Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Aku Pulang Saja


__ADS_3

Alona sudah kembali ke penginapan. Pun dengan Bobby dan Arya yang juga sudah berada di kamar mereka masing-masing.


Gadis itu bersungut di pojok kasur. Masih tak percaya dengan pernyataan Arya tadi sore saat mereka bertiga tengah makan.


Sore hari sebelum mereka kembali ke penginapan ....


"Wah, Resturant ini ... bukannya kita pernah makan steak di sini ya, Bim? Cuma beda tempat aja! Waktu itu kita makannya di pinggir pantai!" seru Alona pada Arya. Berusaha mengingatkan kenangan manis mereka saat bersama tapi seakan telah mati terkubur di hati Bima alias Arya.


"Ciyee, ciyeee! Yang lagi PDKT-an!" sambung Bobby menggoda kedua teman di hadapannya.


"PDKT apaan!" tukas Arya.


"Yaa, dibilang PDKT sih gak juga! Tapi lu ingat kan!" Alona kembali menegaskan.


"Hmm, gak ingat, tuh!"


"Buseeet! Baru juga tiga hari yang lalu. Masa udah lupa sih?!"


"Ehehe! Masa sih? Gak ingat gue!"


"Etdaah. Itu otak atau dengkul?! Belum juga tua udah pikunan."


"Gue bukannya pikun!"


"Terus apa coba?"


"Ini karena gue terlalu banyak memikirkan hal yang mungkin di luar kemampuan elo!"


"Yeee! Dia yang pikunan, malah berusaha mojokin gue! Lagian emangnya loe siapa, sok mikirin banyak hal? Paling juga yang dipikirin kebanyakan mesum doang, gitu aja belagu!" Ungkapan Jesica berhasil membuat Bobby terkekeh.


Wanita itu benar-benar tak akan pernah menduga jika pria yang sering ia sebut mesum adalah Arya Pohan, si bos yang tajirnya gak kehitungan.

__ADS_1


Tuuk! Arya mengetuk kepala si gadis dengan pelan.


"Dasar, Bocil! Beraninya lu katai gue mesum, belagu!" ungkapnya geram.


"Lah, kan emang! Weee!" Gadis itu meledek Arya. Membuatnya tertawa kecil.


"Ngeledek lagi!" tukasnya. Dikaitnya lengan di bahu si gadis. Membuat tubuh sang gadis meringkuk di bawah ketiak Arya.


"Ah! Apaan sih loe, lepasin!" Gadis itu melepas paksa lengan kekar Arya yang terasa berat di atas pundaknya. Berusaha menutupi perasaannya yang sebenarnya sedang berbunga.


"Udah, udah! Kalian kok pada ribut sih? Sampai lupa kalo gue juga ada di sini!"


Sontak Arya dan Alona tertawa bersama.


"Ahahaha! Maaf, Bob!"


"Iyeee!"


"Waaah! Wagyu steak, ini makanan yang pernah dibicarakan Jesica!"


"Oh ya?" sahut Arya dengan mata berbinar.


"Iyaa! Jadi .. Jesica itu pernah bilang sama gue kalau dia mau ngajak gue makan wagyu steak ini. Cuma masih belum kesampaian. Yaa .. karena kesibukan sih yang membuatnya sering gak punya waktu!"


"Sibuk? Memangnya Jesica sibuk ngurusin apa?"


"Mana gue tau?"


"Loh! Lu kan sahabatnya? Kenapa bisa gak tau?"


"Iya, gue emang sahabatnya, tapi bukan berarti gue harus tau semua urusan dia kali?"

__ADS_1


"Iyaa, Alona bener! Bukan berarti dia harus tau semua urusan Jesica dong. Emangnya dia emaknya? Lagian, lu kepo banget sih sama urusannya orang!


"Ya jelas gue kepo. Itu karena dia berharga banget di mata gue!"


"Emang seberapa berharganya sih dia di mata loe?" Mata Alona menatap lekat saat bertanya. Kali ini ia memberanikan diri menanyakan hal itu pada Arya. Agar dugaannya yang selama ini bersarang dalam benak itu bisa terungkap jelas.


"Ya, Jelas berharga! Saat ini, dia segalanya bagi gue. Gue .. suka banget sama dia!" ungkapnya tanpa menatap ke arah siapapun. Jemarinya asyik menyumpit menu di hadapannya. Melumatnya dalam mulut. "Alona! Lu mau kan bantu gue?"


Deg!


Seketika tubuh Alona melemah. Tatapan binarnya berubah sayu. Sedang saat itu Arya tak menyadari akan perasaan si gadis.


Hanya Bobby yang tampak prihatin. Ia tahu betul bagaimana perasaan Alona saat itu.


Di genggamnya tangan Alona dari samping. Gadis itu menunduk. Wajahnya tersembunyi di balik tangan yang ia letakkan di atas meja.


Beberapa air mata jatuh menitik, membasahi pangkalannya yang tertutup sempurna oleh jeans berwarna biru.


Ia menoleh. Menatap Bobby yang kini tersenyum ke arahnya. Pria itu berusaha menyemangati si gadis dengan menggenggam erat tangannya.


Namun, Alona tak kuasa. Dilepasnya genggaman Boby. Lalu menghapus buliran bening yang menjadi saksi atas kesedihannya.


"Gue balik duluan!" ungkapnya pada Arya dan Bobby.


"Loh kenapa? Gak makan dulu?" Arya kaget melihat Alona yang seketika bangkit.


"Mendadak gue gak nafsu!" tukasnya dan langsung berlalu dari hadapan kedua pria itu.


"Alona! Gue antar yaa!" pinta Bobby. Gadis itu mengangguk tanpa menoleh. Takut jika Arya melihat wajahnya yang kini memerah karena kembali menangis.


"Tu-tunggu! Kalian kok ninggalin gue??" Pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk kesekian kali.

__ADS_1


__ADS_2