Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Seharian Bersamamu


__ADS_3

Selang beberapa saat, salah seorang penjaga butik menghampirinya. Penjaga yang sedari tadi tertawa geli memperhatikan tingkah Alona.


"Mau pilih baju yang seperti apa?" tanyanya.


"Yang santai aja!" sahut Alona.


"Oh yang santai! Sebelah sini, Kak!" Ia mulai mengarahkan Alona untuk memilih.


"Yang seperti ini kayaknya cocok buat body mungil Kakak!" unjuknya pada satu buah baju di tangan. Tampak dua buah tali sebagai pengganti lengan baju.


"Auu! Terlalu vulgar!" jawab si gadis.


"Ohh! Gak suka yaaa. Hmm, kalo gitu yang ini, gimana?" Kembali ia menunjukkan satu buah dress bermotif bunga. Dress yang panjangnya satu jengkal di atas lutut dengan bagian lengan yang panjang.


"Yang itu kayaknya bagus!" ungkap Alona.


Tak ingin membuang waktu, segera Alona mencoba. Selang beberapa saat ia keluar dari dalam kamar ganti.


Dan tak disangka, ternyata Arya sudah menunggunya di luar. Duduk pada sebuah kursi, dengan tangan melipat ke atas dada.


Pria itu kemudian menatapnya.


Terlihat sebuah gaun yang tampak cocok melekat pada tubuh mungil Alona, rambut yang biasa di kuncir, ia biarkan terurai, kecantikannya nyaris menyamai jukyung lim.


Arya terpana. Kaget dan tak percaya melihat penampilan Alona saat keluar dari kamar ganti itu. Cukup lama pria itu memandangnya tanpa berkedip. Setelah beberapa saat, barulah ia kembali tersadar. Digelengkannya kepala dengan gerakan cepat.


"Ada apa??" tanya Alona.


"Gak apa-apa!" sahutnya.


"Gak cocok ya?? Ya udah, gue ganti lagi aja yaa!"


"Ehh, ehh! Gak perlu! Ntar kelamaan!" tukasnya, ucapan Arya saat itu tak sesuai dengan isi hati. "Lu tunggu di sini sebentar, ya!"


Terlihat langkah Arya menuju kasir. Ia langsung mengeluarkan sejumlah uang setelah menanyakan total harga.


"Terima kasih! Silahkan datang lain kali!" ucap si kasir setelah transaksi selesai. Sedang tangannya tampak sibuk membungkus sesuatu.


"Hmm!" sahut Arya.


"Pasangan kekasih yaa?" tanya si kasir yang mendadak membulatkan mata Arya.


"Hah??" Arya terkejut.


"Semoga langgeng yaa!" ucapnya.


"Tapi dia bukan pacar ...."


"Mesuuuum! Buruan!" Mendadak Alona memanggilnya.


Arya yang saat itu tengah bertatap wajah dengan si kasir mendadak pucat dengan senyum tertahan di bibir.


Tampak wajah si kasir yang berusaha menahan tawa.


"Sabar istrikuuu!" sahut Arya beralibi bahwa Alona istrinya untuk mengurangi rasa malu.


"Ini! Ada hadiah untuk kalian!" Si kasir menyerahkan sebuah cindera mata.


"Ah! Gak perlu, Mbak!"


"Gakpapa! Ini memang hadiah yang sering kami berikan untuk pengunjung dengan status pasangan kekasih!"


"Ahaha! Gitu yaa! Makasih, Mbak!" sahut Arya dengan tawa kecut.


Selesai membayar, ia mengajak Alona keluar dari ruang toko butik, dengan menjenteng dua kresek berisikan baju basah dan sepasang cindera mata.

__ADS_1


"Apa itu? Lucunya!" tanya Alona menunjuk cindera mata di tangan Arya.


"Oh .. ini hadiah. Lu suka? Ambil aja!" Arya menyerahkan cindera mata itu pada Alona.


"Seriuss?!! Waahh bagus bangeet!" Gadis itu terlihat bahagia saat menerima cindera mata yang diberikan Arya padanya.


Hal yang membuat Arya ikut tersenyum melihatnya.


'Gadis ini benar-benar polos!' batinnya bergumam setelah beberapa saat menatap Alona.


"Kita mau ke mana?" tanya si gadis.


"Makan! Tadi gue udah pesen dua porsi!"


"Oh yaa!"


"He-em!"


"Asyiiik! Pas banget nih, kebetulan gue lagi laper!" ungkapnya.


Saat itu Arya tak lagi menjawab. Hanya tawa kecil yang ia lontarkan.


Kini mereka sudah kembali ke meja yang berdekatan dengan pantai, melanjutkan sesi makan yang sempat tertunda. Beberapa menu sudah mulai dingin.


Melihat menu yang sudah mendingin, kedua insan itu pun saling pandang lalu tertawa bersama. Satu buah pemanggang sudah terletak di samping meja.


"Yah! Menunya udah mulai dingin nih!" ucap Alona.


"Gakpapa! Kita masih bisa panggang stieknya!" sahut Arya. Tak ada respon dari Alona.


