Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Percakapan dengan Qea


__ADS_3

Mentari sudah mulai bersembunyi di balik ufuk barat. Cahaya jingganya berhasil memperindah suasana pemandangan desa tempat kelahiran Alona.


Gadis berumur hampir dua puluh tahun itu sibuk membantu ibunya memasak di dapur. Sedang adiknya tak hentinya bermain game online dalam ponsel Android versi lama. Berbaring di atas tikar di teras rumah, ditemani satu buah bantal boneka. Kakinya menjuntai ke atas dengan mulut yang tak hentinya merocok.


"Yeahh! Menaaang!" Lagi-lagi ia berteriak menyerukan kemenangan untuk ke sekianĀ kali.


Selesai menang tak lantas membuatnya puas. Kembali ia memainkan gamenya, seakan tak ada habisnya waktu yang ia gunakan untuk bermain. Tapi saat baru memulai permainan, mendadak jaringan dalam ponselnya hilang.


"Aduh! Sinyal jangan hilang dong! Aduh, lek lagi kaan!!"


GAME OVER.


tertera dalam layar ponselnya. "Yah, kalah deh! Ishh!! Ini semua karena hp tua ini. Harusnya gue udah ganti baru kayak temen-temen. Emak sama kakak terlalu pelit sih. Selalu aja katanya untuk biaya inilah, itulah! Huh!" Kesal. Gadis meletakkan ponselnya ke samping. Berbaring dengan posisi tengkurap. Sedang tangannya bertumpu di atas batal.


Tak sengaja, pandangannya melirik ke arah pria yang tengah duduk santai di kursi teras. Terlihat sibuk memainkan ponselnya.


"Wah, hp om itu mewah banget! Pasti harganya mahal!"


Bobby yang awalnya hanya fokus menatap layar dalam ponselnya tersadar kalau kini ia sedang diperhatikan oleh seorang gadis. Diputarnya kepala menghadap ke arah gadis yang tadi siang sempat berseteru dengannya itu.


"Ehh!" Qea tersentak kaget mendapati tatapan tajam menghujam ke arahnya. Seakan berkata 'Apa lu lihatin gue??' Dengan gugup ia membuang wajah.


"Kenapa ngelihatin gue terus??" Pertanyaan ketus itu mengagetkan Qea.


"Ehh! Siapa juga yang lihatin Om! Kepedean banget sih!"


"Cih!! Sok mengelak!"


Qea tak menjawab. Hanya memanyunkan bibirnya atas tanggapan Bobby. Tanda bahwa ia tak suka.


"Eh, Bocil. Loe gak mandi? Dari tadi pakai seragam sekolah mulu!"


"Bukan urusan loe!"


"Ah, iya juga sih! Kalau gitu, berarti Kakak sama Emak loe aja nanti yang ikut makan malam di hotel Tripadvisor." Entah kenapa, hari itu Bobby merasa ingin mengganggu adik Alona. Lebih tepatnya ingin membalas dendam.


Seketika mata Qea terbelalak. "Serius, Om?? Ikuuut!!!"


'Hahaha! Dasar Bocil. Sudah gue duga dia pasti akan kena jebakan gue!'


"Hmm .. kalo gue gak mau bawa, gimana??"

__ADS_1


"Yah, Om!! Masa tega ninggalin Qea sendirian di rumah!" Memasang wajah memelas. Berharap cara itu akan berhasil.


"Yaah, itu sih bukan urusan gue!"


Gadis itu semakin menyungutkan wajahnya. Membuat Bobby tertawa geli. "Hmm, kalau mau ikut sih boleh aja, tapi ada syaratnya!"


"Apa syaratnya?" Wajah Qea berbinar. Seperti ada titik harapan.


"Lu harus minta maaf dengan tulus sama gue dulu, baru boleh ikut!"


"Minta maaf seperti apa??" tanya Qea. 'Dia gak minta gue bersujud kan? Selama cara meminta maaf yang dia maksud masih normal. Gak apa-apa deh, artinya harga diri gue gak jatuh.'


"Gampang kok! Lu cukup duduk di depan gue, memohon dengan tulus!"


"Kok gitu banget! Padahal kan Om yang hutang lima ratus ribu sama Qea!"


