
Alona dan Arya sudah tiba di restoran fast food. Tempat yang paling dekat dengan area gerbang festival. Segera mereka memilih untuk duduk di meja bersebelahan dengan kaca transparan. Tempat yang dapat terlihat dengan jelas pemandangan taman di seberang jalan. Di mana para pedagang kaki lima dan para pengemis berjejer rata.
Seorang pelayan langsung mengahampiri keduanya, karena keduanya sudah lapar, cukup singkat mereka memilih menu. Dan kini hanya tinggal menunggu tersaji. Minuman sudah lebih dulu datang sebelum menu utama.
"Gimana punggungnya? Udah mendingan kan?"
"Iya, enakan! Obat turun temurun dari keluarga loe manjur juga, ya!"
"Iya, dong! Gak bohong kan gue!"
"Iya, iya!" Arya menyedot orange juice miliknya yang sudah tersaji di meja. "Oh iya, ngomong-ngomong, dari tempat kita duduk ini, dulu pernah gue lihat seorang cewek di seberang sana! Duduk sendirian."
Deg!
Alona berusaha fokus memandang ke arah sana. 'Itu bukannya tempat gue dulu ngobrol sama Mamang cilok ya! Apa barusan dia bicarain gue?'
"Tau gak, gue sempat ngira tuh anak ngemis loh!" Tertawa meledek.
'Tuh kan bener, dia nyindir gue!' rutuknya dalam hati. "Teruss??"
"Yaa, gue samperin aja dia!"
"Oh iya! Gue juga ingat, waktu itu ada seorang cowok yang mendadak nelpon gue, kelimpungan nanya posisi gue, kayak ayam kehilangan induknya gitu!"
"Masa sih!! Waaah! Kebetulan banget ya, kita punya cerita yang hampir sama!"
"Hahaha!" tawa Alona dibuat-buat agar terdengar membahana. "Jayus loe! Garing!" Seketika nadanya ketus. Meluapkan emosi.
"Eh, kok elu yang marah sih? Ini kan cerita gue!"
"Au ah! Serah lu!" Ketus. Alona memalingkan wajah. Kini tawa Arya terdengar lebih keras dari Alona.
"Udah puas ngeledeknya??"
"Belum!"
"Ya udah lanjutin! Mumpung lu punya pendengar setia di depan loe, puas!"
"Ahaha! Ampun, udahan ya marahnya."
Alona masih tersulut saja emosi. Membuat Arya membatin. 'Astaga, anak ini labil banget ya! Kok bisa ya gue kepincut sama ABG begini?' Netranya menatap lekat gadis di hadapannya.
"Alona!"
"Hmm!"
Arya meraih lengannya.
Deg!
Seketika darah dalam urat nadi Alona berdesir, pun dengan jantungnya yang berdegub cepat seakan hendak melompat. 'Omg! Dia pegang tangan gue! Jantung oh jantung! Plis jangan meloncat!'
"Alona!"
"Emm!"
"Gue cinta sama loe!" Pernyataan Bima kembali membuat pipi Alona memerah. "Apa loe juga suka sama gue?"
'Ah, dia pake nanya segala. Gak tau apa, ini jantung udah kayak lomba maraton aja saking berdebarnya. Ya pasti jawabannya iya lah! Dasar gak peka!' Si gadis membatin. "Gue rasa, lu udah tau jawabannya!"
"Iya, gue bisa tebak jawabannya. Tapi, gue juga pengen dengar langsung dari elo! Buat mastiin!"
Alona masih diam. Canggung. Hanya bola mata yang sesekali berkedip.
"Oke, kalo loe gak bisa jawab juga gakpapa! Tapi gue mau tanya, kalo misal kita bener jadian, apa lu bisa terima kekurangan dan kelebihan gue?"
__ADS_1
"Bima, semua orang punya kekurangan atau pun kelebihan. Bagi gue itu cuma bonus. Sedang yang utama itu, ketulusan!"
"Wahh, lu puitis juga ya, Sayang!"
"Ahh apa sih?" Alona malu.
"Loh, pipi loe langsung merah aja ya kalo di puji!"
"A-apa?"
"Ih, makin merah!" Arya menunjuk sambil tertawa meledek.
"Bimaaa!" Aghhh! Lu ledek gue mulu, ya!" Spontan lengan Alona menghambur ke dada Arya. Memukulinya pelan.
"Iya, ampun, Sayang, ampun!"
Keduanya kini semakin akrab, bahkan saat menu sudah tersaji, mereka tetap sibuk bercanda.
"Oh iya, Alona, apa lu punya rahasia yang mungkin belum gue ketahui?"
'Rahasia? Sebenarnya ada! Ini mengenai kebusukan Jesica. Pengen banget gue ungkapin, tapi gak punya bukti, dan juga takut membuat gue kembali frustasi mengingatnya.' Gadis itu mendadak diam tak menyahut. Melamun.
"Alona!"
"Ah iya!" Tersentak kaget.
"Kok diem??"
"Ehh, gue ...."
"Oke, lu boleh cerita nanti kalo udah siap!"
"Hmm! Lu sendiri, apa ada rahasia yang mungkin berusaha loe tutupi?"
