Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Khawatir


__ADS_3

Malam susah semakin larut bahkan sudah hampir menjelang subuh. Pria yang kini menjadi kesayangan Alona itu belum nampak batang hidungnya. Membuat Alona gelisah modar-mandir. Sudah puluhan kali mengepak-ngepakan ponsel ke telapak tangan, juga hampir sepuluh kali menelepon tapi tak kunjung mendapat respon.


"Haduuh, pujaanku! Kamu ke mana sih?? Jangan bikin aku cemas dong!" Gadis itu meringis. Lagi, ia kembali menekan keypads hijau untuk menghubungi Arya. Diletakkannya ponsel itu pada daun telinga.


Tuut!!


Masih setia menunggu diangkat dengan sedikit gelisah.


Klik!


Halo!


'Akhirnya diangkat juga!' batinnya. "Kamu ke mana aja?" Nada bicara Alona sedikit bergetar menahan tangis karena kini panggilan darinya berhasil terhubung.


Aku sibuk, Sayang! Masih ada hal yang harus kuurus!


"Gak mau tau, pokoknya kamu harus pulang! Sekarang kamu berhutang karena sudah bikin aku khawatir!" Masih dengan tangisnya. "Kalau gak pulang sekarang, aku bakal marah dan gak akan negur kamu lagi!"


Hahaha! Ya, ampun! Sekarang kamu udah jujur ya kalau kangen sama aku? Padahal kita baru terpisah beberapa jam loh! Hmm, aku jadi makin gemes aja sama kamu!


"Gak usah ngegombal, pokoknya sekarang pulang! Kalau gak kamu akan tercatat berhutang banyak sama aku!"


Hmm! Nanti akan kubayar hutangnya dengan mencium kamu! Tunggu aku di sana, oke?!


"Iya!!!" Berkata tanpa sadar. "Ehh!" Tersadar. 'Astaga! Aku bilang apa barusan??'


Waaah!! Seriuss!! Kamu mau cium aku?? Oke, aku pulang sekarang! Sampai ketemu, Sayang! Emuacch!!


"Ehh!"


Tut!


Tut!


Panggilan berakhir.


"Aduuh, gimana ini?? Kenapa tadi aku ngiyakan!! Apa itu artinya, setelah ini aku akan berciuman!! Aaaaa ... aku harus gimana??" Bingung, gelisah, Alona sampai menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Kedua betis tak hentinya menghentak ke udara. Menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal. "Seumur hidup aku belum pernah berciuman! Seperti apa rasanya aku gak tahu! Gimana ini! Bagaimana nanti aku mengontrol jantungku?"


Deg!


Deg!


Deg!


"Aduuh! Belum apa-apa, nih jantung udah main pukul gendang aja! Belum juga momentnya dimulai!" Alona kembali menyelamkan wajahnya. Melamun sesaat. Bayangan tentang bibir Arya yang menyelam dalam bibirnya langsung bermain dengan nakal dalam benak Alona. Gadis itu sampai senyum-senyum sendiri membayangkannya. Lalu kembali ia menegang saat mulai tersadar. "Apa yang kupikirkan sih?!! Ahh, aku mulai frustasi! Satu jam kedepan dia pasti sudah pulang. "Ia mengetuk pelan dahinya lalu kembali menyembunyikan wajah.


*****


Jesica sudah semakin terhuyung saat terus mencoba kabur dari pengejaran mereka. Lelah. Ia akhirnya memilih mengumpat di samping pembuangan sampah. Mengatur napas sestabil mungkin.


Langkah tiga pria yang tadi mengejar semakin terdengar mendekat. Lalu berhenti tepat di depan bak sampah. Di mana ia bersembunyi.


"Ke mana larinya dia??" Mereka tampak celingukan mencari sosok Jesica. "Kok udah hilang aja?"


Ckieet!!

__ADS_1


Ban mobil hitam milik pengawal itu sampai berdecit saat berhenti tepat di dekat ketiga pria rekannya. "Di mana gadis itu!?"


"Dia berhasil kabur, Bos!"


"Cari cepat! Berpencar!"


"Baik!!" Keempat dari mereka langsung berpencar mencari Jesica. Hanya sang pemimpin mereka yang setia berdiri di samping mobil. Mencari nama dalam kontak gawainya. Lalu mulai menelpon.


Tuut!


Klik!


Halo! Bagaimana?


"Kami sudah mendatangi rumahnya, tapi gadis itu seperti sudah mengetahui tujuan kedatangan kita."


Maksudnya??


"Dia kabur, Tuan!"


Apaa?? Kenapa bisa? Cari! Dan temukan! Dia harus diinterogasi!


"Baik, Tuan!"


Tut!


Tut!


Telepon berakhir.


