Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Salah Kaprah


__ADS_3

"Asal loe janji untuk belajar dengan giat, gue gak akan beri tau emak ataupun kakak loe!"


"Yaahhh! Kenapa harus pakai syarat belajar sih, Om!"


"Ya, iya! Biar lu jadi cerdas dan sukses di masa depan. Kayak gue ini!" Menunjuk diri sendiri dengan sedikit menyentil baju kemeja yang dikenakannya.


Mendengarnya, Qea memasang raut tak percaya. "Memangnya apa jabatan Om? Palingan juga sales dealer! Atau marketer!"


'Apaa??? Sialan! Kok gue di samain sama sales dealer! Apa tampang gue serendah itu??' Bobby terkejut mendengarnya. Terlebih-lebih hatinya sangat tidak terima. Wajah setampan dirinya kenapa harus selevel dengan sales. 'Dasar, Bocil, nebak aja suka ngasal!'


"Loh, Om! Kok gak dijawab?? Kaget kan? Baru tau kan kalo Qea ini hebat dalam menebak!"


Bobby sedikit terhenyak mendengarnya. 'Hebat apanya?? Udah salah besar malah mendoktrin kalo dirinya benar! Agghh dasar emang bocil!!'


"Qeaaaa!! Beliin garam dulu di warung, garam di dapur abis nih!!" Teriakan itu terdengar dari arah belakang. Jelas itu adalah suara emak.


"Males ah, Mak! Kan ada Kak Alona!"


"Heh!! Nih anak sudah gak ngebantuin, disuruh beli aja masih nyuruh kakaknya! Udah buruan sana, beli! Jangan ngebantah!"


"Iye, iye!!" Gadis bocah itu menyungutkan wajahnya. "Uangnya mana??" teriaknya.


"Uang sakumu kan tadi pagi Emak kasi lebih! Pakai dulu sisanya!"


Deg!!


'Duh! Gue lupa, tadi pagi emak pesanin buat ngebalikin uang saku yang lebih. Tapi tadi ... sudah gue habisin semua buat pake main ke warnet!' keluh Qea dalam hati.


"Qeaaa!! Udah berangkat beluum!!"


"Iye, iye, Mak! Qea berangkat." Sedetik yang lalu gadis itu masih terlihat girang saat bercengkrama dengan Bobby. Tapi kini setelah diminta untuk membeli garam ke warung saja, rautnya sudah berubah drastis, menjadi sendu.


"Om!!"


"Iya, kenapa?"


"Ah! Anu .. itu ...." Qea menggaruk kepala bagian belakangnya yang sebenarnya tidak gatal.


"Apaan??!"


"Boleh bayar utangnya sepuluh persen dulu, gak?" Tertawa nyengir. "Ah anu, kalo gak bisa sepuluh persen, lima ribu dulu aja deh! Buat beli gareeem!" Ucapan terakhir si gadis bocah terlihat sedikit kusut dengan tawa yang ia paksakan. Sedang sepasang bola mata itu terlihat sangat imut saat mengharap uang lima ribu rupiah dari Bobby.


'Astaga! Apa keluarga Alona semiskin ini ya? Dari segi keuangan, sepertinya mereka benar-benar kekurangan!' Bobby sangat berempati dengan nasib keluarga Alona. 'Oh, Bos Arya! Kali ini gue berharap loe cepat-cepat mempersunting Alona. Loe bilang bahkan akan membelikan mereka sepuluh istana! Satu istana pun gue udah senang! Gue udah gak tahan lihat nasib malang mereka! Terutama bocah ini!' Masih dengan raut empatinya. 'Eh!! Kenapa mendadak gue peduli sama nih bocah?!'


"Om!! Kaki Qea pegel nih nunggunya! Mana uangnya? Kok malah diam? Lima ribuuu aja! Ayo dong, sales kan biasanya punya banyak tips. Uang goceng doang sih, pasti punya banyak!" Memasang raut memelas.


