Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Kehadiran Orang Ketiga


__ADS_3

[Halo, Presdir Arya]


"Ya, ada apa?" jawab Arya pada sosok di dalam telponnya.


[Kami sudah menemukan lokasi markas berandal yang Tuan cari]


"Bagus! Lalu, apa kalian sudah mendapat info tentang mereka?"


[Yaa! Mereka adalah kumpulan mafia terkuat di pulau ini!]


"Kumpulan mafia terkuat? Apa nama markas mereka?"


[Gagak merah! Dan mereka bekerja sama dengan ketua persatuan lekong di pulau ini]


"Ketua persatuan lekong? Ohh .. jadi begitu! Baik, tunggu saat yang tepat, kita akan buat pembalasan pada mereka! Mereka sudah berani menghinaku! Kali ini mereka tak boleh lolos!"


[Siap! Kapten Presdir!]


Arya mengakhiri percakapan itu dengan menutup telponnya.


"Tunggu saja! Aku akan membuat perhitungan pada siapa saja yang sudah berani menyentuhku!" gumamnya dengan senyum seringai.


________&&


Petang ....


Alona masih duduk di bibir pantai bersama Boby. Gelahak tawa tak terelakkan dari kedua bibir insan itu. Asyik keduanya bersenda gurau hingga terlupa akan acara pesta barbeque yang seharusnya di sudahi oleh Boby pukul 15:00 tadi.


"Lu tuh lucu banget yaah!" ungkap Boby masih dengan sedikit sisa tawa.


"Baru tau yaa?? Gak nyesal deh kalo loe temenan sama gue!"


"Ahahaa! Iyaa! Asyik banget ngobrol sama loe. Gak ngejenuhin!"


"Hmm .. makanya, harusnya lu kenal gue lebih awal."


"Lebih awal? Gimana caranya?"


"Lu cari aja di internet, CEWEK GOKIL, nah .. pasti ntar muncul nama gue!"


"Hahhaha! Ngaco banget ihh!"


Kruuuuk! Terdengar bunyi kroncong dari perut keduanya.


"Eeeh! Mereka udah pada demo aja!" Sontak keduanya kembali tertawa.


"Makan yuk, Al!"


Alona terdiam. "Lu aja deh!"


"Kenapa? Lu gak laper?"


"Laper sih!"


"Terus? Kenapa gak mau ikut makan?"


"Gue puasa!"


"Ahh! Bohong lu!"


"Iyaa!"


"Iya apa?"


"Iya, gue bohong!"


Seketika Boby menarik lengan Alona. Memaksanya bangkit dari tempat duduk. "Udaah! Yuk ikut gue! Gue tau tempat makan terenak di dekat pantai ini!"


"Ta-tapi, Bob!"

__ADS_1


"Ckk! Gak pakai tapi-tapian!"


"Tapi gue gak punya duit!"


"Ahh, masalah duit doang! Tenaaang! Gue yang bayarin kok!"


"Bener nih?"


"Ya iyalah! Kan gue yang ngajak! Tapi lain kali lu yang traktir yaa!"


"Iyaa, tapi ntar tunggu gue gajian yaa!"


"Siaap, Dek!"


Keduanya beranjak menuju resto terdekat dari bibir pantai. Namun tanpa mereka sadari, sudah setengah jam Jesica yang tadinya sibuk mencari Alona telah menemukannya di bibir pantai. Ia terkejut begitu menyadari pria yang menjadi teman berbincangnya itu ternyata Bobby. bukannya menghampiri mereka, gadis itu justru memantau keduanya dari kejauhan.


"Wahh! Gue gak nyangka, ternyata Alona tega berkhianat sama gue!" gumamnya.


"Baru beberapa hari gue curhat sama dia kalo gue lagi dekat sama Boby, sekarang dia malah asyik-asyikan di sini! Pantes gue cari-cari mereka gak ada di acara pesta barbeque! Jadi ternyata Alona main belakang! Oke, lihat aja! Gue bakal buat perhitungan! Gak peduli meski dia sahabat gue!" gumamnya dengan raut kesal.


Jesica terus memantau keduanya, tampak mereka berjalan menuju resto.


Namun, suatu hal membuatnya kembali terkejut. Bola matanya yang sipit nyaris membulat.


Tampak seorang pria datang dengan motor besarnya. Turun dan langsung menghampiri kedua insan itu.


"I-itu-kaan?? Motor cowok yang pernah dipakai buat ngantar Alona! Siapa cowok itu?" Dipicingkannya mata agar dapat melihat dengan fokus. Kembali ia terkejut.


"Apaa?? Gak mungkin??"


"Gak mungkin pemilik motor besar itu, Bimaa!!"


________&&


Baru beberapa langkah Alona dan Boby meninggalkan bibir pantai. Seketika keduanya dikejutkan dengan kehadiran Pria yang tiba-tiba menepuk pundak Boby.


Pria itu tak menyadari jika wanita yang kini bersama Boby adalah Alona si pembuat onar.


"E-Bim??" Wajah Boby nyaris pucat begitu melihat Arya yang tiba-tiba mendapatinya di pantai.


