
Terdengar bunyi patahan yang sangat keras.
Besi yang di pukul oleh Luis dengan keras pun menjadi sangat berantakan.
Semua orang yang melihat hal itu pun terkejut dengan kekuatan pukulan dari Luis yang sangat keras itu.
Melihat hal itu Luis pun kembali menghadap mereka dan berteriak.
“apa kalian sudah yakin?!” tanya Luis Braga kepada semua orang.
“YAKIN!!” teriak semua orang yang mulai bersemangat.
Kekuatan macam itu sangat amat mereka butuhkan jika ingin menguasai lingkaran ilegal di wilayah Lakertown.
Dengan adanya Luis Braga sepertinya semuanya akan menjadi sangat mudah.
Mereka semua tampak bersemangat dan sangat tidak sabar dengan pelatihan mereka.
Melihat itu semua Luis Braga pun tersenyum senang dengan semangat itu mereka semua.
Karena Luis butuh bantuan banyak orang.
Semata mata hanya karena ingin membalaskan dendam adiknya.
Sekaligus dapat menggulingkan kekuasaan tuan Renan di lingkaran ilegal kota Nozel.
Semua ini butuh rencana yang sangat matang dan persiapan yang sangat sempurna.
“tunggu sebentar lagi!” gumam Luis Braga dalam hatinya.
“akan ku balaskan dendam mu!” tambah Luis dengan emosi.
***
Sementara itu di kota Nozel setelah makan siang bersama antara Bagas dan Rizki.
Bagas pun mengajak Rizki untuk menemaninya minum teh di halaman belakang rumahnya.
“apa kau menyukai teh?!” tanya Bagas yang sedang membuat teh.
Rizki pun mengangguk sebagai tanda jika Rizki menyukai teh.
Bagas pun memberikan secangkir teh untuk Rizki.
“kenapa paman menyuruh orang untuk memata matai ku?!” tanya Rizki saat meminum teh itu.
Pertanyaan yang sama yang kembali di ajukan oleh Rizki.
Karena dari tadi Rizki tidak mendapatkan jawabannya yang sebenarnya.
“karena aku ingin memastikan sesuatu!” jawab Bagas dengan santai.
__ADS_1
Rizki yang mendengar jawaban itu pun bingung dengan jawaban Bagas.
Apa maksudnya dengan memastikan.
“memastikan apa paman? Kenapa harus aku?!” tanya Rizki dengan langsung.
Bagas yang mendengar pertanyaan itu pun hanya tersenyum kepada Rizki.
Seolah olah sedang memberikan isyarat.
Bahwa saat meminum teh kita diharuskan untuk tenang tanpa mengeluarkan suara berisik sedikitpun.
Rizki yang memahami hal ini pun langsung berdiam diri.
Tanpa mengajukan pertanyaan nya kembali.
Saat teh itu sudah habis.
Barulah Bagas menjawab pertanyaan Rizki.
Tentang perihal kenapa Bagas menyuruh Ernest untuk datang memata matai Rizki.
“apa kau ingat siapa orang tua mu?!” tanya Bagas dengan ekspresi serius.
“tentu saja aku mengingatnya!” jawab Rizki dengan tenang.
“kenapa paman menanyakan hal itu?!” tanya Rizki kepada Bagas.
“tentu saja, nama ibu ku Ameli Diah Tantra dan nama ayah ku Bisma Yuda Saputra!” ujar Rizki dengan santai.
Berbeda dengan Rizki yang mengucapkan nama mendiang ayah dan ibunya dengan santai.
Tanpa adanya sedikitpun perasaan tertekan.
Sementara itu Bagas merasakan perasaan yang sangat emosional dalam hatinya.
Saat mengetahui kebenaran jika Rizki adalah keponakannya yang telah lama hilang.
Pada akhirnya semua pencarian nya selama ini siang dan malam yang tidak pernah lelah sedikitpun membuahkan hasil.
Keponakannya saat ini sudah duduk di hadapannya dengan keadaan yang baik baik saja.
Bahkan bisa dibilang Rizki terlihat sangat baik sekali.
Rizki yang melihat bahwa Bagas sangat emosional dengan pengakuannya.
Membuat Rizki menjadi sedikit bingung dengan kelakuan Bagas.
Apakah dia salah mengucapkan sesuatu atau ada hubungan antara Bagas dengan Ayah dan Ibunya.
Semuanya hanya bisa menjadi sebuah pertanyaan di pikiran Rizki.
__ADS_1
Namun entah kenapa saat berada di dekat Bagas hati dan jiwa nya terasa sangat hangat dan nyaman.
Seolah olah Bagas dan semua orang yang ada dirumah ini adalah keluarganya.
Padahal Rizki baru sekali menginjakan kaki di rumah ini.
Bahkan bisa dibilang Rizki adalah orang asing diantara mereka semua.
Namun karena Bagas memperlakukannya dengan baik.
Maka seluruh bawahannya melakukan hal yang sama terhadap Rizki.
Itu membuat perasaan Rizki sangat hangat hingga tidak ingin meninggalkan rumah ini.
“apa kau ingin tahu kenapa aku sangat tertarik kepadamu?!” tanya Bagas yang mulai meneteskan air matanya.
“karena kau sangat mirip dengan seseorang yang aku kenal di masa lalu!” ujar Bagas menjelaskan dengan pelan.
“aku memiliki hutang budi yang sangat banyak dengan orang tersebut!” ucap Bagas kepada Rizki.
“namun sebelum aku dapat membalasnya, orang itu pergi begitu saja!” tambah Bagas yang mulai meneteskan air matanya.
Rizki yang melihat hal itu pun.
Seketika menjadi ikut terbawa emosional dengan cerita yang diungkapkan oleh Bagas kepadanya.
Namun Rizki pun masih merasakan kejanggalan dari cerita dan alasan yang dikatakan oleh Bagas kepada dirinya.
Rizki merasa masih ada hal yang di rahasiakan oleh Bagas kepada dirinya yang tidak bisa diungkapkan.
Bagas yang melihat Rizki termenung seperti memikirkan sesuatu.
Membuat Bagas tersenyum dengan bangga.
“ternyata kecerdasannya seperti mendiang kakak!” gumam Bagas dalam hatinya.
“atau mungkin kecerdasan Rizki diatas mendiang kakak!” tambah Bagas dalam hatinya.
Tidak lama setelah mereka selesai berbicara.
Bagas pun mengajak Rizki untuk kembali kedalam rumahnya.
Karena ada bingkisan yang ingin Bagas berikan kepada Rizki sebagai hadiah untuk pertemuan mereka.
Saat tiba disebuah ruangan.
Rizki terkesima dengan aula yang sangat megah.
Dengan banyak nya kitab dan orang yang sedang berlatih dengan serius didalamnya.
Namun tiba tiba Bryan datang dengan membawa bingkisan di tangannya, dengan kotak berukuran kecil.
__ADS_1