
Di sela obrolan mereka yang semakin hanyut dan larut, hingga Arya lupa dengan perut yang sedari tadi menuntut, minta di isi dengan menu sop buntut.
"Lu udah makan, belum?" tanya Jesica.
"Belum sih!" sahutnya. "Gue mau makan tapi gak bisa, tangan gue masih kram!"
"Oh ya, kenapa gak bilang?! Ini bubur buat elu kan? Gue suapin yaa!"
Wanita itu kemudian meraih bubur yang sebelumnya di pegang oleh Boby, membuka penutupnya lalu menyuapinya pelan.
"Ahh, gue jadi gak enak!" tutur Arya dengan wajah memerah.
"Hahaha, biasa aja Bim, gak perlu merasa gak enak! Kita kan teman, teman harus saling membantu!"
"Ahaha, iyaa, ntar pasti terbiasa kok saat kita udah jadi pasangan sah!"
"Hah? Lu barusan ngomong apa?" Wanita itu sedikit melongo.
"Ahh, bukan apa-apa! Lupain! Ehehhe!"
Jesica termangu untuk sesaat menatapnya dengan tatapan heran. Lalu kembali menyuapi pria di hadapannya
"Oh iya, Bim. Lu kenapa gak ngizinin Alona masuk sih?" tanya Jesica disertai kerutan yang ia buat di atas dahi.
"Gak apa-apa! Gue cuma gak suka aja dijenguk sama orang yang belum gue kenal!"
"Oh gitu. Tapi ... Alona kan pengen banget ketemu sama elo. Puluhan kali loh dia curhat sama gue tentang pangeran penyelamatnya itu!"
"Ahahha!" Arya tertawa kecut.
Sedetik kemudian, tak ada angin maupun hujan, mendadak masuk seorang wanita tanpa izin ke dalam ruang VIP Arya. Membuat pria itu kelimpungan oleh kehadiran si wanita yang sangat tak diharapkan itu.
"Jesicaaa!" serunya.
Mendengar suara pembuat onar berteriak dalam ruang inapnya, seketika Arya bersembunyi di balik selimut tebal.
"E-Bim?? Lu gakpapa?" tanya Jesica. "Ini makannya gimana? Udah selesai?!"
"Gue gakpapa! Kalian ngobrol aja! Kalo udah kelar ngobrolnya, langsung balik ya!"
"Hah??" Wanita anggun itu melongo. "Lu ngusir gue?"
"I-iyee, gue ngusir! Sory Jes. Mendadak gue kurang enak badan!" sahut Arya yang masih bersemayam dalam balutan sutera tebal.
"Jesica! Ayukk buruan!" panggil Alona pada si wanita anggun.
Gadis yang tengah berdiri di pintu otomatis itu menatap Jesica dengan tatapan penuh kekesalan.
"Lu ngapain sih lama-lama jenguk orang aneh gak jelas itu?" hardiknya. "Lihat aja kelakuannya, lu datang aja gak disambut. Malah sembunyi di balik selimut. Dasar, orang aneh!!"
"Hushh! Gak boleh ngomong gitu! Gak sopan!"
__ADS_1
"Biarin! Makanya, lu buruan dong!"
"Iyee, sabar coba!"
Segera Jesica meraih tas yang ia letakkan di atas ranjang. "Bim, gue balik ya! Lekas sembuh ya, Bim!"
"Ah iya! Gak salim tangan gue dulu, Jes?" ungkapnya dari balik selimut.
"Apa? Ahahhaa!! Buat apa?? Lucu banget sih loe, Bim! Ya udah gue langsung cabut nih! Udah ditungguin!"
"Iya, makasih ya udah jenguk gue! Besok-besok jenguk lagi yaa, biar gue semangat dan cepat sembuh!"
Jesica semakin terkekeh. "Iyee, besok gue jenguk!"
"Janji??" Arya mengeluarkan jari kelingkingnya, berharap Jesica menyatukan kelingking mereka, layaknya anak kecil yang tengah mengikat janji.
Tak ada niat lain, hanya ingin membahagiakan hati sang kawan yang sekarang berstatus pasien, disambutnya jari kelingking Arya dengan jari kelingkingnya. "Iyee, gue janji!"
"Makasih sayaang!"
"Ahahahaha!"
"Jesicaaaaa! Buruuaaaan!" hardik Alona yang tampak tak tahan lagi menunggu di depan pintu.
"Iye, iye!" sahut Jesica padanya. "Gue balik ya, Bim!"
Tak ada respon dari mulut Bima. Hanya tangan yang ia lambaikan sebagai bahasa isyarat.