"Kalo gak mau, ya udah! Gak ada yang maksa kok! Jangan nangis ya saat di tinggal sendirian nanti!" tawa Bobby terdengar meledek.


"Ahh! Ngeselin banget nih orang! Huh terpaksa deh, mau gimana lagi. Timbang gue ditinggal sendirian!" Gadis itu mulai duduk di depan Bobby. Menautkan kesepuluh jemari seperti orang yang meminta doa. "Tolong, maafin Qea ya, Om!"


"Oke! Permintaan maaf di terima!"


'Yahh, gagal deh gue dapat ponsel baru! Padahal kalo dapat lima ratus ditambah tabungan, pasti cukup buat beli hp yang gue incar!' celetuk Qea dalam hati.


"Eh! Tapi udah diterima belum nih maafnya??"


"Udah kok!" Kembali Bobby memainkan ponselnya. Gadis itu masih terlihat menatapnya nanar. Membuat Bobby sedikit canggung. 'Nih anak, kok ngelihatin gue mulu sih? Apa dia terpesona sama ketampanan gue?'


"Om, itu hp-nya keren banget! Belinya berapa?"


'Apa?? Jadi dari tadi yang dia pelototi itu hp gue? Gue kira dia terpesona sama ketampanan gue?' Raut Bobby terlihat sedikit tak enak. Kecewa. "Loe nanya ini??" Menunjuk pada ponsel di tangannya.


"Iya!"


"Beli satu aja!" jawabnya singkat. Bukan jawaban yang diharapkan Qea.


"Bukan, Om! Maksud Qea harganya berapa?"


"Gak dijual!"


"Ah, Om ini, jawab harga aja susah amat!"

__ADS_1


"Lagian, lu ngapain nanya hp gue? Kalo pun lu tau harganya, gue gak jual!"


"Qea kan cuma penasaran, Om!"


"Ck! Bocil gak perlu tau! Takutnya lu kejang kalo tau harga aslinya!"


"Huh! Sombong banget!" Qea tampak kesal. Melipat lengannya ke atas dada. Memalingkan wajah. Tingkahnya membuat Bobby jadi tertawa geli.


"Lu mau pinjem??" tanya Bobby. Yang seketika membuat gadis itu menoleh dengan wajah berbinar. "Ehh! Emang boleh, Om??"


"Ya, boleh aja! Nih!" Menyerahkan.


"Waaah! Keren banget! Ini pasti muat banyak buat download game versi terbaru. Kapasitasnya pasti cukup sampai ratusan game! Uhhh! Kerennya!"


Bobby tertawa kecil mendengarnya. "Lu itu, apa pikirannya cuma main game? Apa lu gak berpikir untuk belajar juga??"


"Yah, Om! Kayaknya otak Qea ini memang dirancang cuma sanggup buat ngisi game. Kalo diisi sama pelajaran, langsung buntu! Emang udah dari sananya sih begitu!"


Bobby terkekeh mendengarnya. "Eh, Dek! Biar gimana pun, lu gak boleh terlalu mikirin game tanpa fokus ke pelajaran. Emang lu gak punya cita-cita?"


"Punya kok! Cita-cita Qea jadi gamers sejati!"


Bobby hanya bisa menggeleng mendengarnya. "Oh iya, soal uang bayaran itu, nanti Om transfer begitu sampai di kota. Karena sekarang Om gak pegang uang cash!"


"Serius, Om?? Yessss!!!!" Qea mengepal tanganya. Girang. Kembali Bobby tertawa dibuatnya. "Kalo boleh tau, uang lima ratus ribu itu, emang buat apa sih?"


"Buat nambahin tabungan Qea! Mau beli HP baru!" sahutnya setelahnya kembali kegirangan.


'Oh, jadi dia mau beli ponsel baru! Hmm!'


"Ehh, tapi .. bisa kasi cash aja gak Om?? Qea gak punya rekening!"


Bobby membalas dengan senyuman anggukan.


"Yeaayyy!!! Tapi, tolong rahasiakan ini dari emak sama kakak ya?"


"Hmm .. gak janji ya!"


"Yah, Om!!"


__ADS_1


Segini dulu ya ... Kita sambung besok! Happy reading! 🄰🄰 Jangan pelit untuk sekadar berkomentar, oke!


__ADS_2