Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Berbelanja baju


__ADS_3

Alona memasuki area perbelanjaan bersama Arya dan Bobby dari parkiran khusus VVIP. Mereka memasuki satu buah ruang khusus yang mana terdapat beberapa pasilitas penunjang. Mulai dari pelayanan spesial, fasilitas yang serba lengkap, hingga lift yang langsung menembus area pusat perbelanjaan mall.


Gadis itu sampai tercengang menyaksikan sesuatu yang bahkan tak pernah terpikirkan sebelumnya. Berada di ruang khusus hingga mendapat pelayanan spesial hanya pernah tersirat dalam mimpi. Tak pernah terpikir akan menjadi nyata dalam kehidupan normalnya.


"Bima, cubit gue dong!" pintanya masih dengan ekpsresi tercengang yang nyaris lepas kendali.


"Boleh! Sebelah mana??" Bisikan itu mendarat di sela daun telinga Alona.


"Ehhh??" Mendadak sang gadis tersadar. Menoleh. Tatapan Alona nyaris membulat.


"Lu bilang mau minta cibut!" bisiknya pelan, diiringi sedikit tawa kecil. "Gue tanya sebelah mana?"


"Ah, itu ... gak jadi!" tawa Alona terdengar canggung.


"Oh, kirain jadi minta cubitnya. Asalkan permintaan itu datangnya dari Alona, jangankan minta cubit, minta cium pun boleh kok!" Kembali bisikan itu menyelam dalam gendang pendengaran Alona, bahkan kali ini terdengar sedikit meledek.


Hati sang gadis nyaris meledak mendengarnya. Tak hanya satu kali, sudah puluhan kali Arya menggodanya dengan menyebut kata cium. 'Dasar mesum! Dia pikir gue cewek murahan! Agghhh! Sebeeel.'


Selain mendumal dalam hati, tak ada yang dapat ia perbuat lagi. Bahkan ia hanya bisa memasang raut masam tanpa berkata-kata, sebab saat ini ia berada dalam lingkaran kekuasaan Arya. Ekspresi sang pria terlihat sangat puas hingga membuatnya terkekeh pelan.


'Ngeledek terus loe ya! Awas loe! Tunggu aja bila waktunya tiba, saat hanya ada kita berdua!' Hanya batin Alona yang dapat menggerutu. 'Eh, bentar! Kenapa gue sampai mikir gini? Berdua doang? Bukankah itu artinya kode sinyal bahaya! Ahhh, bodoh banget sih pikiran gue!'


Arya kemudian memanggil dua orang pelayan yang sedari tadi berjejer siap menerima perintah.


"Tolong bantu gadis ini memilih pakaian yang sekiranya cocok untuk di kenakan dalam acara pesta besar!"


"Baik! Siap, Tuan!"


"Pilihkan yang paling mewah dan mahal. Tapi jangan yang terlalu mencolok!"


Ucapan Arya membuat Alona menggerutu dalam hati. Kesal.


'Apa? Kenapa Arya memperlakukan gue seperti ini? Memangnya dia pikir gue boneka manekin apa? Kalo soal memilih baju, kan gue punya selera sendiri! Ahhh! Semakin seenaknya aja dia!'


"Baik, Tuan! Apa ada perintah lain?"


"Tidak! Itu saja!"

__ADS_1


"Baik!" Kedua pelayan itu mengangguk paham. "Mar ikut kami, Nona Muda!"


"Ah, iyaa!" Alona mengiyakan untuk mengikuti ajakan mereka. Hingga lima langkah ia berjalan, mendadak kakinya berhenti sejenak. Berbalik wajah menatap pria yang kini berada di belakangnya. Terlihat Arya yang tersenyum tulus seraya melambai, mengisyaratkan agar Alona lebih bersantai dan tak melulu tegang. Raut Bobby juga terpancar jelas. Pria yang berdiri di samping Arya itu terlihat sendu, wajahnya lebih mirip tumpukan baju yang menggunung yang belum disetrika.


*****


Jesica meringis di sudut kamarnya.


Isakan tangisnya terdengar jelas ke setiap sudut dalam rumah minimalis itu hingga mengundang kehadiran ayah Jesica ke dalam kamar Jesica.


Tok!


Tok!


Tok!


"Jesica? Apa kamu baik-baik aja, Nak?"


Suara isakan tangis Jesica mendadak pelan saat mendengar sang ayah memanggil dari luar kamar. Sengaja, tak ingin membuat ayahnya cemas. Hanya batinnya yang kini masih menangis kencang. Namun, tak dapat dipungkiri, keadaan Jesica saat itu sudah benar-benar lemah.