"Bam, Bim, Bam, Bim! Apaan? Lu kenapa ninggalin acara begitu aja! Gak ada tanggungjawabnya banget! Gue potong komisi baru tau loe!"


"Ar, loe bisa pelanin suara loe gak?" ungkapnya sedikit berbisik dengan bibir yang nyaris tak terbuka.


"Lu kenapa sih Bob?"


"Lu ngomong sama siapa, Bob?" Seketika Alona menyela.


"Alonaa?? Jadi? Dari tadi lu di sini sama Alona?" tanyanya pada Bobby. Pria yang ditanya hanya bisa tertawa nyengir.


"Kalo iya kenapa?" sahut Alona.


"Eh, gue ngomong sama Bobby ya bukan sama loe!"


"Terus kenapa kalo gue yang jawab? Lu mau apa?"


"Haiiss! Nih Bocil!"


"Mulai sekarang, apapun yang menyangkut dengan Bobby akan menyangkut dengan gue juga!"


"Loh, kok bisa gitu?" kilah Bobby.


Alona menyenggol sikut temannya itu. "Issshh! Iyakan aja, napa sih?"


"Alona, Alona! Lu tuh udah naksir masih aja belagak sok gak sudi!" sambung Boby.


"Apaan sih loe!" sahut Alona.


"Naksirr?? Ohh jadi kalian saling suka?" ungkap Arya dengan senyum yang mulai terukir di bibirnya.

__ADS_1


"Bukan begitu!" Serentak keduanya mengucap secara bersamaan.


"Sebenarnya, Alona itu ...."


Slaaap!


Dengan cepat Alona menutup mulut Bobby menggunakan telapak tangannya. Hingga hanya suara desauan yang terdengar dari mulut Bobby.


"Ehehe! Bukan apa-apa, kok!" sambung Alona.


Arya tampak bingung. Terlihat dari lengannya yang mendadak menggaruk leher bagian belakang.


"Oh iya! Lu ngapain masih di sini?" tanya Alona pada Arya. "Lu gak nyari Jesica? Gak jalan sama dia? Lu kan naksir dia!"


Ungkapan Alona berhasil mengernyitkan kening Arya. Pria itu bergumam, bagaiman bisa Alona tau kalau kini dirinya suka dengan temannya yang bernama Jesica itu. Ia mulai menduga jika Bobby yang telah membocorkannya pada si gadis pembuat onar. Seketika pandangannya melotot ke arah Bobby.


Seakan ada ilmu yang membuat keduanya mampu bercengkrama lewat batin. Bobby menyadari hal yang mungkin dipikirkan oleh Arya.


"Gue .. gak ada cerita apa-apa kok tentang cewek yang loe taksir itu. Gue juga gak tau, tuh anak tau dari mana!" ungkap Bobby.


"Kalian ngomongin apaan sih?"


"Bukan apa-apa!" sambung Arya.


"Ohhh!"


Ketiga pria itu terus melangkah dengan pasti. Meski mengukuti kedua temannya, Arya sebenarnya tak tahu ke mana tujuan mereka.


"Kalian pada mau ke mana sih?"


"Mau makan! Lapeer!" sahut Alona.


"Wah! Ikutan dong!"


"Gak usah! Lu pergi aja sama Jesica!" tukas Alona jutek.


"Lu kenapa sih, Al? Kayak orang yang lagi tekanan tinggu aja marah-marah mulu!"


"Iyaa, gue lagi tekanan! Habis lu gak pernah ngerti perasaan orang sih!"


"Orang? Orang siapa?"


"Orang cantik!"


"Orang cantik?? Kenalin dong!"


"Aggghhh! Ngeselin loe!" Gadis itu kemudian berjalan di depan keduanya. Kembali Arya di buat bingung. Ia melirik ke samping. Tampak Bobby yang sedari tadi tertawa kecil.


"Eh, tuh anak sebenarnya kenapa sih?"


Bobby hanya mengangkat kedua bahunya, seakan tak tahu apa yang terjadi dengan Alona.


"Ckk Ahh! Bohong lu! Pasti ada apa-apanya kan antara loe sama Alona. Apaan sih? Kasih tau gue dong!"


"Ada deh! Sampai tiba waktunya, lu pasti bakal tau juga!"


"Ahh! Gak seru loe!"


Sementara itu, di satu sisi ....


Jesica makin tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Alona? Gue gak nyangka, dia sekarang berubah drastis. Dia yang dulu jangankan ngobrol sama cowok, dekat aja gak bisa! Sekarang, di depan mata gue, dia nunjukkin kalo dia berhasil ngegaet dua pria tajir sekaligus!"


"Oke! Mulai sekarang gue gak bisa ngeremehin dia lagi!"


Gadis itu terus bergumam. Tak luput ia memotret ketiga insan yang tengah berjalan menuju resto menggunakan ponsel miliknya.


"Ini gak bisa dibiarkan!" gumamnya.

__ADS_1


mohon dukung author dengan vote! like dan komen kalian.


__ADS_2