Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Mission Imposible (part 1)


__ADS_3

Bobby masih mengibas asap knalpot yang sempat memadati ruang pernapasannya. Sedetik, suara panggilan dalam ponsel langsung mengejutkan pria itu.


Drrrttt!


"Siapa yang sudah menghubungiku di tengah siang begini?" gumamnya ragu.


Sementara itu, gadis yang berada di ujung sana masih tersenyum malu-malu. Menunduk dan melirik-lirik sekilas.


Duh! Sepertinya bocah itu kumat lagi?


Bobby meraih ponselnya. Melihat nama pemanggil yang tertera di layarnya.


Tuan Arya? Ada hal apa dia meneleponku? Apa mungkin ada sesuatu yang genting?


Tak lagi menunggu lama, Bobby langsung menggeser ikon hijau untuk mengangkat panggilan itu.


Klik!


"Halo, ada apa, Ar?"


[....]


"Apa?? Tuan Arya berada di atas gedung?"


[....]


"Baiklah! Aku akan menuju maindland streep sekarang!"


[....]


"Oke! Baiklah!"


Tut!


Tut!


Panggilan itu berakhir. Ponsel pun kembali mendarat dalam saku kemejanya. Sedetik saja Bobby langsung bergegas menuju mobilnya. Disusul Qea yang membuntutinya dari di belakang.


"Ada apa, Om?"


"Om ada urusan mendadak yang harus dikunjungi sekarang?"


"Terus, Qea gimana?" Wajahnya menyungut. Sedih. Seolah menyadari kalau kini ia akan kembali terabaikan.


"Ah maaf, sepertinya, Om gak bisa mengantarmu hari ini! Apa kamu bisa menghubungi temanmu yang tadi untuk mengantarmu pulang?"


"Maksud Om? Steven?"


"Ya! Kamu pulang sama dia dulu, ya!"


"Om!" Qea memanggil nyaring. Menghentak kakinya di atas jalan. Kesal. Membuat niat Bobby yang tadinya ingin segera melaju akhirnya tertunda. Lalu menoleh pada gadis itu.


"Apa Om benar-benar akan ninggalin Qea di sini?" tanya Qea.


"Kenapa? Kamu ragu mau pulang sama temanmu yang tadi? Apa kamu mau menyewa taksi online saja?" Bobby mendekat dan langsung mengeluarkan selembar uang untuk Qea. "Ini!"


"Eh?? Ini maksudnya apa?" Qea terkejut.


"Apalagi? Ini biaya untuk kamu pulang!"


Qea tak menyahut. Hanyut, menatap tak percaya.


"Kenapa? Apa uangnya kurang?"


Seketika tatapan tajam menghujam ke arah Bobby. "Loh kenapa? Apa ada yang salah?"


"Om keterlaluan!" jawabnya dingin. Matanya bahkan mulai berembun. Gadis itu langsung mengembalikan ponsel pemberian Bobby sebelumnya. Meraih lengan Bobby lalu melekatkannya di atas telapak tangan itu. Qea langsung memutar badan untuk segera berlalu.

__ADS_1


"Ehh! Qea, kamu mau ke mana?"


Gadis itu sudah tak lagi menjawab. Bahkan menoleh pun tidak.


"Qea! Kamu gak boleh begini. Kamu seharusnya ikuti apa kata Om! Pulang dengan Steven atau naik taksi online!"


"Gadis itu langsung menoleh mendengarnya. Sepasang mata itu bahkan sudah semakin merah. Antara marah dan menangis. Membuat Bobby terkejut.


"Ehh!"


"Om egois! Qea benci sama Om!"


Seketika Bobby terdiam. Tak tahu harus bicara apa. Kali ini ia kalah telak dengan gadis kecil. Mungkin karena ia belum menyadari bahwa hatinya sudah jatuh pada gadis itu.


"Qea gak mau naik taksi online ataupun diantar Steven! Dan kalau Om maksa Qea pulang bareng Steven, Qea pastikan bakal pacaran sama dia!" ancamnya.


Eh?? Apa-apaan ini? Kenapa sekarang dia berani mengancam-ku?


Gadis itu langsung mengotak-atik ponselnya. Sepertinya berusaha menghubungi seseorang.


Apa yang dia lakukan? Apa dia beneran akan menghubungi Steven?' Pikiran Bobby sudah mulai kacau.


"Apa yang kamu lakukan?" Matanya nyaris melotot.


"Apalagi? Kan Om yang minta Qea pulang bareng Steven!"


Pulang bareng Steven? Kenapa kata-kata itu terdengar menyakitkan? Apa mungkin ini artinya mereka akan benar-benar pacaran? Gak! Ini gak boleh dibiarkan.


Entah kenapa, kalimat yang terucap dari Qea langsung mengiang di benak Bobby.


Syut!


Spontan Bobby merebut ponsel yang masih di-otak-atik oleh gadis itu. "Ehh! Apa yang Om lakukan? Balikin ponsel Qea!"


Pria itu tak menjawab. Hanya fokus menyimak pesan yang ditulis Qea untuk dikirim pada seseorang. Dan jelas, nama Steven tertulis dalam pesan itu. Bahkan calon pengirim pun tak lain adalah pria ingusan yang kini menjadi saingannya.


Sial! Kenapa aku berbuat hal begini! Agghh.


"Om??"


