
Sementara itu, Bima yang keluar dari kamar Bobby tampak terhuyung berjalan di sepanjang pinggiran kolam dalam villa.
"Duuuh! Ada apa sih dengan gue? Kok mendadak dada gue berasa sesak ya?!" Berkali-kali ia menepuk dadanya berharap dapat mengurangi rasa sesak yang tiba-tiba melanda.
"Apa yang terjadi sama gue? Apa gue coba periksa ke dokter aja ya?" Kembali ia bergumam. Masih bingung dengan perasaannya sendiri.
Hatinya sesak begitu menyaksikan Bobby yang menyatakan langsung perasaannya pada Alona. Ia tak menyadari bahwa sebenarnya dirinya cemburu. Arya terlalu sibuk membohongi perasaannya.
Langkahnya mantap menuju ruang dapur. Meraih sebotol minuman suplemen yang menjadi konsumsi rutin dari dalam mesin pendingin es. Lalu menenggaknya hingga nyaris tak tersisa.
"Kenapa gue merasa galau gini sih? Bukannya bagus ya kalo Alona jadian sama Bobby. Itu artinya kan gak ada lagi wanita pembuat onar yang bakal ganggu hubungan gue sama Jesica."
Ia menghela napas berat. Beranjak menuju kamar. Mengganti pakaian dengan setelan jogging. Satu buah handuk sudah melekat di atas bahunya. Dan langsung menuju jalan tanjakan tepat di belakang villa dengan berlari kecil.
"Bimaa!"
Pria itu menoleh. Sosok Jesica hadir dan berhasil mengalihkan pikirannya. 'Astaga! Gue sampai lupa kalo tadi ke villa ini bareng Jesica!'
"Dari mana aja lu, Bim. Gue dari tadi nyariin elo!" Napas si gadis tersengal. Sepertinya ia lelah berlari ke sana kemari mencari Bima.
"Jesica!" Pria itu tertawa kecut. "Sorry, gue sampai lupa kalo tadi udah bawa loe ke villa ini!"
"Ah, gakpapa! Lupain! Tapi lain kali jangan tinggalin gue lagi yaa!"
Pria itu terkekeh. Nyaris membuat sepasang bola matanya tertutup rapat.
"Lu gak jadi jenguk Alona?"
"Alona?"
"Iyaa!"
"Udah tadi, tapi katanya dia butuh istirahat untuk sementara waktu. Jadi gue berniat pulang aja. Cuma begitu keluar, gue udah gak ketemu sama elo. Loe sih tega banget tinggalin gue!"
"Ahahah! Maafin ya, Jes! Gue tadi shok, jadinya lupa kalo udah ke sini bareng loe!"
"Shok? Kenapa? Lu ada masalah apa?"
Deg!
'Astaga! Ngomong apa gue barusan? Hampir aja gue keceplosan! Masa iya gue mau bilang kalo gue shok dengar Bobby nyatakan perasaannya sama Alona. Duuh! Kayaknya gue mulai gila!' Pria itu diam sejenak. Wajahnya terlihat risau.
"Bim? Kok diam? Lu gakpapa?"
"Ahahaha iya! Gakpapa!" Kembali Arya tersadar dari lamunan. Spontan lengannya menggaruk leher belakang.
"Oh iya! Mau jogging bareng gue gak sebelum gue antar lu balik?"
"Boleh!"
Kedua insan itu mulai menyusuri jalan dengan lebar satu meter sejauh satu kilo meter. Tak hentinya mereka bercengkrama sepanjang jalan.
Masih dengan gerakan berlari kecil.
"Jes!"
"Hmm!"
"Menurut loe, aneh gak kalau ada dua cowok yang suka sama satu cewek!"
"Gak aneh tuh!"
"Gimana kalo dua orang itu bersahabat?"
__ADS_1
"Yang pastinya, mungkin karena cewek itu menarik!"
'Alona menarik? Apa iya ya? Rasa-rasanya cewek itu gak punya daya tarik,' batin Arya bergumam.
"Gitu yaa?"
"Iyaa! Mang kenapa lu nanya hal gini sama gue?"
"Gakpapa! Ini kisah cinta temen gue! Kemarin temen gue curhat, minta solusi!"
"Oh yaa? Yakin? Bukan cerita cinta elo?"
Deg!
"Apaa?"
"Ahahaha! Biasa aja dong ekspresinya! Kayak lagi ketangkap basah aja!"
Mendadak Arya tertawa kecut. Yang dikatakan Jesica benar. Dia memang sedang tertangkap basah. Meski sebenarnya ucapan Jesica hanya sebuah candaan. Tapi tetap saja berhasil membuat Arya tegang untuk sesaat.
Hanya saja Arya tak tahu dengan pasti, apakah Jesica tau siapa wanita yang ia maksud.
Gadis di sampingnya itu tersenyum-senyum sendiri. Arya menatapnya heran. Sedang Jesica tak menyadarinya.
'Gue yakin, cewek yang Bima maksud itu pasti gue!' batinnya bergumam. 'Dan dua cowok yang berebut itu Bima sama Bobby! Ah .. enaknya jadi cewek cantik! Hihihi!'
