
Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, tapi pria kaya yang biasanya sudah rapi di jam segitu masih terkapar di atas ranjang. Ia lelah, semalaman bergadang mengurus berbagai bisnis panas hingga kasus yang melibatkan kekasihnya.
"Alona!! Mana calon suamimu? Kenapa jam segini dia belum nongol? Apa dia molor??" tanya Ibu Alona yang tengah sibuk mengerjakan berbagai pekerjaan di dapur. Sedang saat itu Alona masih duduk di kursi tepat di depan meja makan. Meminum segelas susu dan sepotong roti sebagai sarapannya.
"Mungkin dia kecapean, Mak! Jadi bangunnya tetat," jawabnya berusaha mencarikan alasan.
"Capek apanya! Bukannya sejak pulang dari acara dinner dia langsung tidur?" Ibu Alona terus saja berceloteh dengan jemari yang juga tak henti bekerja.
'Apa?? Jadi semalam ibu gak tau kalo Arya dan aku berada di halaman. Huh! Syukurlah! Kalau ketahuan bisa brabe urusannya!' Wajah Alona tampak menegang saat membatin.
"Heh! Kenapa pagi-pagi begini kamu melamun? Sana bersihkan pekarangan! Jangan lupa, pindahkan bibit bunga yang dikirim bibimu kemarin ke dalam pot!" Ibu Alona melintas di hadapan dan membuatnya terkejut.
"Pot yang mana??"
"Cari aja! Ada Emak taruh pot yang baru Emak beli di pasar kemarin!" Ucapnya sambil tak menghentikan aktifitasnya.
"Iya, Mak!"
"Sekarang, ya!"
"Iyaa!!"
"Kalo kamu capek! Ajak saja calon suamimu itu untuk membantumu!"
"Maksud Emak, Arya??"
"Ya, iya! Siapa lagi? Memangnya ada banyak Arya yang lain?"
"Ehh!! Ya kagak, Mak!"
"Ya udah, buruan! Sekalian bangunin calon suamimu tuh!"
"Iya, iya!"
Alona bangkit dari tempat duduknya. Menuju kamar tidur yang di tempati sementara oleh Arya dan Bobby selama tadi malam. 'Duuuh! Apa yang harus gue lakuin ya?? Belum juga hilang rasa malu gue yang tadi malam. Sekarang harus masuk ke kamar dan membangunkan dia!'
Deg!
Deg!
Jantung Alona berdegub saat membuka pelan daun pintu.
Kriieet!!
Zzzz ....
Zzzz ....
"Ternyata dia masih tidur!" gumam Alona. Gadis itu mengendap-endap agar langkahnya tak terdengar oleh pria yang tidur dengan posisi tengkurap di atas ranjang itu. Ia menarik sebuah bangku rias, merapatkannya ke pinggir ranjang.
Duduk dan meletakkan kedua sikutnya di ranjang, menautkan jemari di dagunya. Gadis itu mulai menatap lekat wajah calon suaminya itu. Tanpa ia sadari, senyum tulus bahkan sudah mengembang di atas bibir mungilnya.
"Arya, aku gak pernah menyangka, kalo cintaku ternyata terbalaskan! Aku seneng banget," lirihnya.
"Aku juga!" sahut Arya yang matanya masih terpejam. Tapi terlihat jelas bibirnya melebar. Alona terkejut.
"Ehh!! Kapan kamu bangun?? Apa dari tadi itu kamu cuma pura-pura tidur?"
"Iya!" Tertawa getir. Arya langsung bangkit. Duduk dan mengusap kedua bola matanya. "Masih pagi udah main nyelonong aja ke kamar! Udah gak sabar ya pengen ehem-eheman sama aku??"
__ADS_1
"Eh, apaan sih!" Alona malu dan kesal.
"Hehe! Becanda, Sayang! Aku tau kok Sayangku bukan gadis yang begitu!"
Alona masih setia dengan bibir manyunnya. Arya kemudian meraih kedua lengan Alona. Memegangnya erat. Membuat Alona tak berkutik. "Sini! Duduk sini!" Ia menepuk ranjang di sampingnya.
"Ah! Em!" Entah kenapa Alona seakan terhipnotis. Ia susah menolak permintaam Arya.
Gadis itu pun bangkit, memindahkan posisi duduknya yang sebelumnya di atas kursi ke atas ranjang. Dan tanpa di duga, Arya langsung menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu. "Sebentar aja! Plis, jangan beranjak!" lirihannya bahkan terdengar sedikit merengek, Alona tau jika kini prianya benar-benar lelah. Karena begitu banyaknya beban yang dipikul oleh kekasihnya itu.
"Kalau kamu ada masalah, cerita saja! Jangan dipendam! Aku siap berbagi masalah apa pun denganmu!" tutur Alona.
Pria itu memgangkat kepala dari sandarannya, menghadap Alona. Membuat kedua pasang mata mereka bertaut satu sama lain.
"Alona! Maafin aku!"
Gadis itu mengernyit mendengarnya. "Maaf untuk apa??" Ia bingung. Tak mengerti apa maksud tujuan Arya mengucap kata maaf.