"Lu, bisa makan stiek kan?!"


"Gak tau! Gue belum pernah makan beginian sih sebelumnya!"


"Apaa??Serius??"


"Jadi .. gue harus ganti menu nih?!"


"Gak usah! Ntar pemborosan! Biar gue nyoba! Kali aja bisa!"


"Hmm! Oke deh! Tapi kalo ternyata gak bisa, ntar pesan aja yah!"


"Oke deh! Stieknya lu yang panggang yaa!"


"Oke, tenang aja! Biar hari ini gue yang layanin! lu cukup jadi tuan putri!" ungkapan Arya berhasil membuat si gadis tersenyum manis.


Jemari Arya tampak cekatan saat memanggang daging di atas alat pemanggang.


Sekilas pria itu memang terlihat tegar. Namun, jauh dalam lubuk hati ia terluka. Masih membekas bayangan tentang Jesica saat tiba-tiba pergi dari hadapannya tadi pagi. Sedetik kemudian ia menggeleng.


"Kenapa??" tanya Alona.


"Gakpapa!" sahutnya.


"Oh iya! Maaf ya kalau selama ini gue memanggil loe 'mesum', itu karena gue belum tau nama loe!"


Arya terdiam mendengar penuturan Alona. Lalu kemudian tertawa tipis.


"Kenapa lu kok ketawa??" tanya Alona.


"Lucu aja! Jadi, lu panggil gue mesum karena gak tau nama gue??"


"Iyaa!"


"Astaga! Kenapa gak bilang sih! Nama gue Bima!"

__ADS_1


"Apa?? Bimaaa??"


"Kenapa?? Kok lu kaget!"


"Gakpapa!" sahut Alona sedikit menyengir. Seketika ia teringat dengan pria yang Jesica sebut dengan nama Bima, pria yang turun dari bus, dan saat itu Jesica langsung mengejarnya tanpa memikirkan nasib Alona yang tak memiliki uang.


"Apa mungkin, lu Bima temannya Jesica?!" Alona bertanya karena rasa penasaran yang menyesak di dada.


"Iyaa!"


Seketika Alona kaget mendengar jawaban Arya.


"Apa tadi lu sempat naik bus di dekat stadion. Trus mendadak turun? Dan setelahnya Jesica menyusul loe!"


"Iyaa, bener! Tapi soal Jesica mengejar, gue gak tau!"


"Terus?? Lu sempat ketemu Jesica?"


"Enggak!" jawabnya berdusta.


Alona terdiam sejenak. "Terus, kenapa tadi Jesica ninggalin gue? Padahal dia kan tau kalo gue gak punya duit!" gumamnya dengan raut sedih.


"Lu ngomong apa, Al?"


"Gakpapa, Bim!"


"Nah, begitu lebih enak. Panggil gue Bima! Okee!"


"Okee!"


Sepanjang hari, Alona dan Arya menghabiskan waktu di pantai. Keduanya pun mulai akrab.


Hingga menjelang senja, keduanya akhirnya memutuskan untuk kembali ke penginapan.


Sepanjang jalan mereka terus tertawa. Semua beban seakan lepas dan pergi dari kehidupan mereka.


Sedetik Alona terlupa dengan kehidupan pahitnya saat berperan menjadi tulang punggung keluarga, menggantikan peran ayah dan kakaknya yang kini sudah berkeluarga.


Pun dengan Arya. Pria itu terlupa sejenak dengan segudang urusan bisnis yang menjadi beban dan tanggung jawabnya sebagai seorang bisnisman.


Malam telah berlabuh. Sebelumya saat sore, keduanya menikmati pemandangan sunset di bibir pantai.


Kini, Arya dan Alona akhirnya tiba di parkiran hotel borneo. Segera Alona turun dari motor dan memberikan helm yang ia kenakan pada Arya.


"Makasih ya untuk perjalanannya hari ini!" ungkap Alona.


"Sama-sama!" sahut Arya dengan senyum ramah. Alona masih tertawa tipis dengan gerak-gerik malu.


"Emm! Gue masuk yaa!" Gadis itu mengucap seraya menunjuk ke lantai dua gedung sebelah.


"Hmm! Yaa! Hati-hati! Selamat malam Alona!"


Alona tersenyum bahagia mendengar sesuatu yang baru diucap Arya.


"Malam juga!" sahutnya.


Baru beberapa langkah gadis itu beranjak pergi, Kembali Arya memanggil.


"Alona!"


"Yaa??"


"Tolong! .. Jangan cerita apapun sama Jesica mengenai perjalan kita hari ini, oke!!"


"Oh .. iyaa!" sahutnya. Raut sang gadis kemudian berubah kecut. "Ishh! Kirain mau nembak!" gumamnya saat langkahnya sudah semakin jauh dari Arya.

__ADS_1


Sementara dari lantai atas. Tampak Jesica tengah menunggu Alona di ambang pintu. "Tu anak diantar sama siapa??" gumam Jesica sambil terus memperhatikan sang pria yang mengantar Alona.


__ADS_2