Berkali-kali ayahnya memanggil dan tetap saja tak ada sahutan. Putus asa. Ayahnya memilih mendobrak pintu kamar itu, butuh waktu beberapa menit hingga akhirnya pintu berhasil terbuka. Dan betapa terkejutnya ia saat itu yang memenukan Jesica dalam kondisi tergeletak di atas ranjang dengan posisi meringkuk.


Bergegas ayahnya mendekat. Memeluk erat putri semata wayangnya.


Saat itu wajah Jesica pucat pasi dengan darah yang nyaris memenuhi selimut. Ya, gadis itu mengalami pendarahan yang keluar dari organ intimnya. Sedikit panik, tapi sang ayah masih mencoba mengatasinya dengan tenang. Hal utama yang ayahnya lakukan ialah meraba urat nadi sang gadis. Dan beruntung ia masih menemukannya di sana.


Tak ingin berlama-lama menatap putri semata wayangnya dalam keadaan kritis. Sigap sang ayah menggedong Jesica di atas punggungnya untuk melarikannya ke Rumah Sakit.


Setengah terhuyung membawanya menuju garasi. Diletakkannya Jesica pada sebuah kursi untuk membuka pintu mobil sebelum akhirnya memasukkan sang gadis ke kursi bagian belakang.


Perasaan sang ayah teramat cemas saat melajukan kendaraan di atas lajur dengan kecepatan tinggi menuju RS xxx.


*****


Alona duduk pada sebuah kursi khusus yang diperuntukkan pada para pengunjung di dalam sebuah toko baju. Netranya melirik ke sekitar, sedang jemarinya sibuk memainkan ujung baju.


Di depan sana, terlihat dua orang pelayan wanita yang tengah sibuk memilih beberapa rekomendasi baju yang cocok untuk Alona. Gadis itu tak diperbolehkan memilih sendiri gaun yang akan ia kenakan, dengan alasan selera Alona tak cukup berkelas.

__ADS_1


'Haduuh kalo terus begini, gue berasa jadi piaraan!' rutuknya dalam hati. 'Apa gue kabur aja ya dari Arya. Tapi .. ahh!' Segera ia menepisnya. 'Bodoh banget gue kalo ninggalkan pangeran yang terlanjur kesengsem sama gue!'


Kembali pandangan ia tujukan pada dua orang pelayan yang tampak ramah. Memanggilnya dengan nada lembut. "Permisi, Nona Muda! Silahkan Nona mencoba beberapa rekomendasi dari kami."


"Ah!" Gadis itu tersentak kaget. "Iya!"


Pelan ia menghampiri kedua pelayan yang menjenteng beberapa gaun di tangan, yang langsung mengajaknya menuju ruang ganti.


Alona masuk ke dalam ruang diikuti oleh mereka berdua. "Eh, kalian ngapain ngikut??" Terkejut melihat kedua pelayan yang terus membuntutinya.


"Tenang, kami hanya ingin membantu Nona memasang gaun-gaun ini!"


"Ah itu, kalian gak perlu bantu, sini berikan pakaiannya, biar gue pasang sendiri!"


"Tapi, Nona ...."


"Udah, gak ada tapi-tapian, siniin bajunya!"


"Tapi gaun ini akan susah jika di pakai sendiri tanpa bantuan."


"Ah! Lagian, kalian ngapa milih baju yang kayak begitu sih? Pilih yang gampang dipake aja napa?"


"Maaf, kami hanya menjalankan perintah!"


"Fouhh!" Alona menghela pelan. 'Yah **** banget sih gue, kenapa juga gue nanya, harusnya gue sadar kalo mereka melakukan semua ini karena tuntutan kerjaan! Huh .. kalo sudah begini mau bagaimana lagi, sudah terlambat untuk gue menolak.'


"Nona???"


"Ehh!" Alona tersentak. Tampak dua wajah pelayan itu tersenyum kikuk padanya saat menghentikan lamunan Alona. Membuat Alona memasang senyum yang sama. "Ya udah, ayo bantu gue pakai gaun-gaun ini!" Mendengar Alona berucap seperti itu membuat kedua pelayan tadi seketika memasang senyum hangat.


noted:


pengumuman untuk para readers! mulai sekarang novel ini berganti judul menjadi "Pencarian Jodoh Sang CEO"


harap para readers bisa menghargai.


dan author juga mau mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada kalian yang sudah setia membaca, memberi like, komentar dan vote untuk novel author. 🥰

__ADS_1


__ADS_2