Sementara itu, masih di dalam perjalanan pulang, Arya masih sempat-sempatnya mengangkat panggilan telepon dari anak buahnya itu. Usai mengangkat telepon, diletakkannya kembali ponsel ke sofa di sampingnya. Pria itu masih melajukan kendaraan menuju rumah Alona. Dan hanya butuh waktu tiga puluh menit, pria itu akhirnya tiba di halaman dan langsung memarkirkan kendaraannya.


Ia meraih ponselnya, mengetik sesuatu di aplikasi wechat, mengirim pesan pada gadisnya.


[Sayang! Aku sudah di depan! Kamu di mana? Aku tunggu, ya]


Deg!!


Mata Alona terbelalak membaca pesan dari Arya. Ingin rasanya dia menghilang saat itu juga. "Aduh, harus gimana ini??" Tak dibalasnya pesan singkat itu. Ia hanya meraih mantel untuk menutupi tubuhnya yang mengenakan baju tidur. Berjalan menuju pintu depan. Membukanya.


Krieet!


Satu kaki sudah melangkah keluar. Kini sosok seorang pria langsung menjadi sorotannya. Pria yang menyambutnya itu bersandar pada mobil, lalu melambai. Memberi isyarat untuk segera menemui di sana. Alona masih terdiam sejenak hingga notifikasi dalam gadged kembali menyentaknya. Dinyalakannya layar yang sebelumnya redup. Terpampang jelas pesan wechat dari Arya.


[Sayang! Kenapa cuma berdiri! Ke sini dong!]


Deg!!


Membaca pesannya saja sudah membuat jantung gadis itu berdegub. Tapi janji tetaplah janji. Perlahan ia mulai menuruni anak tangga. Semakin dekat semakin jelas pria yang berdiri di depan mobil itu tersenyum lebar padanya.


"Jadi .. kamu beneran nungguin aku??" tanya Arya masih dengan senyum lebarnya.


Alona mengernyit. "Apa kamu berharap aku gak menunggu?"


"Bukan gitu, aku gak menyangka aja. Kukira kamu berbohong. Jadi .. mana janjinya?" Menunjuk ke pipi sendiri dengan senyum mesem.

__ADS_1


"Ehh! Janji apa??"


"Cium??" Masih menunjuk pipi.


"Ahh! Apa aku bilang begitu?" Berusaha menghindar.


"Hmm ... jadi cuma bohong, ya!" Memasang raut kecewa.


"Bu-bukan begitu!!"


"Jadii??" Mendekat. Memasang wajah menggoda. Membuat pipi Alona semakin merah.


Deg!


Deg!


Deg!


"Ah, apa sih!! Sana lu muka mesum!" Alona mendorong wajah Arya yang mendekat tadi.


"Oh .. jadi kamu bohong! Ya udah, aku pergi aja lagi." Mengancam. Pura-pura merajuk.


"Ya sudah, pergi aja lagi!"


"Seriuss!!"


"I-iya, serius!!"


"Ya, udah!" Arya berbalik badan, membuka pintu mobilnya. Namun mendadak Alona menahan tangannya. Pria itu langsung memutar wajahnya. Dan tanpa di duga, Alona langsung mencium pipi Arya selama sedetik. Membuat pria itu mematung untuk sesaat.


Hening.


"Hutangnya .. udah lunas kan??" ucap Alona pelan. Gadis itu sedikit canggung. Sedang Arya masih tampak mematung. Alona kini berbalik badan, berniat kembali ke rumah. Namun, baru saja ia mau melangkah pergi, mendadak Arya menarik lengannya. Membuat tubuhnya terputar hingga berhasil mendarat dalam pelukan Arya. Pria itu memegang kedua pipi Alona lalu menyelamkan ciuman dalam bibir Alona. Membuat Alona terkejut. Matanya sampai terbelalak. Untuk sesaat ia masih terbelalak, hingga perlahan bola matanya mulai menyipit lalu nyaris tertutup. Ia ikut hanyut dalam kecupan hangat itu.


*****


Saat pria itu masih menunggu keempat rekannya berpencar. Mendadak netranya menyalak ketika melihat seujung baju bergerak-gerak di samping bak sampah. Pria itu perlahan berjalan ke arah itu, langkahnya tak menimbulkan suara sedikitpun. Hingga tak membuat curiga sosok yang bersembunyi di sana.


Semakin dekat semakin jelas terlihat tangan yang bergerak-gerak.


Pria itu sudah berdiri di belakang sang gadis. Terlihat layar yang menyala dari handphone sang gadis. Saat itu juga ia langsung memegangi lengannya. Gadis itu terlonjak kaget.


"Kenapa harus kabur sih?? Kalau kamu terus begini, jangan salahkan kami kalau berbuat kasar!"


"Ehh!!"


Nguing!


Nguing!


Nguing!


Seketika terdengar Alarm sirine mobil dari polisi yang mendekat. Membuat Jesica dan pria itu kaget bersamaan.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2