'Eh!! Apa??' Seketika rasa empatinya ambyar mendengar celetuk si gadis bocah yang mengatainya sales. 'Sialan! Kenapa dia selalu nyangka gue cowok miskin, sih! Ah ini semua gara-gara gue jarang bawa uang cash ke mana-mana! Gue jadi disangka miskin!'


Geram. Kesal. Selalu dianggap seorang sales membuat hati Bobby yang tadi luluh kembali beku. Dikeluarkannya uang dari dalam dompet. Selembar kertas bernilai dengan warna biru ia berikan.


"Goceng Om, bukan gocap!"


"Udah, ambil aja!"

__ADS_1


"Ya udah, ntar kembaliannya Qea kasi!"


'Ehh! Dia pikir kembalian dari gocap berharga banget apa bagi gue?! Aghh!! Sabar Bobby sabaaaar! Dia hanya Bocil! Camkan itu, Bob! B-O-C-I-L!!' Pria itu kemudian mengusap dadanya.


*****


Sementara itu di bagian dapur, beberapa saat sebelum emak berteriak meminta sebungkus garam di warung.


"Aduuh! Ini garam kok cepat banget abis!" Gerutu emak.


"Qeaaaa!! Beliin garam dulu ke warung, garam di dapur abis nih!"


"Males ah, Mak! Kan ada Kak Alona!"


"Heh!! Nih anak sudah gak ngebantuin, disuruh beli aja masih nyuruh kakaknya! Udah buruan sana, beli! Jangan ngebantah!"


"Iye, iye!!" sahutan dari Qea. "Uangnya mana??"


"Uang sakumu kan tadi pagi Emak kasi lebih! Pakai dulu sisanya!"


"Qeaaa!! Udah berangkat beluum!!"


"Iye, iye, Mak! Qea berangkat."


"Huh! Dasar anak bandel itu! Mau jadi apa dia besarnya??"


"Jangan ngedumel, Mak!"


"Gimana gak ngedumel, adikmu itu!!! Emak sudah gak tau lagi gimana nasehatinya! Gak tau nanti besarnya mau jadi apa! Setiap hari kerjanya cuma menghabiskan uang aja!" celetuk si emak yang tangannya sedari tadi tak hentinya bergerak. Dari mulai menumis hingga mengulek sambel terasi. Bibir keriputnya terus saja merocoki gadis bungsunya.


"Tapi, elu juga masih muda! Usia kalian bahkan cuma beda tiga tahun! Elu, lulus SMA masih sempat kuliah walaupun cuma D2, juga bahkan masih bisa sambil kerja. Lulus kuliah pun langsung cari kerja yang lebih baik. Kenapa Qea gak pernah berpikir positif seperti kakaknya, sih? Kenapa diotaknya cuma ada game, game, game??" Keluhnya, masih setia mengulek sambel.


"Mak, setiap anak itu berbeda-beda! Alona cuma melakukan hal yang seharusnya Alona lakukan sebagai anak sulung!"


"Iya, tapi kenapa pikiran kalian harus jauh berbeda, Nak?" Nada bicaranya kini terdengar sedih. Emaknya yang sedari tadi mengulek sambel dengan kekuatan penuh karena mendapat bantuan dari para devil yang membuncahkan emosi, kini mulai menitikkan air mata.


"Makk!!" Alona mulai terinfeksi virus sedih dari emaknya. "Jangan sedih dong, nanti Alona ikut sedih loh!" Gadis itu hanya bisa memeluk tubuh ringkih emaknya.


Wanita yang nyaris keriput itu semakin larut terbawa suasana. Menyeka kedua bola mata yang kembali berembun dengan satu tangan. Dan tanpa sadar, ia sudah mengoleskan pucuk sambal ke dalam kelopak matanya.


"Aduhh! Pedaaass!!" rintih emak. "Air! Air!" Meraba lantai untuk merangkak menuju keran wastafel.


"Kenapa, Mak???"


"Aduh, cepat ambilkan air! Ini sambel nemplok di mata Emak!! Cepat!"


