yang tidak kubisa? Bahkan untuk membelikannya sepuluh istana pun aku pasti bisa!"
Kriiing!
Ponsel Bobby kembali berdering. "Maaf, saya harus menjawab panggilan telepon."
"Silahkan!"
Klik!
[Halo]
[....]
[Maaf, aku kurang bisa mendengarmu! Sinyal di sini kurang baik]
[....]
[Tunggu sebentar, aku akan mencari tempat yang terdapat banyak sinyal]
Bobby kemudian beranjak dari tempat sebelumnya ia duduki. Menuju area halaman rumah.
__ADS_1