
Kedua pasang mata itu saling beradu tatap. Seperti aliran listrik yang saling bertarikan.
Untuk sesaat Arya masih diam menatapnya nanar. Tak terasa bahkan jantungnya sudah berdetak lebih cepat dari putaran mesin. Sedang tangannya memegang kedua bahu Alona.
"Bima, benarkah yang loe bilang itu?" Bulir-bulir kristal semakin memadati area pelupuk mata Alona.
"Ya! Jadi, apa sekarang loe udah ngerti?"
Ia mengangguk, diiringi luruhan air mata yang meluap dari kedua bola matanya. Tumpah. Hancurlah sudah pertahanan benteng yang sedari tadi terbendung dan berusaha ia tahan. Alona menangis bahagia, memeluk erat dada bidang Arya.
Ia hanya tertawa kecil. Membalas pelukan Alona yang masih merekat di dadanya.
"Anak pintar!" ungkapnya mengelus rambut kusam Alona.
Keduanya merasakan kehangatan untuk sesaat, hingga gadis itu mulai tersadar dengan apa yang mereka lakukan. Bahkan darahnya mulai berdesir menuju pucuk kepala. Pun dengan jantungnya yang berdebar hebat.
Arya tersenyum tulus, mencium pelan pucuk kepala Alona. Namun, mendadak rautnya berubah masam saat menghirup aroma tak sedap dari rambut Alona. Ya, gadis itu belum sempat keramas sejak terakhir kali tubuhnya basah terkena semburan air kotor saat dibully. "Hueee! Lue bau banget sih!" ledeknya, menjepit lubang hidung dengan dua jari.
Deg!
'Astaga! Gue lupa kalo pala gue habis disiram air comberan sama Jesica!' Alona menutup rapat matanya. Menahan malu. 'Sialan!' batinnya menggerutu.
__ADS_1
"Oey! Pembuat onar! Kok diam?" Arya menghardiknya, tak ada niat lain, hanya berusaha mencairkan suasana canggung di antara mereka.
"Apa lu bilang? Pembuat onar!" Alona mulai terpancing. Gadis lugu itu tersurut emosi. Dilepasnya pelukan pada tubuh Arya. "Lagian, gak ada yang minta loe buat nyium pala gue, kan!"
"Widiiih, ada yang marah nih!" Arya terkekeh.
"Auu ahh!" Gadis itu beranjak, sebisa mungkin menjauh dari pria yang berhasil membuat wajahnya merah karena malu.
"Alona!"
"Apa sih!" sahutnya ketus.
"Apa? Jangan ngibul yaa!"
"Itu bukannya ulat bulu, yaa?" Berbohong, tapi berhasil membuat Alona menjerit.
"Aaaa! Mana ulat bulunya? Manaaa???" Ihhh! Buaaaang!" Gadis itu terperanjat hingga terlonjak, geli begitu mendengar kata ulat bulu. Ya, Alona memang phobia pada hewan bertubuh gempal itu.
"Ahahaha! Gak ada kok! Gue bohongin, weeee!" tawanya terdengar satu oktaf lebih melengking.
"Apa! Berani loe ngerjain gue ya!" Dipukulnya dada bidang Arya berkali-kali. Pria itu tetap saja tertawa membuat Alona semakin dongkol, hingga menyerah dan berpaling meninggalkannya. Namun tanpa sengaja, kaki Alona tersandung dan membuat tubuhnya terjatuh. Spontan Arya menangkapnya. "Hati-hati dong, Neng!" lirihnya di sela telinga Alona.
__ADS_1
Deg!
Wajah Alona merah. Antara malu dan bahagia.
Arya semakin mendekatkan wajahnya. "Boleh gue cium, gak?" bisiknya.
Seketika netra Alona membelalak.
Glek!
'Apa? Di-dia mau nyium gue? Aaaaa!' batinnya menjerit.
"Apaan sih loe!" hardiknya. Mendorong tubuh Arya yang masih memegangi punggungnya. Pria itu melepaskan. Spontan Alona berdiri. "Dasar mesum!" Kembali si gadis mencerca, lalu beranjak menuju pintu tangga darurat.
Pria itu tertawa kecil melihat tingkah Alona. "Alona! Tunggu gue, dong!" Mengikuti langkahnya dengan berjalan santai. Gadis itu tak lagi menyahut.
Sementara itu, dari ruang tunggu bawah, Bobby dan Jesica ternyata sempat mengejar mereka menuju gedung teratas. Keduanya bahkan menjadi saksi atas apa yang terjadi di atas sana. Sedang kedua insan yang di tonton tak menyadari keberadaan Bobby dan Jesica.
Gadis itu semakin geram melihat keberuntungan Alona. Diremasnya tali tas yang menggantung di bahu. Sedang tawa lirih Bobby terdengar jelas di sampingnya. "Mereka serasi yaa!" ungkap Bobby.
"Ahaha! Iya!" Jesica tertawa getir.
__ADS_1