Penguasa Culun

Penguasa Culun
Teh dan Hubungan


__ADS_3

Meskipun Fidz terkesan sangat sopan dan menunjukan gestur menghormati.


Tapi tetap saja, Rizki masih menganggap ini sangat mencurigakan.


Bagaimana bisa tuan Renan dengan cepat mencari Rizki.


Jika bukan dia mengetahui jika Rizki sedang mencari dirinya demi sebuah informasi tentang orang tuanya.


"ada pesan apa yang ingin tuan Renan sampaikan?!" tanya Rizki yang melepas kacamatanya.


Rizki sedang bersiap, jika ini memang jebakan setidaknya dia bisa melawan.


Lalu kacamata kesayangannya tidak akan rusak sama sekali.


"tuan Renan, meminta aku untuk menjemput tuan muda untuk bertemu dengannya!" ujar Fidz dengan tersenyum dan menunduk.


Fidz sangat menghormati tamu dari tuan Renan, seperti dia menghormati tuan Renan itu sendiri.


Lagi pula hanya ada tiga orang di dunia ini yang diundang secara langsung oleh tuan Renan.


Dan diantara ke tiga orang itu, hanya Rizki yang membuat Fidz terkesan.


Entah apa itu? Fidz pun tidak tahu pasti kenapa dia sangat mengagumi Rizki yang sebenarnya masih sangat muda.


"untuk apa tuan Renan mengundang ku?!" tanya Rizki yang bingung.


"entah lah aku hanya di minta untung mengundang tuan muda!" ujar Fidz dengan hormat.


"baiklah tunjukan jalannya!" ujar Rizki dengan tersenyum.


"mari ikuti aku, tuan muda!" ujar Fidz yang langsung membuka pintu mobil.


Setelah Rizki masuk kedalam, Fidz pun masuk kedalam mobil dan segera menuju Restoran Everest.


Dalam perjalanan Rizki selalu saja merasa ada yang mengikutinya.


Selain Fidz, Rizki sudah menyadari bahwa ada dua orang yang sedang mengikuti nya.


Namun entah siapa Rizki pun belum mengetahuinya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian mobil itu pun sampai di depan sebuah Restoran yang sangat bergaya klasik.


"silahkan tuan, kita sudah sampai!" ujar Fidz kepada Rizki.


"di dalam tuan Renan sudah menunggu!" ujar Fidz dengan hormat.


Rizki pun segera mengikuti Fidz kedalam Restoran Everest.


Saat di sebuah lorong pintu masuk, Rizki sudah di sambut dengan berbagai macam lukisan yang terlihat sangat elegan.


Lukisan ini terlihat sangat mewah di mata Rizki.


Namun ada satu lukisan yang membuat Rizki tidak bisa berhenti menatapnya dan sulit berpaling.


Yaitu sebuah lukisan laut yang sama persis dengan yang berada di rumah paman Bagas.


Fidz yang melihat itu terlihat sangat kagum dengan Rizki.


Sedikit orang yang benar benar memahami dari sebuah lukisan, namun Rizki terlihat sangat memahami lukisan itu.


"mari tuan muda, tuan Renan ada di dalam!" ujar Fidz yang mempersilahkan Rizki masuk.


Saat di dalam Rizki pun melihat sebuah pemandangan yang sangat indah.


Terhampar bunga dan tanaman hias disegala sudut.


Bahkan di tengah terdapat sebuah kolam ikan yang sangat bagus.


Saat melihat kearah kolam itu, Rizki melihat ada dua orang pria tua dengan pakaian yang sangat rapi.


"Rizki Bayu Saputra!" ujar tuan Renan dengan tersenyum.


"Selamat datang di rumah ku yang sempit ini!" ucap tuan Renan dengan ramah.


"terimakasih, karena kau telah mengundang ku kemari!" ujar Rizki dengan menunduk sebagai tanda menghormati.


Tuan Renan yang melihat itu pun menjadi tertawa dengan senang.


"apa benar kau masih berada di jenjang pendidikan?!" tanya tuan Renan.

__ADS_1


"itu benar, aku belajar di Universitas Nozel!" jawab Rizki dengan sopan.


"silah kan duduk! Apa kau menyukai teh?!" tanya tuan Renan kepada Rizki.


"terimakasih, aku sangat menyukai teh!" ujar Rizki dengan tenang.


Mereka pun duduk berdua menikmati angin yang sangat terasa di wajah mereka.


Tidak ada yang berbicara sama sekali, mereka berdua hanya diam tanpa sedikit pun mengeluarkan suara.


Rizki menikmati cara tuan Renan membuat teh dan begitu pun tuan Renan yang sangat menghayati saat dirinya sedang membuat teh.


Aroma teh sudah terasa di sekitar mereka.


Bagi Rizki aroma teh ini sangat sangat berbeda dari teh yang telah dia rasakan selama ini.


Tuan Renan yang menyadari perubahan ekspresi Rizki pun tersenyum.


"apa kau benar benar masih berusia sembilan belas tahun?!" tanya tuan Renan yang penasaran.


"apa aku terlihat tidak sesuai dengan umur ku?!" tanya Rizki yang bingung.


"tidak sama sekali, aku hanya penasaran!" jawab tuan Renan dengan tersenyum.


"apa yang membuat mu penasaran?!" tanya Rizki dengan tersenyum.


Tuan Renan yang melihat senyum itu pun tertawa dengan keras.


Lalu menuangkan teh yang telah selesai dia buat kedalam cangkir Rizki dan juga dirinya.


Rizki pun yang melihat itu hanya tersenyum dengan senang.


"apa teh mu selalu se nikmat ini?!" tanya Rizki yang penasaran.


"kenapa kau bertanya sebelum mencobanya?!" tanya tuan Renan kepada Rizki.


"apa kau takut aku meracuni mu?!" tanya tuan Renan kepada Rizki.


"tergantung racun apa itu!" jawab Rizki yang membuat tuan Renan tertawa.

__ADS_1


__ADS_2