"Ah! Iya, Mak!"


Alona ikut panik melihat emaknya merintih kepedasan. Berlari lebih cepat menuju keran untuk meraih semangkuk air.


Masih jelas terdengar tawa kikik Bobby dan Qea di luar sana yang tak menyadari kepanikan di area dapur. Sesaat kemudian suara cekikik itu terhenti saat Qea sudah benar-benar pergi ke warung.


"Emak kenapa, Al??" Alona dan emaknya kaget. Suara mengejutkan itu ternyata datangnya dari Arya. Sepertinya hanya pria itu yang menyadari kepanikan di belakang sana.

__ADS_1


"Bukan apa-apa!!" sahut emaknya ketus. Malu jika harus mengaku apa yang terjadi juga masih sebal. Karena masih menganggap Arya adalah pria dingin yang mungkin kelak akan melukai gadis sulungnya.


Sementara emak masih sibuk membersihkan kedua kelopak matanya. Alona dan Arya justru sibuk berbicara dengan bahasa orang bisu.


Dari balik punggung emak, Alona meneriaki Arya tanpa suara, yang jika berbunyi akan terdengar jelas. "Keluar sana! Keluar sana!" Ia sengaja mengusir karena tau kalau saat ini hati emaknya masih gundah, terlebih emaknya belum merestui kehadiran Arya untuk menjadi pendamping di masa depannya.


Namun, pria itu salah kaprah. Ia mengira kalau Alona mengatakan 'Makan malam! Makan malam!'


Arya mengangkat jarinya membentuk huruf O seraya mengedipkan mata. Tanda kalau kini ia paham maksud kode dari Alona. Padahal ia salah besar.


'Oh! Jadi mereka minta gue ngajak makan malam di luar?! Huh, begitu saja ibunya harus pakai akting segala. Gue kan calon mantu! Harusnya jujur aja!' celetuk Arya.


Setelah merocok dalam hati, pria itu pergi meninggalkan area dapur. Kembali bersandar pada sofa bed tua.


'Tapi .. mungkin juga calon mertuaku itu malu. Jadi dia memilih bersandiwara!' Arya terlihat puas, memiliki harta berlimpah seakan telah memenangkan segalanya.


'Lu memang hebat, Ar! Lu selalu sukses dalam segala hal! Bahkan gak perlu bersusah payah menaklukan hati mertua. Tak kusanga, kalo sudah harta yang bermain, ternyata semua pasti akan bertekuk lutut!' sifat sombong dan percaya diri Arya kini mulai menonjol.


Sang CEO itu mulai menelpon sekretarisnya.


Tuuuut!


Klik!


[Halo, selamat sore, Pak Presdir. Apa yang bisa saya bantu??]


[Tolong kamu siapkan meja ekslusif untuk acara dinner lima orang di hotel termegah di kota ini. Dan jangan lupa, siapkan juga beberapa hiburan. Kalau bisa, gunakan jasa penyanyi solo mana pun yang berada di puncak papan atas sebagai hiburan]


[Baik, Tuan! Apa masih ada lagi?]


[Ah, iya! Belikan apa saja yang biasanya diperlukan wanita. Pakaian, sepatu, aksesories. Antarkan ke alamat yang akan kukirim nanti]


[Baik, Tuan! Boleh saya tau ciri-ciri wanita itu secara detail?]


[Dua wanita remaja, dan satu lansia]


[Siap, Tuan! Ada lagi? Apa perlu saya mengirim kue dan bunga]


"Ya, kirimkan saja semua yang kiranya dapat menjadi kejutan]


[Baik, Tuan! Apa masih ada lagi?]


[Tidak! Itu saja! Oh iya, tolong segera antarkan semua yang kupesan sebelum jam tujuh malam]


[Baik, Tuan]


Tut!


Tut!


Tut!


Arya akhirnya mengakhiri panggilan itu.

__ADS_1


"Tunggu saja kejutan dariku, Mak!"


__ADS_2