"Jangan pulang bareng Steven! Mulai sekarang, kamu hanya boleh pulang bareng Om!"


"Ehh??" Seketika hati Qea bersorak riang. '


Apa aku gak salah dengar?? Apakah sekarang Om sudah memberi lampu hijau? Apa ini artinya aku berhasil melewati tahap ujian? Apa aku beneran lulus mengejar hatinya? Yes! Semoga saja begitu.


Qea berusaha menahan senyumnya. Agar tak ketahuan oleh Bobby kalau kini ia sedang gembira.


"Kamu kenapa? Apa kamu masih berpikir ingin pulang dengan Steven."


"Oh! Enggak kok!"


"Bagus!"


"Ehh!"


Bobby langsung menarik lengan gadis itu. Menuntunnya menuju mobil. Membukakan pintu, dan menyuruh gadis itu duduk di bagian depan bersampingan dengannya.


"Sekarang Om ada urusan yang genting. Jadi Om gak akan langsung mengantarmu pulang. Kamu boleh ikut bersama Om. Tapi apapun yang kamu lihat nanti, tolong jangan beritahu kakakmu!"


"Maksud Om? Kak Alona?"


"Iya!"


"Siap, Om!"


Mobil itu kemudian memutar arah. "Kamu sudah bisa pasang sabuk pengaman sendiri kan?"

__ADS_1


"Eh??" Mendadak Qea teringat kejadian tadi pagi.


Mungkin om malu memasangkan sabuk padaku lagi! hihihi. Takut aku cium lagi, ya?


Gadis itu cekikikan sendiri.


"I-iya, bisa kok, Om!"


"Bagus! Tolong kamu kencangkan sabuknya!"


"Eh?? Kencangkan??"


Baru saja sabuk pengaman terpasang di antara bahu dan pinggul Qea. Kini gadis itu sudah harus merasakan ekstrimnya melaju di atas kendaraan bersama sang pembalap tak ternama itu.


Tak ada percakapan yang terlibat di antara mereka sepanjang perjalanan.


Semoga kau tidak mengalami shok, saat melihat apa yang akan terjadi nanti, Qea.


Bobby berniat membawa serta gadis itu dalam missi kali ini.


Hanya butuh waktu setengah jam. Bobby sudah berhasil menepi di area mainland streep. Area penerbangan Helly kopter pribadi Presdir Arya.Pria itu langsung turun. Tal luput menggiring Qea bersamanya.


Wah, gedung apa ini? Mewah banget, dan juga luas banget. Jadi penasaran apa yang ada di bagian dalamnya.


Ia berhenti tepat di depan pintu masuk.  Berbicara dengan Qea sebelum meninggalkannya sejarak dua puluh meter. "Qea, kamu tunggulah di sini!"


"Eh! Tapi, Om mau ke mana?"


Bobby langsung menjauh. Percakapannya dengan beberapa pengawal bahkan tak terdengar sedikitpun. Membuat Qea sedikit penasaran. "Apa yang mereka bahas?"


Sedetik kemudian, pandangan Bobby sudah menghilang di balik kerumunan para pengawal. "Loh, Om ganteng-ku ke mana?"


Awalnya Bobby memang berniat mengajak serta gadis itu dalam missinya kali ini, tapi mengingat hal itu mungkin akan membuat Qea shok dan trauma. Bobby memilih mengurungkan niatnya. Dan mencoba menerapkan cara lain yang mungkin lebih efektif.


Semoga saja, Qea tidak mengetahui missi-ku ini.


Kini, dua pengawal yang tampak ramah menghampiri gadis itu. "Selamat siang, Nona Qea! Perkenalkan, saya Jimy dan ini Andrea!" Pria di sampingnya terlihat ikut menyapa.


Loh, ada apa ini? Kenapa dua Om ini menyapaku?


"Kamu pasti bingung, kan?"


Qea diam tak menyahut. Sirat dari tatapannya dalam dan penuh tanya.


"Pak Direktur Bobby bilang, Nona adalah kekasihnya!"


"Benarkah? Om Bobby bilang gitu??"


"Benar!"


Jadi .. d**ia sudah menganggapku pacarnya?


Qea tersenyum-senyum sendiri. "Terus? Terus?"


"Pak Direktur meminta kami menemani anda siang ini! Nona bisa meminta kami untuk mengajak jalan-jalan ataupun bersenang-senang lainnya!"


"Apa? Tapi kenapa?"


"Ah, anu! Itu .. beliau bilang, dia ingin Nona bersenang-senang saja. Apa saja yang Nona inginkan akan kami kabulkan. Jika Nona ingin ke salon, kami akan mengantar! Jika ingin berbelanja fashion juga akan kami antar! Jadi, tinggal bilang saja."


"Benarkah???!" Qea tampak kegirangan mendengarnya.


"Ya, benar, Nona!"


"Asyiik! Kalo begitu, tunggu apa lagi! Aku mau ke salon!" ucapnya girang.


"Baik! Permintaan Nona adalah perintah bagi kami! Kami akan melaksanakannya!"

__ADS_1


Wahh! Ternyata diperlakukan seperti orang kaya itu menyenangkan.


Qea terlihat riang. Padahal ia tak tahu, nasib apa buruk apa yang mungkin akan menimpa om sang pujaannya saat akan melakukan misi kali ini.


__ADS_2