"Jesica? Lu kok ketawa sendiri?"
"Ahahha! Gakpapa!"
"Hmm!"
Kali ini Jesica sudah salah mengartikan maksud Arya. Ia mengira Jika wanita yang disukai Arya dan Bobby itu adalah dirinya.
Namun, wanita yang sebenarnya disukai oleh mereka adalah si polos dengan segala tingkah gilanya. Ya, mereka berdua telah jatuh hati pada Alona.
Tap! Tap! Langkahnya terdengar mendekat.
Alona kembali ke kamar di mana ia menemukan dirinya terbaring sepanjang malam. Sosok Bobby masih terpampang jelas berdiri di depan satu buah lemari gantung.
"Kirain udah gak mau balik ke sini?" tukas Bobby.
"Ih! Gila kali gue keluar beneran pake baju tidur begini!"
"Cih!" Lirih pria itu tertawa.
"Kenapa loe ketawa? Ngeledek gue, loe?"
Ia menoleh ke arah si gadis. Satu pasang mata itu menatap lekat. Sedang jemarinya cekatan mengaitkan kancing-kancing baju di dada agar menutupi tubuh sixpack-nya secara sempurna.
Seketika Alona tersadar dengan apa yang ia lihat.
Glek!
"Oey! Bobby! Lu kasih peringatan dong kalo lagi ganti baju!" Nada menggertak itu terdengar seperti tertahan. Pria itu tersenyum getir.
"Kenapa gue harus ngomong sama elu kalo ganti baju? Ohh ... lu pengen lihat body sixpack gue ya? Telat! Udah kepasang nih bajunya!"
'Aggghhh! Sialan! Hinaan macam apa ini!' Wajah si gadis pucat menahan malu dan emosi.
"Kenapa? Gak usah malu-malu gitu lah buat ngakuin kebenarannya. Lu suka kan lihat body gue!" Menggoda. Wajah Alona semakin merah.
"Sembarang banget loe kalo ngomong!"
__ADS_1
"Kenapa emang? Gue gak salah omong kan? Lu takut bakal naksir balik ke gue karena lihat body gue, ya!" tawanya terdengar satu otkaf lebih melengking.
'Aggghhh!' Si gadis semakin geram. Nyaris saja telinganya terbakar menahan emosi saat harus mendengar ledekan Bobby.
"Heh! Jangan kegeeran ya!"
"Kegeeran? Gak tuh! Emang bener kan! Lagian, ini kan kamar gue! Terserah gue dong mau ngapain!"
Deg!
'Iya juga sih! Ini kan kamarnya dia! Issshh! Tapi kan bukan berarti dia bisa ganti baju seenak di depan wanita yang bukan kekasihnya. Kan gue jadi grogi!"
"Kenapa diam?"
"Gakpapa!"
"Emm! Kirain mau bilang kalo semua ucapan gue bener?!"
'Buset! Nih orang punya ilmu apa? Kok semua bahasa batin gue kayak kebaca sama dia!' si gadis kembali membatin.
"Kagak tuh!"
"Yakin?"
"Haqqul yakin! Udah kelar belum? Buruan keluar! Mana baju gue yang kemarin? Gue mau ganti!"
"Baju elo? Hmm .. lu gak penasaran sama orang yang udah gantiin baju loe?"
"Apa?"
Glek!
'Sialan! Apa dia mau bilang kalo yang ganti baju gue kemarin itu dia? Apa itu artinya .. dia lihat badan gue tanpa busana! Agghhh!' Alona menggeleng kepala cepat.
"Oey! Alona, loe kenapa?"
Gadis itu diam. Hanya tatapan sinis yang ia layangkan.
Bobby tertawa getir. Tampak meraih sesuatu dari dalam lemari itu. Berjalan mendekat ke arah Alona. Membuat si gadis itu mundur perlahan.
Deg!
"Lu, lu? Mau ngapain?"
Bobby semakin dekat. Nyaris membuat langkah Alona terhenti saat tubuhnya berhasil mendarat pada dinding.
Pria itu berdiri sangat dekat. Bibirnya tersenyum getir.
"Bobby! Jangan macam-macam ya! Gue bisa silat loh!"
Satu buah tas belanjaan di sodorkan di hadapan Alona.
"Nih! Tegang amat! Loe kira gue mau nyium elo? Kepedean!"
Dag dug dag dug!
Pria itu beranjak keluar kamar tanpa menoleh.
"Buruan yaa! Gue tunggu lu di bawah!" serunya tanpa terlihat lagi batang hidung yang berbicara.
Alona terduduk! "Sialan! Kenapa dada gue bedegub-degub sih!" Wajahnya lesu. Melirik tas belanjaan yang diberikan Bobby padanya.
"Oh ternyata baju ganti!" Diraihny baju itu, mengeluarkannya.
__ADS_1
"Wah! Selera Bobby bagus juga!"
Selang beberapa saat ia bangkit. Dan segera mengganti pakaian dengan baju yang diberikan Bobby.