"Ada!" ******* menu di hadapan tanpa menatap.
"Tunggu waktu yang tepat. Lu bakal tau semuanya!"
'Apaan sih? Kok rahasianya terkesan seperti menyimpan suatu hal yang besar! Ah, mungkin cuma perasaan gue!'
*****
Jesica berjalan lesu menuju supermarket. Dan sesekali masih menjeluak karena rasa mual yang semakin menjadi-jadi.
"Duuuh! Kok jadi beneran mual sih!" rutuknya. Gadis itu langsung mengahampiri bagian kasir, karena yang dibutuhkan hanyalah obat herbal pengurang masuk angin.
"Beli berapa, Neng?"
"Satu aja!" jawabnya. "Hueee! Hueee!" Kembali Jesica mual, kali ini sudah tak dapat tertahan. Gadis itu berlari ke arah bak sampah yang terletak di luar supermarket. Memuntahkan isi cilok yang sebelumnya mengisi perut keroncongan itu.
Kembali ia ke kasir. "Berapa totalnya?"
"Lima ribu! Gak sekalian sama tespeck?"
"Apa??" Shok mendengar tawarannya. Seakan menuduh sesuatu yang bukan-bukan. Namun, rasa penasaran mendadak menggerayungi pikirannya. Hingga membuatnya memutuskan membeli satu. "Iya, sama tespeck satu!" tukasnya pelan.
Sepanjang jalan gadis itu lesu menuju toilet umum wanita. Masuk dan langsung mengurung diri dalam bilik, menyobek plastik segel dari benda kecil itu. Dengan rasa deg-degan ia mencoba memasukkan benda itu ke dalam urine yang sudah ditampung.
Netranya memejam selama satu menit. Dengan sedikit gemetar, tangannya mengangkat benda kecil itu.
Kini terpampang jelas dua garis merah di atas benda tipis di tangannya.
"Apa??" Melotot tak percaya. Jesica yang masih duduk itu seketika tersandar di atas penutup kloset. Tangannya gemetar tak percaya bahwa kini ia tengah berbadan dua.
'Gak! Gak mungkin, alat ini pasti salah!' Meringis di dalam bilik. Diraihnya ponsel berusaha menghubungi Rendra.
__ADS_1
Tuuuut!
[Halo??] Sambungan dari telepon.
[Rendraaa! Lu di mana?] Isak tangis Jesica terdengar parau.
[Kenapa lagi lu, pake nangis gitu?]
[Ada sesuatu yang lu harus tau]
[Ya udeh, apaan?]
[Gue hamil]
[Ah! Apaaa??? Serius loe??]
[Iya, gue serius!]
[Tapi, anak itu belum tentu anak gue kan!]
[Apaa?? Rendra, gue cuma berhubungan sama elo. Sudah jelas ini anak loe!]
[Ah, gue gak percaya!]
Tut! Tut! Tut! Panggilan terputus.
[Rendraaaa! Rendraaa!!]
"Brengsek! Cowok sialan!" Jesica menangis sesenggukan. Hening sesaat. Hanya isak tangisnya yang mendengung dalam bilik.
Suara langkah kaki para wanita mulai memenuhi ruang toilet itu. Menggema dalam indera pendengar Jesica, semakin lama semakin dekat langkah mereka dengan pasti memasuki area toilet wanita. Bising. Obrolan mereka hanya seputar gosip dan gosip. Namun, Jesica tak memerdulikannya. Hingga lambat laun obrolan mereka seperti penjurus padanya.
Lagi-lagi ia tak peduli. Di bukanya Aplikasi wechat untuk mengirim pesan pada salah satu teman sekantornya, Vika.
"Eh tau gak? Tadi pagi gue ngelihat Jesica, loh!"
"Lah emang kenapa kalo lu ngelihat dia?"
"Tumben loh dia beli bubur nasi!"
"Masa sih?"
"Iya, suer, gue gak bohong!"
"Gue juga ketemu dia tadi pagi! Waktu gue nunggu cowok gue. Ternyata dia di jemput sama Pak Direktur!"
"Ah masaa???" Suara kaget itu terdengar nyaris serempak.
"Iya, serius gue!"
"Ih, tuh anak, mau sampai kapan ya dia nipu kita! Dia pikir kita gak tau kalo barang-barang yang dia pake KW semua."
"Iyaa! Belagak sok kaya."
"Udah gitu, tega banget dia merusak mental temennya, membuat foto vulgar!"
"Iya, bejat banget ya pikirannya."
"Eh, harusnya kalian gak boleh ngomongin dia begitu, biar gimana pun kan halu-nya dia udah cukup menghibur kita!"
"Iya, bener! Bener banget!" Gelahak tawa mereka terdengar melengking dalam rongga telinga Jesica.
"Eh, ada chat dari Jesica nih?"
"Mana, mana?? Wah, cepat banget ya dia ngebuhungi, baru juga di omongin! Udah kayak hantu aja!"
__ADS_1
Jesica yang mendengar obrolan mereka semakin lemas, hatinya hancur tersayat-sayat. Tak menyangka ternyata semua temannya bermuka dua. Mereka terlihat baik di depan. Tapi ternyata, menggosipi dirinya saat di belakang.
Bersambung ....