_________&&
Alona sudah kembali ke penginapan, tapi tidak dengan bos mereka yang terus bersembunyi di balik identitas palsu bernama Bima. Ia masih perlu sedikit perawatan akibat luka lebam yang ia dapatkan.
"Nih, gue bawain pesanan loe!" tukas Boby, meletakkan beberapa kotak pie dan juice yang di pesan Arya melaluinya.
Segera pria itu merogoh isi kotak, mencari makanan favoritnya. "Mana cemilan gue?"
"Gak ada! Gue gak bawa!"
"Kok gak bawa?!"
"Ya iya lah! Camilan pedas aja, dicari! Lu mau diare di RS?!"
"Ckk, haiiss!" Arya berdecak kesal. Diraihnya sebuah minuman juice, dan meminumnya sedikit.
"Kata dokter, lu udah bisa pulang hari ini!" tutur Boby.
"Iye, gue tau!"
"Tapi lu juga tetap harus jaga kesehatan. Meski sudah boleh pulang, lu gak boleh makan makanan sembarangan!"
"Iyee, bawel! Gue ngerti kok!"
__ADS_1
"Bener lu ngerti nih??
"Ya iyalah! Aneh lu pake nanya segala!"
"Bagus deh kalo lu ngerti, berarti cemilan loe yang di hotel, buat gue semua yaa!"
"A-apa??" Arya sedikit tersentak. "Wah parah lu, Bro! Kemarin udah ngegondol cemilan gue, sekarang mau ngerampas. Besok mau apa lagi loe? Ngebegal gue?"
"Iyee, rencananya sih, gitu!"
"Sialan!"
"Hehehe!" Boby terkekeh. Dibiarkannya Arya menghisap juice dengan sedotan hingga nyaris habis, tak ingin mengganggu sang bos malang yang puluhan kali ketiban sial. Hanya dengan mengonsumsi cemilan favorit lah pria itu dapat melewati hari-hari malangnya.
Sementara Boby menyibukkan diri dengan memainkan gawai di antara jemarinya.
"Oh iya! Kemarin Jesica ke sini jenguk gue!" tukas Arya
"Iye, gue tau! Gue yang izinin dia masuk!"
"Trus? Si pembuat onar! Lu juga yang izinin?"
"Kalo itu sih, dia yang maksa!"
"Harusnya lu cegah dia, jangan sampai masuk!"
"Lah, kenapa emang gak boleh?!"
"Pake nanya lagi!" keluhnya. "Lu mau bikin jantung gue copot!"
"Hah? Copot?? Ciyeee! Yang kesengsem!! Ehem-ehem!" Boby berdehem.
"Ciye-ciye apaan! Kalo jantung gue copot, kan gue bisa mati! Ngaco aja lu, ngejek gue mulu!"
"Ehehe! Sory! Cuma lucu aja ngelihat loe ama dia! Klop banget! Kayak Tom and Jerry!"
"Apaan sih loe!" Arya tampak menyungutkan wajahnya. Sementara Boby asyik terkekeh setelah berhasil meledeknya.
_________&&
Tiga hari telah berlalu ....
Matahari kembali bersemayam di ufuk barat. Melaksanakan hukum alam yang masih setia selama bumi berputar.
Satu minggu sebelum keberangkatan kapal pesiar ke pulau itu. Arya dan Boby sudah merancang berbagai rencana selama liburan berlangsung. Termasuk piknik barbeque para karyawan di pinggir pantai untuk minggu pertama, menikmati festival yang di adakan setiap tahun oleh makhluk pribumi penghuni asli pulau itu, dan juga sebuah pesta topeng untuk menyambut hari ulang tahun perusahaan yang nantinya akan digelar dalam gedung hotel mewah berbintang lima untuk minggu keempat.
Tentu saja nantinya semua fasilitas akan didapat secara gratis. Demi satu tujuan, mencari jodoh untuk sang CEO. Dengan mengeluarkan budget yang hampir mencapai satu milyar.
Bagi Arya, satu milyar hanyalah secuil dari harta yang ia miliki. Mengeluarkan budget sedemikian banyak tak lantas membuatnya bangkrut. Sebab aset yang ia miliki, mencapai ribuan di berbagai kota hingga luar negeri.
Namun, sebelum merayakan pesta barbeque, ada satu masalah yang masih ingin ia selidiki.
__ADS_1
"Selidiki mereka! Siapa dalang di balik perampokan kemarin!" tutur Arya saat berbicara dalam telpon. Sedetik kemudian ia mematikan ponsel.
"Lihat saja! Akan kutemukan pemimpin dari dalang itu sendiri!" gumamnya.