
"Rizki tunggu!!" teriak Dina yang berlari kecil mengejar Rizki.
Rizki yang mendengar itu tetap berjalan kearah pintu keluar tanpa menghiraukan Dina.
Dina yang melihat Rizki terus berjalan pun, tetap mengejar Rizki dengan berlari.
Rizki pun berhenti di halte bus depan Universitas Nozel.
Hingga akhirnya Dina bisa mengejar Rizki yang sedang berdiam di halte bus.
"kenapa kau mengejarku?!" tanya Rizki kepada Dina.
"tunggu aku selesai mengambil nafas terlebih dahulu!" ujar Dina yang sedang menarik nafas.
"haahh lagi pula kenapa kau berjalan cepat sekali?!" tanya Dina yang masih merasakan lelah.
Rizki yang melihat itu hanya menggelengkan kepala dan masuk kedalam bus yang saat ini berhenti di depan halte bus.
Melihat itu Dina pun ikut masuk kedalam bus mengejar Rizki.
"kau mau kemana?!" tanya Dina kepada Rizki.
Namun Rizki hanya diam saja melihat kearah jendela mobil bus itu.
"baiklah jika kau tidak ingin berbicara!" ujar Dina yang ikutan diam di dalam bus.
...****************...
Sementara itu Dian dan Putri saat ini sedang bertemu dengan bawahan dari Hayden yaitu Jerry.
Mereka sedang mendiskusikan tentang rencana mereka untuk memberi pelajaran kepada Rizki.
Selain itu Putri dan Dian pun penasaran dengan perkataan Dina.
Yang mengatakan bahwa Rizki bukan orang yang mampu mereka singgung.
__ADS_1
Itu adalah lelucon yang sangat lucu buat mereka.
Bagaimana bisa seorang pecundang dan culun seperti Rizki bisa membuat Dina mengatakan hal itu.
Selain itu Putri dan Dian pun masih merasa terhina dengan kejadian saat dimana Rizki mengusir mereka dengan tatapan menakutkan itu.
"aku ingin kalian membuat salah satu anggota tubuhnya patah!" pinra Putri kepada Jerry.
"itu sangat mudah, namun bayarannya harus sesuai!" ujar Jerry dengan senyum menjijikan.
"kau minta bayaran berapa?!" tanya Dian yang tidak senang dengan senyum itu.
"menurut tuan Hayden, jika harus mematahkan anggota tubuh bayarannya lumayan mahal!" ujar Jerry yang mengatakan dengan nada yang sangat berat.
"bukankah kalian hanya menghadapi satu orang culun saja!" ujar Putri yang menunjukan foto Rizki kepada Jerry.
Melihat foto itu membuat Jerry sangat marah besar.
"apa kalian sedang meremehkan kami?!" tanya Jerry yang memukul meja dengan keras.
Dian dan Putri yang melihat itu sedikit merasakan takut.
"kami tidak akan berani mempermainkan kalian!" ujar Dian kepada Jerry.
"lagi pula kami dengar bahwa dia mempunyai keahlian beladiri!" ujar Putri yang berbohong karena ketakutan.
Jerry yang melihat bahwa Putri dan Dian mengatakan sebenarnya.
Menjadi tertawa sangat keras dan kembali duduk dengan tenang.
"baiklah kami akan mematahkan salah satu anggota tubuhnya untuk kalian!" ujar Jerry yang tertawa.
"tapi kami minta pembayaran sebagai tanda jadi transaksi ini!" ujar Jerry kepada Dian dan Putri.
Tanpa berbasa basi Putri segera mengeluarkan amplop coklat berisi uang tunai kepada Jerry.
__ADS_1
Jerry yang melihat hal itu menjadi tersenyum, lalu mengambil uang itu dan menyerahkan sebuah nomer telepon kepada Putri dan Dian.
"kau hubungi dia dan katakan bahwa kau sudah bekerja sama dengan Hayden!" ujar Jerry menjelaskan.
"lalu kalian katakan keinginan kalian dengan memberi tahu kapan dan dimana si pecundang itu berada!" ujar Jerry kepada Putri dan Dian.
"sisanya biar menjadi urusan dia!" ujar Jerry yang berjalan pergi menjauh.
Putri dan Dian yang mendengar itu menjadi sangat senang.
Lalu dengan cepat Dian dan Putri segera meninggalkan tempat itu dan segera mencari tahu keberadaan Dina dan si pecundang itu.
"setidaknya kita harus tahu apa yang di katakan Dina benar atau tidak!" ujar Dian kepada Putri.
"apa kau masih mempercayai omongan Dina?!" tanya Putri yang tidak menyangka bahwa Dian memikirkan omongan Dina.
"aku sedikit teringat dengan tatapan si culun kemarin!" ujar Dian yang masih merinding saat mengingat itu.
Putri yang mendengar itu pun seketika mengingat kejadian dimana Rizki mengeluarkan tatapan yang sangat menakutkan kepada mereka.
"aku juga sempat terpikirkan jika ucapan Dina adalah benar!" ujar Putri dengan tenang.
"namun aku ingin menepis semua perasaan itu!" ucap Putri kepada Dian.
"lebih baik kita membuktikan sendiri ucapan Dina!" ujar Putri kepada Dian yang masih merasa khawatir.
"sudahlah tidak perlu di bahas lagi!" ujar Dian kepada Putri.
"lebih baik kita mencari tahu dimana Dina saat ini bersama si culun itu!" ujar Dian yang mencoba menelpon Dina.
Namun telepon Dian tidak kunjung diangkat oleh Dina.
"kenapa Dina tidak mengangkat telepon yah?!" tanya Dian dengan bingung kepada Putri.
"coba kau hubungi dia kembali! Jangan sampai rencana kita berantakan!" ujar Putri dengan pelan kepada Dian.
__ADS_1
Dian pun kembali menghubungi Dina terus menerus untuk menanyakan keberadaan Rizki dan Dina.