Pengabdian Seorang Istri

Pengabdian Seorang Istri
episode 56


__ADS_3

Dan Ustadz Hafizh mengucapkan salam didepan kamar Ustadz Habibi.


"Assalamu'alaikum" Ucap Ustadz Hafizh sambil membuka pintu kamar Ustadz Habibi.


"Waalaikumsalam." Jawab istrinya Ustadz Habibi.


"Bagaimana keadaan Ustadz..??


" Saya nggak apa apa cuma kecapean aja."ucap Ustadz Habibi dengan suara yang lemah dan pelan.


"Duduk nak.. Kamu jangan berdiri terus nanti kaki kamu bengkak, kamu kan lagi hamil." Ucap ibunya Syifa sambil melihat kearah Khadijah yang sedang berdiri disamping Ustadz Hafizh.


"Ya bu.. Makasih." Jawab Khadijah dengan senyuman.


"Terus bagaimana keadaan Syifa sekarang?? Tanya Ustadz Hafizh.


Ibunya Syifa langsung menangis tersedu sedu karena tak tega mengingat kondisi Syifa yang semakin hari tambah memburuk.


" Ibu yang sabar ya, ini adalah takdir dari Allah yang harus kita Terima, ibu harus kuat demi kesembuhan Ustadz Habibi dan Syifa."ucap Khadijah memberi semangat pada Ibunya Syifa.


"Ya nak.. Cuma ibu rasanya sudah pasrah dengan kondisi Syifa yang semakin hari tambah memburuk karena tidak ada kemajuan sama sekali."

__ADS_1


Ucap Ibunya Syifa dengan linangan air mata.


Khadijah terdiam dan menangis karena tak tega harus melihat seorang ibu menangis dengan kondisi anaknya yang tak kunjung siuman dari komanya.


"Ya Allah begitu egois aku, membiarkan sseorang anak tak berdaya dalam kondisi nya yang masih koma,sedangkan ibunya menanti kesembuhan nya, dan aku hanya diam tanpa berbuat apa apa, tapi bagaimana dengan perasaan ku jika aku merelakan suamiku menikah dengan Syifa, apa aku rela kalau harus dimadu??


Tapi seorang suami hanya titipan jika aku merelakan suamiku menikah dengan Syifa dan jika itu menjadi ladang pahala buat aku, ya Allah berilah aku kesabaran dan keikhlasan dalam melewati ujian dan cobaan darimu ya Allah."ucap dalam doa hati Khadijah.


Dan setelah beberapa saat diruangan Ustadz Habibi.


Khadijah dan Ustadz Hafizh menjenguk keadaan Syifa dikamar sebelah.


Dan betapa terkejutnya mereka berdua dengan keadaan Syifa yang semakin kurus dan tak berdaya hanya alat dari rumah sakit yang membantunya untuk bernafas, Khadijah semakin merasa bersalah dengan keadaan Syifa.


"Sayang kenapa dinda menangis, ini bukan salah dinda tapi ini takdir dari Allah SWT." Ucap Ustadz menenangkan hati istrinya.


"Tapi Bi, seandainya Abi menikahi Syifa dari dulu mungkin saat ini Syifa bisa berkumpul dengan keluarga yang sudah menunggu kesembuhan nya." Tutur Khadijah dalam pelukan Ustadz Hafizh.


"Ya udah ayo kita pulang."


Ucap Ustadz Hafizh sambil menggandeng tangan istrinya.

__ADS_1


Dan setelah berpamitan mereka pulang dan dalam sepanjang perjalanan Khadijah diam melamun memikirkan bagaimana perasaannya kalau Khadijah merelakan suaminya menikahi Syifa.


"Sayang kenapa melamun terus, apa yang dipikirin dinda??


" Nggak ada bi... Cuma capek aja."


"Sayang cinta ku gimana kabar kamu didalam perut ummah, sehat.. Udah lama Abi nggak nanyain kabar kamu, maafin Abi ya, Abi terlalu sibuk dengan keadaan." Ucap Ustadz Hafizh pada anaknya yang masih dalam kandungan Khadijah.


Dan malam pun telah tiba, malam sangat indah dan bulan bersinar terang.


Ustadz Hafizh dan Khadijah sudah bersiap untuk ber istirahat setelah seharian banyak beraktivitas.


"Bi.. Abi sudah mau tidur??


" Apa sayang... Belum, Abi belum begitu ngantuk, ada apa??


"Heemm dinda mau ngomong sama Abi."


"Ya sayang ngomong apa.. Dinda mau ngedahuluin Abi ya cari pahala." Ucap Ustadz Hafizh yang ada disebelah Khadijah sambil memandang wajah istrinya.


Khadijah diam karena masih ragu mau bicara sama suaminya.

__ADS_1


"Udah ngomong aja, Abi siap mendengarkan." Ucap Ustadz Hafizh sambil mengelus elus perut istrinya.


__ADS_2