Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Khawatir


__ADS_3

Bergegas Arya menuju motor besarnya yang terparkir di halaman villa. Meraih ponsel dan mencari nomor Alona. Mencoba menghibunginya.


[Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan]


Tut tut tut! Arya menekan ikon putus pada panggilan yang tak tersambung itu.


"Kenapa gak aktif sih?? Ah, apa gue coba hubungi Jesica aja. Mungkin aja anak itu tau!"


Kembali Arya meletakkan ponsel di sela telinga.


Tuuut tuuut!


Panggilan yang ia tujukan pada Jesica masuk. Namun, gadis itu tak mengangkatnya. Membuat Arya berdecak kesal.


"Ckk! Ahh!"


Diletakkannya ponsel pada kantung jaket kulit yang ia kenakan. Bergegas naik ke atas motor besar itu. Menstaternya lalu melaju dengan kecepatan tinggi.


'Alona, tunggu aja! Kali ini aku gak akan menyia-nyiakanmu!' Sepanjang jalan pria itu membatin.


*****


Begitu tiba di halaman parkir hotel borneo. Hal pertama yang terlintas dalam benaknya adalah menyambangi kamar kediaman Jesica, untuk menanyakan perihal kabar Alona.


Setengah berlari pria itu menaiki anak tangga, menuju kamar Jesica.


Sepasang sepatu pria dan wanita langsung memenuhi ruang penglihatan Arya begitu tiba di depan kamar itu.


"Sepatu cowok? Jadi Jesica udah punya pacar? Ah! Untung aja gue gak jadi ngejar dia!" gumamnya.


"Ketuk gak ya? Tapi kalo gue ngetuk takut mengganggu! Ahh ketuk aja lah!"


Tok tok tok!


"Jes!"


Sementara itu di bagian dalam kamar Jesica ....


Beberapa detik sebelum Arya mengetuk ....


"Sayaang, yang tadi itu memuaskan banget loh! Thanks ya, gue sayang banget sama elo, Jes!"


"Ahh! Iyaa! Tapi lu bener udah hapus file itu kan! Jadi foto bugil loe sama Alona cuma ada di ponsel gue kan?!"


"Iya, udah gue hapus kok!" ungkapnya berbohong. Tangannya menyentil pipi tembem Jesica.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!.


"Siapa tuh?"


"Gak tau!"


"Jes!" Panggilan seseorang dari luar.


Deg!


'Sialan! Itu kan Bima.' batinnya berdesis. "Rendra, lu sembunyi dulu, sana!"


"Kenapa gue harus sembunyi?"


"Udah buruan, lu sembunyi!"


Kembali Bima memanggilnya dari luar. Jesica dan pria bernama Rendra itu mulai gelabakan. Berlari ke sana kemari mencari tempat untuk bersembunyi.


Spontan Jesica menarik lengannya menuju toilet. "Lu diam di sini dulu ya, jangan berisik!"


"Tapi kenapa, Jes? Siapa cowok itu?"


"Udah! Pokoknya lu diam dulu di sini!" Langsung saja gadis itu menutup keras pintu toilet.


Baaam!


"Fouhh! Aman!"


Diraihnya satu buah baju piyama untuk menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan pants. Beranjak menuju pintu kamar.


Cekrek!


Kriieet!


Pintu terbuka lebar. Sosok penampakan Arya langsung memenuhi ruang penglihatan Jesica.


"Bima? Tumben pagi-pagi udah mampir!" Senyumnya mengembang.


Pria yang di sapa tampak tegang. Matanya membelalak. Bagaimana tidak, penampilan Jesica benar-benar vulgar. Namun, gadis itu terlalu lengah. Ia bahkan lupa menutupi satu buah tanda merah yang membekas di lehernya.


"Maaf, kayaknya gue ganggu! Gue balik aja ya!"


"Ah, jangan! Enggak ganggu sama sekali kok, Bim!" Jesica berusaha menahan lengan Arya agar tak pergi. Spontan pria itu menepisnya.


"Bima, lu kenapa?"

__ADS_1


"Gakpapa!"


"Apa lu kemari karena kangen sama gue?" ucapnya tersipu.


Bruuup! Arya tersedak mendengarnya.


"A-apa kangen loe? Haahah!" Tertawa kecut, menggaruk leher belakangnya. "Gue ke sini karena mau menanyakan kabar Alona!"


Seketika wajah Jesica berubah masam. "Oh, Alona! Ada tuh di kamarnya!"


"Beneran? Soalnya, dari kemarin gue gak bisa ngehubungi dia. Nomornya gak aktif! Gue khawatir terjadi apa-apa sama dia!"


"Hmm, tapi kayaknya .. Alona kurang enak badan!"


"Serius? Alona lagi sakit?"


"Emm .. iyaa!" Jesica sedikit pucat mengatakannya.


"Kalo gitu, gue ke sebelah dulu ya!" Seketika Arya langsung pergi menuju kamar Alona di samping kamar Jesica.


"Eh, Bim, tunggu!" Pria itu sudah tak lagi mendengar. "Sialan! Selalu aja Alona yang mereka khawatirkan!"


Baaam!


Kesal. Jesica menutup dengan keras pintu kamarnya.


******


"Alona!"


Tok! Tok! Tok!


Arya mengetuk-ngetuk kamar sang gadis. Tak ada jawaban. Hening. Kembali ia mencoba. Namun, hasilnya sama.


"Aneh! Jesica bilang dia ada di kamar."


Dilekatkannya kuping pada daun pintu hingga menempel sempurna. Berharap mendengar sesuatu dari dalam.


Hening. Tak ada tanda-tanda seseorang di dalam kamar. Seketika dada Arya berdebar. 'Apa mungkin sesuatu yang buruk terjadi sama Alona?'


"Alonaaaa!" Kembali ia memanggil seraya mengetuk keras.


Tetap saja tak ada jawaban. Bahkan kali ini Arya mulai mencium bau asap. Ia menunduk, tampak asap keluar dari celah lubang di bawah pintu kamar Alona.


Kaget. Tanpa pikir panjang, Arya mendobrak paksa pintu kamar Alona. Hanya dengan satu kali dobrakan, pintu itu berhasil terbuka.

__ADS_1


Dan betapa terkejutnya Arya mendapati Alona yang tergeletak di lantai, sedang api sudah mulai menjalar, mencapai sepray di ujung matras dalam kamar itu.


__ADS_2