Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Pembalasan


__ADS_3

"Alona! Alona! Selalu aja dia yang beruntung!"


Jesica geram. Berbaring dengan posisi tengkurap di atas kasur. Memukul-mukul matras empuk yng tak berdosa.


"Padahal jelas gue udah peringatkan! Ternyata loe mau nantang gue!" Masih berani dekatin Bima! Oke, gue bakal buat perhitungan!"


Diraihnya ponsel untuk menghubungi Rendra. Mengacak isi tas, mencari benda pipih kesayangannya dan langsung menghubungi Rendra begitu nomor sudah terpampang di layar ponsel.


Tuut tuuut!


Menunggu hingga dua menit lamanya. Tak kunjung diangkat.


"Rendra, angkat pliiiis!" rutuknya.


Hingga panggilan itu berakhir, pria yang ia hubungi tak kunjung mengangkat. Kembali ia mencoba hingga berkali-kali, hasilnya sama, tetap saja pria itu tak mengangkat.


Hingga percobaan terakhir yang ia lakukan ternyata membuahkan hasil.


"Rendra! Lu ke mana aja? Dari tadi gue nelpon gak ngangkat?!" hardiknya.


[Ahh, ganggu aja lu, Jes! Mau apa lagi sih?]


"Gue butuh bantuan loe?"


[Bantuan apa lagi? Emangnya lu mau bayar pakai apa juga? Tubuh loe lagi? Gue udah bosen!]


"Apa lu bilang? Brengsek lu, Rendra! Lu bilang sayang sama gue?"


Disaat bersamaan, Jesica mendengar suara seorang wanita bertanya di sampingnya.


Deg!


[Iya, itu kan kemarin, sekarang gue udah ada yang baru. Yang lebih fresh dari elu! Udah dulu ya, gue mau sambung senang-senang]


"Apa?"


Tut! Tut! Tut! Panggilan terputus.


"Rendraaa! Rendraaa! Aggghhh! Brengsek! "


Braaak!


Kembali ponsel itu terpelanting ke dinding, menjadi korban kekesalan Jesica. Geram. Dikepalnya tangan dengan erat.


"Ini semua karena Alona! Oke, kalau lu gak mau bantu, gue sendiri yang akan selesaikan anak itu!"


Wanita itu meraih satu buah benda tajam, beranjak dari kamar menuju keluar. Membanting keras daun pintu.


Baaam!


*****


Tiba di depan hotel borneo. Alona turun setelah pintu ototmatis terbuka.

__ADS_1


"Makasih tumpangannya, Bim!" Bima tersenyum ramah menatap sang gadis. "Oh iya, soal festival besok ...."


"Jangan lupa untuk bersiap ya, besok lu jadi pasangan gue di hari festival rakyat tahunan, oke!" sahut Arya.


"Eh, tapi gue kan belum ngiyain!"


"Agghh! Pokoknya lu cuma boleh jadi pasangan gue. Jangan menolak apalagi berharap jadi pasangan Bobby! Atau hutang lu gue tambah lima kali lipat!"


'Astaga! Gue pikir dia udah lupa sama hutang itu!' Alona membatin.


"Ehh, gue pikir loe udah lupain hutang itu!"


Arya tertawa menyeringai. "Ya gaj dong! Hutang ya tetap hutang! Bayarannya hanya satu, jangan menolak! Oke!"


Gadis itu menyungut, sedang dalam hati berbunga-bunga, entah apa yang membuatnya selalu ingin berbohong dan menutupi perasaan yang sebenarnya. 'Sial! Kalo diancam begini gue jadi gak berkutik!' rutuknya dalam hati.


"Alona, sini loe mendekat!"


"Apa lagi sih?"


"Udah, nurut aja sini!"


Gadis itu menundukkan kepala ke dekat pintu mobil Arya. Namun, tanpa diduga, mendadak Arya mengelus pelan pucuk kepala Alona. "Baek-baek ya!" Senyum itu mengembang tulus. Membuat rona merah memadati pipi mungil Alona.


Glek!


'Jantung! Oh jantung! Bertahanlah!' 


Ia tak membalas, hanya memperhatikan pergerakan mobil Arya hingga nyaris menghilang dari pandangan.


Angin lembut mulai membelai wajahnya. Sejenak gadis itu memejam. "Bima, gue juga suka sama loe!" ungkapnya begitu tubuh Arya sudah tak lagi berada di sampingnya. Kembali dibukanya mata. "Ahh, kenapa sih berat banget buat gue ngungkapin perasaan!" Digelengnya kepala dengan cepat.


Langkahnya diputar, menyusuri halaman hotel borneo yang hanya berukuran beberapa meter persegi itu sebelum akhirnya menaiki anak tangga menuju kamar penginapan miliknya.


"Fouh! Gak terasa, satu minggu lagi liburan akan berakhir!" gumamnya.


Ceklek! Membuka gagang pintu.


