
Khadijah masih terus diam karena ragu mau bicara pada sang suami.
"Ya Allah apa benar keputusan ku ini ya Allah, merelakan suamiku menikah dengan wanita lain, kenapa hati ini rasanya perih dan sakit, laki laki yang setiap hari bersama ku lantas aku harus berbagi waktu dan kasih sayang dengan wanita lain, apa aku sanggup menjalani semua itu, tapi kalau aku hanya memikirkan perasaan ku bagaimana dengan seorang ibu yang menunggu kesembuhan putrinya yang sedang koma, sedangkan aku sbentar lagi akan menjadi seorang ibu."gumam dalam hati Khadijah, dan Khadijah dengan telat yang bulat berbicara pada suaminya.
"Bi...jika Menikahi Syifa membuat Syifa terbangun dari komanya, dinda ikhlas bi.." Ucap Khadijah sambil menundukkan kepala nya karena tak sanggup memandang wajah suaminya.
"Udah dinda nggak usah bercanda, lagian Abi nggak mungkin menikahi Syifa, istri Abi cuma satu dinda seorang. " Jawab Ustadz Hafizh dengan nada gurauan.
"Bi.. Dinda serius." Ucap Khadijah sambil meneteskan air mata.
"Sayang Abi nggak akan menikah lagi, Abi sudah janji sama dinda kalau Abi nggak akan menyakiti perasaan dinda, karena Abi tau disaat dinda mengucapkan kata-kata itu, dinda akan merasakan sakit dan perih dihati dinda, sayang udah dinda nggak usah mikirin Syifa lagi ya, itu semua sudah takdir untuk keluarga Ustadz Habibi, sekarang yang penting dinda sama adek bayi sehat sehat terus ya." Jawab Ustadz Hafizh.
Tapi Khadijah sudah bertekad untuk mengikhlaskan suaminya menikahi Syifa demi baktinya terhadap seorang guru yang sudah membuat hidup Ustadz Hafizh lebih baik.
"Nggak bi, dinda benar benar sudah ikhlas Abi menikah dengan Syifa, Abi.. Dinda mohon turuti permintaan dinda, karena dinda tidak tega melihat seorang ibu yang menunggu kesembuhan putrinya dan dinda hanya diam aja tanpa melakukan apa apa," Ucap Khadijah dengan suara tegasnya walaupun hatinya sakit seperti ditusuk tusuk duri.
"Sayang terus bagaimana dengan perasaan mu.??
" Kalau hati nggak usah ditanya pastinya hancur bi, tapi Abi nggak usah khawatir, Insya Allah dinda kuat dan ikhlas, demi kesembuhan Syifa."
"Nggak sayang, Abi nggak mau ngeliat dinda kecewa apa lagi sedih, biarlah Syifa menjadi tanggung jawab keluarga Ustadz Habibi, Abi nggak sanggup kalau melihat dinda sakit hati dan kecewa." Ucap Ustadz Hafizh memberi pengertian.
"Tapi dinda nggak apa apa bi..."
"Udah udah tidur nggak usah bahas ini lagi, Abi sudah ngantuk dan besok banyak kerjaan." Ucap Ustadz Hafizh mengalihkan pembicaraan.
Dan Ustadz Hafizh langsung menyelimuti Khadijah dan memeluk nya agar tidak membicarakan Syifa lagi.
Dan disaat tidur Ustadz Hafizh tak bisa memejamkan matanya, karena kagum dengan istrinya yang merelakan dirinya menikah dengan wanita lain.
Dan keesokan harinya Khadijah yang bangun dari subuh, sudah sibuk didapur membuatkan sarapan untuk sang suami, dan Khadijah memasak begitu banyak sampai sampai Ustadz Hafizh heran dengan masakan yang begitu banyak.
"Sayang banyak sekali dinda masak, memangnya mau ada tamu.??
" Nggak Bi.. Dinda masak buat dibawa kerumah sakit."
__ADS_1
"Memang nya siapa yang mau kerumah sakit.??
" Ya kita lah Bi..."
"Kan kemarin udah, masak kerumah sakit lagi, Abi sekarang ada jadwal ngajar sayang.."
"Kan ada Ustadz Ali yang mewakilkan Abi ngajar."
"Ngga enak sayang, masak Abi libur terus."
"Nggak pokoknya kita kerumah sakit, terus buat apa dinda masak banyak bi,"
"ya udah Abi ngalah."
Setelah sampai di rumah sakit, Ustadz Hafizh dan Khadijah langsung menuju ke ruang rawat Ustadz Habibi, dan disana sudah ada ibunya Syifa yang sedang menyuapi Ustadz Habibi.
