Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Kehadiran yang tak diharapkan


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Alona tak hentinya merocok, tapi yang terdengar lebih mirip kicauan burung.


Pria itu memilih mengacuhkan ketimbang mendengar ocehan Alona. Tak ingin jantungnya terus berdebar dan menjadi korban perasaan yang ia bawa sendiri. Ia tahu persis, saat ini sudah tak ada seupil pun harapan untuk memiliki Alona. Ketimbang menyakiti perasaan sendiri, lebih baik mengacuhkan sang gadis.


Jet yang membawa mereka akhirnya tiba di mainland streep. Landasan pribadi milik GCK grup.


Turunnya Bobby dari jet disambut oleh beberapa petinggi yang langsung menganggukkan kepala sebagai tanda hormat. Ya, derajat kehormatan Bobby hanya sedikit lebih rendah di bawah Arya. Sisanya, karena jasanya yang besar terhadap GCK grup, pria itu diperlakukan layaknya seorang Big Bos.


Keduanya kembali disambut oleh sebuah mobil mewah dengan seorang supir yang siap mengantar ke mana pun tujuan mereka.


"Antar kami ke toko bunga, lalu ke Rumah Sakit xxx!"


"Baik, Tuan!"


Segera mobil bergerak setelah keduanya masuk dan Bobby memberi perintah pada si supir. Pandangan Bobby terus membuang keluar kaca mobil. Sedang Alona sesekali melirik ke arah pria di sampingnya yang kini semakin bersifat dingin.


'Bobby kenapa ya? Gue rasa dia mulai berubah!' gerutu sang gadis dalam hati.


"Bobby?"


"Hm!" sahutannya singkat padat tanpa menatap.


"Lu kok masih betah menjomblo?"


Jleb!


Bola mata Bobby nyaris membulat mendengarnya. Pertanyaan polos Alona nyaris menusuk ke daging terdalam Bobby. 'Ni anak peduli apa ngejek gue sih?' Kesal. Ditatapnya Alona dengan pandangan dingin dan tajam. Membuat Alona tertawa canggung.


"Ehehe! Biasa aj dong ngeliatnya! Gue kan cuma nanya!"


Bobby kembali memalingkan wajah tanpa berbicara. Enggan menyahut ucapan Alona.


"Kalaupun lu berniat punya pasangan, gue saranin jangan sama Jesica?" Kini tatapan kernyit dari Bobby kembali menghujam ke wajah Alona.

__ADS_1


"Kenapa emang??" Pertanyaanya begitu singkat dan ketus.


"Pokoknya jangan! Dia bukan gadis yang baik!"


'Dasar Bocah! Apa otaknya itu kosong? Tanpa nyaranin gue juga gak akan mau kali! Lagian siapa yang mau sama wanita yang mengandung anak orang!' gerutu Bobby dalam hati seraya menyunggingkan senyumnya.


"Bobby, kok diam??"


"Iya, gue tau kok!" ungkapnya masih dengan nada ketus. Memalingkan wajah beberapa saat. Melamun. Namun, mendadak ia tersadar. 'Tunggu! Bukannya Alona berteman baik dengan Jesica, kenapa bisa gadis ini mengatakan temannya sendiri bukan anak yang baik? Hmm .. ada yang aneh!' Seketika tatapan penuh tanya ia layangkan ke wajah Alona.


"Kenapa ngeliatin gue kayak begitu??" Alona mengernyitkan keningnya.


"Alona, lu kan temennya Jesica, kok lu bilang dia gak baik sih? Apa lu lagi berantem sama dia?"


"Enggak kok! Gue masih temenan kok sama dia!"


'Bocah ini! Berbicara saja seperti anak kecil!'


"Ya, pokoknya dia anak yang gak baik untuk jadi pasangan! Udah gitu aja!"


"Gitu aja?! Kalau lu bilang dia gak baik, harusnya lu berikan alasannya dong!"


'Alasan?? Ahh, mana mungkin gue ceritakan semua kebusukan Jesica tanpa bukti! Bukankah gue akan terlihat seperti memfitnah. Ditambah, karena keadaan Jesica yang sekarang lagi dirawat, pasti Bobby gak akan percaya! Huhh! Ceroboh banget sih gue!' Alona menepuk pelan jidatnya.