Kriieet! Daaap!


Masuk lalu menutup rapat daun pintu. Sesaat gadis itu masih tersenyum, membayangkan wajah seorang pria yang menyukainya. "Ya, Tuhan. Semoga semua ini bukan sekadar mimpi!" gumamnya. Diedarnya pandangan ke sekitar dan betapa terkejutnya ia saat berhasil menangkap bayangan wanita di belakang pintu. Spontan matanya membelalak.


Alona dikejutkan dengan kehadiran Jesica yang ternyata sudah menunggunya sedari tadi.


Wanita itu berdiri tepat di belakang pintu, bersandar pada dinding.


Wajahnya kusam, make up yang sebelumnya melekat dengan sempurna itu sudah luntur. Menyisakan raut seram dari tampilannya. Sedang di tangannya memegang satu buah gunting.


"Jesica, lu mau ngapain?" Perasaan Alona mulai tak enak.


"Coba tebak?" Ia tertawa menyeringai.


'Apa ini? Apa mungkin Jesica sudah habis akal sampai mau mencelakaiku?' Alona membatin.

__ADS_1


"Gue sudah peringatkan elo untuk menjauhi Bima dan Bobby. Tapi apa yang loe lakukan? Dengan genitnya loe merayu mereka!" Berjalan mendekat. Alona mundur.


"Jesica, lu salah. Gue gak pernah dekatin mereka. Semua terjadi begitu aja! Bukan karena disengaja. Plis, lu harus percaya."


"Bohong! Gue gak percaya sama loe! Dasar muka dua!"


"Apa lu bilang? Muka dua?" Alona mulai tersulut emosi mendengar hinaannya. Tak disangka, Jesica sudah benar-benar berubah. Sudah tak memiliki hati nurani.


Digulungnya lengan baju, seakan pertarungan sengit akan berlangsung.


"Lu yang udah memperlakukan gue dengan hina dan ngancam gue dengan foto itu, lu juga yang dorong gue ke danau! tapi perlu lu tau, gue gak pernah takut dengan semua ancaman dan perlakuan buruk loe!" jelasnya.


"Dan kalo sekarang lu juga berencana untuk membunuh gue, gue gak takut?"


"Bunuh? Hahaha! Gue gak senekad itu kali!"


'Apa? Jadi dia mau ngapain?'


"Gue cuma mau merapikan rambut loe, lebih pendek, lebih cantik!" Jesica tertawa licik.


Sedetik kemudian wanita binal itu berlari dan menghambur ke arah Alona. Menjambak rambut si gadis malang. Namun diluar dugaan, ternyata Alona masih menyimpan banyak tenaga untuk melawan. "Loe lupa ya, menjatuhkan lawan itu hal yang mudah bagi gue, jangankan cewek lemah kayak elo. Cowok sekalipun bisa gue lumpuhkan!" seringai Alona.


Direbutnya gunting yang sebelumnya merekat di tangan Jesica.


"Agghhh!" Wanita itu meringis.


"Lu suka model rambut pendek kan? Makin pendek makin cantik kan kata loe? Oke, biar gue bantu atur ulang potongan rambut loe!"


"Agghhh! Alona sialan! Mau ngapain loe? Lepasin gue!" Jesica berontak.


Namun, rengekannya tak menggoyahkan niat Alona untuk memotong rambutnya. "Lu udah berani main kasar, jadi biarkan sekarang gue tunjukkan sisi kekuatan gue! Gue gak akan lemah seperti kemarin. Kali ini, gak ada lagi yang namanya penindasan! Loe harus mendapatkan rasa sakit yang sama seperti gue!"


Alona berhasil melumpuhkan Jesica, menjatuhkannya ke lantai, mengunci tangan Jesica ke belakang punggung. Sedang tangan Alona sudah berhasil meraih rambut panjang Jesica. Dan langsung menyegerakan pengeksekusiannya.


"Sialan! Mau ngapain loe? Lepasin gue!" hardik Jesica yang tak dapat bergerak, karena tertindih tubuh Alona.


"Ngapain lagi? Ya motong rambut loe lah!" tawanya terdengar satu oktaf lebih keras.


Srak! Srak! Srak!


Rambut Jesica berhasil terpotong. Pendek, hanya sebatas di bawah telinga.


"Ahhhh! Alona, brengsek! Lepasiiin!" hardiknya.


Seketika Alona melepasnya. Spontan rubah itu berdiri. Wajahnya penuh amarah menatap Alona.


"Apa?" gertak Alona. "Mau apa loe? Mau nyoba lawan gue lagi? Kalo loe masih mencoba melawan, gue gak akan segan buat pangkas habis rambut loe!"


Jesica tak lagi menjawab. Hanya wajahnya yang masih memerah akibat menahan emosi. Gadis itu kemudian pergi meninggalkan kamar Alona dengan membanting keras daun pintu.


Baaam!


bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2