"Assalamu'alaikum.." Ucap Ustadz Hafizh.
"Waalaikumsalam." Ucap ibunya Syifa sambil menaruh sisa makanan Ustadz Habibi.
"Ya bu.. Ini saya bawa makanan buat ibu dan juga Ustadz." Ucap Khadijah sambil menyodorkan makanannya.
"Nak Khadijah nggak usah repot repot, kalian datang kesini Ibu sudah senang, ibu ada teman nya." Ucap ibunya Syifa.
"Oh ya gimana kabarnya Syifa bu..??
" Baik nak.."
"Sebenarnya kedatangan kami kesini ada perlu sama Ustadz Habibi dan juga ibu." Ucap Khadijah sambil ngeliatin wajah suaminya.
Ustadz Hafizh curiga dengan kata-kata Khadijah karena sambil memandang ke arah nya.
"Apa yang mau diomongin dinda ya, kok tadi dinda nggak ngomong apa apa dijalan, jadi penasaran." Gumam dalam hati Ustadz Hafizh karena benar-benar nggak tau apa yang mau diomongin pada keluarga Ustadz Habibi.
"Ya ada apa nak??
__ADS_1
Tanya ibunya Syifa.
Khadijah terdiam bibir nya berat untuk berkata kata, tapi Khadijah sudah bertekad dan ikhlas kalau harus berbagi suami demi kesembuhan Syifa.
" Heemm gini bu, saya sama suami saya sepakat, kalau saya ikhlas dan rela Ustadz Hafizh menikahi Syifa demi kesembuhan Syifa.
Semua tercengang kaget dengan perkataan Khadijah yang tiba-tiba mengikhlaskan suaminya menikahi Syifa.
Ustadz Hafizh pun langsung panas dingin mendengar perkataan Khadijah karena semalam tidak ada kata sepakat apa apa, hanya omongan biasa yang menurut Ustadz Hafizh tak masuk akal.
Dan Ustadz Hafizh pun tak bisa berkata kata apa apa lagi hanya diam sambil mengusap keringat nya yang mulai bercucuran.
"Ya Allah nak.. Sungguh mulia benar hatimu nak, kamu merelakan orang yang paling kamu cintai dimiliki orang lain, tapi bagaimana dengan perasaan mu, apa lagi kamu lagi hamil, apa tidak menganggu pada janin mu." Ucap Ibunya Syifa dengan perasaan senang dan terharu.
"Ibu nggak usah khawatirin saya dan anak saya, Insya Allah kami berdua sehat." Ucap Khadijah sambil mengelus perut nya.
"Jangan nak..Ustadz Nggak mau merusak pernikahan mu, bagaimana dengan Abahmu, apa beliau sudah tau semua ini." Ucap Ustadz Habibi sambil meneteskan air mata karena begitu terharunya dengan pengorbanan Khadijah, yang harus merelakan suaminya dengan wanita lain
"Ustadz nggak usah mikirin itu, nanti biar Khadijah yang memberi pengertian pada Abah." Ucap Khadijah dengan suara lembut nya.
Dan setelah bicara panjang lebar Khadijah berpamitan untuk pulang, sedangkan Ustadz Hafizh masih terdiam melamun mengingat ucapan Khadijah yang tak seharusnya mengambil keputusan sendiri.
Sesampainya di lobby rumah sakit Ustadz Hafizh mengajak Khadijah ke taman rumah sakit.
Dan setelah duduk di taman Ustadz Hafizh meminta penjelasan pada istrinya.
"Sayang.. Kenapa dinda nggak minta pendapat Abi dulu tentang pernikahan Abi sama Syifa, ini bukan cuman masalah kita berdua tapi ini menyangkut tiga keluarga." Ucap Ustadz Hafizh dengan tegas.
"Bi.. Maaf sebelumnya, tapi kan dinda udah bicara sama Abi semalam." Jawab Khadijah pelan.
"Ya sayang.. Tapi kan nggak ada kesepakatan kita berdua, dinda sayang setiap permasalahan jangan mengambil keputusan terburu buru karena itu merugikan kita sendiri."
"Tapi dinda ikhlas dan rela bi, kalau harus berbagi suaminya dengan Syifa."
"Tapi kan Abi belum tentu siap dinda,terus gimana caranya kita menjelaskan pada Abah dan keluarga Abi."ucap Ustadz Hafizh dengan wajah penuh dengan kekecewaan.
__ADS_1
Karena tak menyangka istrinya langsung mengambil keputusan sendiri tanpa bertanya.