
"Kenapa kau harus semarah itu dengan kami!" ujar Putri kepada Dina.
"kamu berubah Dina semenjak kamu kenal sama si culun ini!" ujar Dian yang marah.
"kenapa kau harus membela si culun ini?!" tanya Putri yang mulai marah.
Namun Dina diam saja tanpa menjawab pertanyaan dari sahabatnya.
Dina pun merasa bersalah karena telah marah kepada Dian dan Putri.
Putri dan Dian yang melihat bahwa Dina hanya berdiam diri saja.
Menolehkan pandangannya kearah Rizki.
"ini semua terjadi karena kesalahan mu Culun!!" teriak Dian yang marah.
"apa kau masih tidak ingin mengakui siapa kau sebenarnya?!" tanya Alice yang tidak memperdulikan Dina dan sahabatnya.
"jujur saja jangan malu!" ucap Dian dengan menantang.
"itu benar, kau adalah anak miskin yang kebetulan masuk ke Universitas kami!" ucap Putri mengejek.
"kau bahkan terlihat sangat menjijikan karena mengaku bahwa berteman dengan seseorang yang memikiki mobil Ferarri!" ujar Dian dengan mencela Rizki.
"apa orang tuamu tak malu dengan kelakuan mu?!" tanya Putri dengan mengejek.
"atau keluarga mu yang lain tidak ada yang mengingatkan, jika kau jangan berlaga sebagai anak orang kaya karena dasarnya kau adalah si culun yang miskin!" ucap Dian dengan tertawa.
Rizki yang awalnya tidak ingin membalas perkataan Dian dan Putri karena menghargai Dina.
Menjadi sangat emosi karena mendengar cacian dan hinaan yang di lontarkan oleh Dian dan Putri.
"apa kalian berdua sudah selesai bicara?!" tanya Rizki dengan pelan.
"apa kalian sudah puas menghina aku dan keluarga ku?!" tanya Rizki yang mulai emosi.
"aku memang adalah anak miskin yang beruntung bisa masuk Universitas kalian!" ujar Rizki dengan marah.
"aku juga adalah anak sebatang kara yang hidup dengan mendiang kakek ku saja!" teriak Rizki deng marah.
__ADS_1
"tapi apakah karena aku miskin, aku tidak diberikan kesempatan untuk dapat memperbaiki nasib ku sendiri?!" tanya Rizki kepada mereka.
"apa seorang seperti ku memang harus menyerah karena keadaan?!" teriak Rizki yang mulai kehilangan kesabaran.
Dina yang melihat Rizki marah menjadi sedikit ketakutan.
Sedangkan Alice merasa iba dengan semua penuturan Rizki.
"Rizki maafkan aku!" ujar Alice dengan pelan.
"aku tidak bermaksud menghakimi mu!" ucap Alice yang merasa bersalah.
Sedangkan Dian dan Putri terdiam dengan semua penuturan Rizki.
Meskipun mereka sangat senang namun nurani mereka merasa sangat bersalah kepada Rizki.
"sebaiknya kalian keluar dan pulang!" ujar Rizki yang mulai tenang.
"apa kau berani mengusir kami lagi!" ujar Putri yang kesal.
Rizki yang mendengar itu tiba tiba menatap kearah Putri dengan tatapan yang tajam.
Dian, Dina dan Alice yang melihat itu pun seketika menjadi sangat ketakutan.
Mereka seperti merasa tatapan Rizki seperti tatapan hewan buas yang sedang melihat mangsanya.
Kaki mereka semua terasa kaku dan tidak bisa digerakan.
Sedangkan punggung mereka semua terasa sangat dingin karena tatapan itu.
"apakah ini Rizki yang sebenarnya!" gumam Alice dalam hati.
"Rizki tolong maafkan kami!" ujar Dina dengan takut.
Sedangkan Dian dan Putri masih saja ketakutan hingga membuat mereka berdiam diri saja.
"apa kalian masih tidak ingin pergi dari sini!" ujar Rizki dengan pelan.
Meskipun terlihat biasa namun dari nada bicara Rizki itu ada sedikit ancaman kepada mereka.
__ADS_1
"baiklah Rizki kami akan pergi!" ujar Alice dengan tenang.
Alice pun melangkah keluar dari rumah Rizki diikuti oleh Dina, Dian dan Putri.
Alice yang awalnya ingin mengetahui siapa Rizki malah berakhir di usir karena kedatangan Dian dan Putri yang menyulut amarah Rizki.
Sementara di dalam mobil Dian dan Putri masih merasa ketakutan dengan tatapan Rizki.
"apa kalian sudah menyadarinya sekarang?!" tanya Dina yang memecah keheningan.
"apa maksud mu Dina?!" tanya Dian yang masih berkeringat.
"aku sebenarnya tidak di izin kan untuk menceritakan ini kepada kalian!" ujar Dina dengan menunjukan ekspresi bingung.
"apa jangan jangan kau sudah mengetahui siapa Rizki sebenarnya?!" tanya Putri yang terkejut.
"kenapa sekarang kau tidak menyebutnya dengan culun lagi?!" tanya Dina meledek.
Putri dan Dian yang mendengar ejekan itu pun terdiam.
Memang dari awal mereka tidak pernah menganggap Rizki sebagai teman mereka.
Rizki bukanlah orang yang pantas untuk mereka yang merupakan anak dari keluarga kaya di kota Nozel.
"aku akan memberi kalian peringatan saja!" ujar Dina dengan tenang.
"maafkan aku Rizki!" gumam Dina dalam hatinya.
"Rizki bukanlah orang yang mampu kalian singgung!" ucap Dina dengan jelas.
Ucapan Dina sontak membuat Dian dan Putri sangat terkejut.
"bagaimana mungkin?!" tanya Dian kepada Dina.
"apa kau sudah mengetahui latar belakangnya Rizki?!" tanya Putri kepada Dina.
"tidak, aku belum mengetahui sampai sejauh itu!" ujar Dina kepada Putri.
"lalu apa yang menjadi alasan mu mengatakan bahwa Rizki tidak mampu kita singgung?!" tanya Putri yang penasaran.
__ADS_1
"itu benar, Dina sebaiknya kau menjelaskannya kepada kami!" ujar Dian memaksa.