"Maaf karena selama ini aku gak tau kalo ternyata kamu cukup menderita. Maafin aku, Sayang! Maaf aku terlambat mengetahui segalanya!"
Deg!
'Apa maksudnya Arya??' batinnya mulai bergumam. "Apa maksudmu, Ar?? Aku gak ngerti!" Lirih.
"Kenapa kamu selalu menutupi kebenarannya?"
"Kebenaran tentang apa??"
"Jesica!"
Deg!
"Selain membully dan membuatmu dilecehkan, apalagi yang belum aku ketahui??"
Deg!
Deg!
'Ternyata, Arya beneran tau!'
"Arya, dari mana kamu mengetahui semua ini??"
"Aku tahu darimana, itu gak penting! Tapi kenapa kamu menyembunyikan semua ini dariku? Apa itu penyebab kamu sempat depresi dan sampai drop??"
Alona tertunduk. Ia tak tahu lagi harus mengucap apa. Ia mengira kalau kini Arya sudah tak menginginkannya karena mungkin saja pria itu sudah melihat foto bugilnya bersama Rendra. Alona kini hanya bisa menitikkan air mata tanpa mampu berkata-kata lagi.
"Hei, Sayang! Kenapa kamu menangis??" Arya meraih dagu Alona. Mendongakkannya agar sepasang mata Alona masih menatapnya. Tapi justru isak tangis Alona yang semakin mengeras. Membuat Arya tak kuasa dan langsung memeluknya.
"Apa kamu akan meninggalkanku? Apa kamu benci denganku karena foto itu?" Tangisan Alona mulai meredam dan menyisakan isakannya.
"Hei, hei! Kenapa masih menangis?? Siapa yang membencimu? Aku sangat mencintaimu, Alona! Aku justru membenci orang yang sudah menyakiti kekasihku! Aku gak akan membiarkan mereka lolos!"
Deg!
"Maksudmu?? Apa yang mungkin akan kamu lakukan pada Jesica??"
"Aku akan memberi perhitungan padanya. Dia harus merasakan betapa sakitnya diperlakukan keji seperti yang kamu rasakan!"
"Tapi, Ar??"
__ADS_1
"Sayang! Jangan membantah! Aku gak suka jika kekasihku membantah!"
Deg!!
Jantung Alona mulai berdebar.
"Sayang! Dia harus mendapatkan ganjaran atas perbuatan yang dia lakukan!"
Kini Alona terdiam. Mau bagaimanapun, kekasihnya adalah orang yang cukup berkuasa. Ia tak berdaya untuk melawan ataupun membantah. Keduanya hening sesaat.
"Mas!"
"Ehh!" Mata Arya berbinar. "Kamu manggil aku apa??" Senyumnya kini terlihat melebar.
"Kenapa? Gak mau kalo Alona manggil Mas??"
"Ya mau dong, Sayang!" Ia kembali memeluk erat kekasihnya.
"Aduuh! Bisa lepasin pelukannya gak? Napasku sesak nih!"
Arya tertawa getir. Melepasnya pelan. "Kalo gitu, boleh cium lagi, gak??"
"Gak boleh!!"
"Kenapa??" Sedikit murung.
"Nanti! Tunggu kita udah sah!"
"Ih, kelamaan atuh, Sayaang!"
"Mas! Jangan genit deh! Biar gimanapun kita belum sah sebagai suami istri!"
"Tapi kan udah dekat!"
"Dekat apanya?? Mas gak dengar ya berita di tv??"
"Berita apaan??"
"Sekarang lagi musimnya virus corona!"
"Hahahhahah!" Arya terbahak mendengarnya. "Kamu ini, ada-ada aja! Dinegeri kita, itu kan cuma mitos."
"Loh, aku serius, Mas!"
"Mau virus corona sekalipun, gak akan menghalangi rencanaku untuk menikahimu secepatnya! Memangnya kamu gak pengen mencium bibirku lebih sering??" Arya menaikkan alisnya sebanyak dua kali. Wajahnya sudah berubah dari tegang menjadi penuh nafsu. Seketika rona wajah Alona memerah. Antara marah dan malu.
"Ihh! Kamu ini genit banget sih!" Di kibasnya selimut dan berhasil mendarat di wajah Arya. Gadis itu langsung kabur begitu ada kesempatan. Arya hanya tertawa melihat punggungnya yang mulai menghilang di balik pintu.
"Tunggu saja nanti jika sudah waktunya tiba! Aku gak akan membiarkan kamu kabur lagi!" gumamnya disertai tawa getir. Tapi tiba-tiba saja Alona kembali dan berbicara di depan pintu.
"Mas! Cepat bangun! Tadi Emak nyuruh aku bangunin kamu!"
"Hah! Emak? Tapi kenapa??"
"Bantu aku pindahin bunga ke dalam pot!"
"Apa?? Ta-tapi!!"
"Udah, gak ada tapi-tapian. Buruan bangun! Kutunggu di luar, ya!" Alona kembali pergi.
__ADS_1
"Apaa?? Gue, sang bos besar, disuruh bantuin nanam bunga! Apa-apaan!" Arya menggerutu kesal, turun dari atas ranjangnya.