"Gue gak bisa jelasin! Intinya gue cuma nyaranin elo untuk gak berhubungan sama dia! Terserah mau dengar apa kagak! Lagian, gue rasa lu udah gak nganggap gue temen!" Alona melipat kedua lengan di atas dada. Memasang raut serutuk mungkin. Membuat Bobby tertawa geli melihat tingkah kekanakannya.


'Alona, lu selalu berhasil bikin gue gemes! Sayang .. lu milik bos gue! Kalo aja gue dapat satu lagi wanita seperti elo! Tapi kayaknya itu gak mungkin!'


*****


"Dasar perempuan jalaaang! Apa kamu dilahirkan hanya untuk menjadi aib keluarga! Hah!!" Ibu tiri Jesica terus saja memaki sang gadis yang hanya memiliki sedikit tenaga, duduk di atas ranjang besi milik rumah sakit. Sedang tatapannya kosong ke depan.


"Heh! Jesica jawaaab! Apa kamu gak dengar aku sedang bicara!"

__ADS_1


"Apa perlu gue menyahut??"


"Anak ini! Sudah menjadi aib masih berani melawan! Aggghhh!!" Seketika tangan sang ibu tiri mengambang ke udara, dengan gerakan cepat ingin menghantam wajah Jesica. Tapi cepat ayah Jesica berlari dan langsung menahannya.


"Sudah, Ma! Sudah cukup!"


"Cukup matamu? Apa kamu gak lihat bagaimana anakmu berani melawanku? Aku bahkan belum memberi pelajaran terhadap anak bandel ini dan kamu sudah bilang cukup! Agghhh! Kamu dan anakmu sama saja!!" Ibu tiri itu menghempas tangannya dan langsung terlepas dari genggaman ayah Jesica. Menatap sinis ayahnya lalu beranjak keluar dari ruang inap Jesica.


Daaap!!


Dua orang pria dan wanita langsung memenuhi ruang penglihatan sang ibu tiri. Ya, Alona dan Bobby sudah tiba sedari tadi dan bahkan sempat mendengar perdebatan antara Jesica dan ibu tirinya.


"Siapa lagi nih?" hardiknya pada kedua insan di hadapannya.


"Kami temannya Jesica! Kami ke sini berniat untuk menjenguknya!" sahutan itu keluar dari mulut Bobby.


Raut sang ibu tiri terlihat tak enak melihat kehadiran mereka. Ia mulai menggerutu kecil. "Cih! Anak penyebar aib itu, kenapa temannya ini peduli padanya! Bikin malu keluarga saja!" Segera ia berlalu setelah meggerutu. Masih terdengar sisa-sisa ocehannya dari jarak beberapa meter. Lalu menghilang bersamaan dengan lenyapnya pandangan sosok sang wanita paruh baya itu di balik tembok.


"Eh, Nak Bobby!" sapa ayah Jesica. "Wah, Nak Alona juga ada di sini! Kapan kalian datang? Ayo masuk! Jesica sudah sadar dari sejam yang lalu!" Keduanya dikejutkan oleh ayah Jesica yang mendadak menghampiri mereka.


Keduanya pun mengangguk. Lalu mulai mengikuti langkah ayah Jesica memasuki ruang inap.


Begitu keduanya sudah berada dalam ruangan, terlihat jelas raut sendu di wajah Jesica, melamun dengan pandangan keluar jendela.


"Jesica! Lihat siapa yang datang!" ucap ayah Jesica pada putrinya. Gadis itu menoleh. Dan seketika saja bola matanya terbelalak. Ia sangat terjejut dengan kehadiran Bobby dan Alona. Satu buah buket merekat erat di tangan Bobby.


"Apa Ayah yang menelpon mereka??"


"Iya, Nak. Ayah rasa kamu pasti akan sedikit lega jika teman-temanmu berada di sini untuk menghibur."


Seketika uratnya melemah mendengar jawaban ya dari ayahnya. Hancur sudah harapannya untuk memiliki pria itu. Ayahnya adalah pria yang paling tak bisa berbohong. Kini, pria itu sudah pasti mengetahui alasan kenapa ia berakhir di Rumah Sakit.


bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2