
Setelah beberapa minggu sejak kejadian penyerangan besar besaran di lingkaran kota Nozel.
Tiba tiba semua serangan itu berhenti.
Itu benar benar membuat semua boss di lingkaran ilegal kota Nozel sangat marah besar.
Mereka merasa di permainkan dan di injak injak harga diri mereka hingga hancur.
Namun tetap saja para boss itu tetap menyusuri semua wilayah kota Nozel.
Bahkan Ginan dan Chris yang merupakan musuh lama.
Rela berdamai karena adanya masalah seperti ini.
Beberapa boss bahkan masih mengintai rumah Bagas yang mereka curigai sebagai otak dari semua peristiwa ini.
***
Lalu saat ini Rizki sedang berada di taman universitas Nozel.
Dia merasa hari ini sangat membosankan, setelah semua mata kuliahnya telah selesai.
Rasanya dia tidak tahu lagi hendak pergi kemana.
"apa yang harus ku lakukan hari ini!" gumam Rizki dalam hatinya.
Tidak lama setelah itu Tyson pun datang menghampiri Rizki.
"apa yang sedang kau pikirkan?!" tanya Tyson dengan tenang.
"bagaimana kau bisa ada disini? bukan kah kau masih kurang sehat?!" tanya Rizki yang bingung.
"aku bosan hanya tidur tidur saja!" ujar Tyson dengan tenang.
Rizki yang mendengar itu pun tersenyum dengan senang.
"sebaiknya jaga kondisi mu!" ujar Rizki kepada Tyson dengan tenang.
Tyson yang mendengar itu pun hanya mengangguk kecil, sambil menyalakan rokoknya.
"apa kau tidak merokok?!" tanya Tyson kepada Rizki.
__ADS_1
"aku tidak pernah mencobanya, jadi tidak usah terimakasih!" jawab Rizki dengan tenang.
"bagaimana perkembangan kasus kematian orang tua mu?!" tanya Tyson dengan pelan karena takut Rizki tersinggung.
"dua orang itu sedang mencari petunjuk!" ujar Rizki dengan tersenyum.
"apa kau sudah menemukan sesuatu?!" tanya Tyson yang penasaran.
"iyah, aku sudah menemukan sedikit!" jawab Rizki yang terlihat sangat tenang.
"cepat atau lambat semuanya akan terungkap dengan sendirinya!" ujar Rizki yang bangun dari tempat duduknya.
"kau ingin pergi kemana?!" tanya Tyson dengan cepat mengejar Rizki.
Mereka berdua pun berjalan menuju kearah gerbang keluar universitas Nozel.
Saat menunggu bus yang datang, tiba tiba Rizki menyadari ada orang lain yang sedang memperhatikannya di sebrang jalan.
Rizki pun menoleh kearah itu dan melihat ada dua orang yang terlihat sedang tersenyum ke arah Rizki.
"siapa mereka?!" gumam Rizki di dalam hatinya.
"apa kau melihat dua orang laki laki yang ada di seberang universitas Nozel tadi?!" tanya Rizki kepasa Tyson.
"hah? laki laki yang mana?!" ujar Tyson yang melihat kearah jalanan.
Namun saat Rizki hendak memberi tahu tapi dua orang itu sudah tidak ada lagi.
"entah kenapa aku merasakan firasat yang buruk dengan mereka berdua!" ujar Rizki yang segera mengejar kedua pria itu.
"Rizki tunggu aku!!" teriak Tyson yang pergi mengejar Rizki.
Namun Rizki terus berlari tanpa mendengarkan teriakan Tyson yang ada di belakangnya.
Tapi kedua pria itu sudah tidak berada di tempat itu, mereka seperti hilang begitu saja.
"siapa mereka?!" tanya Rizki kepada dirinya sendiri.
"apa yang sedang kau kejar bodoh?!!" teriak Tyson kepada Rizki.
"maaf kan aku!" ujar Rizki kepada Tyson.
__ADS_1
"Tyson segera hubungi mereka semua untuk berkumpul malam ini!" ujar Rizki yang merubah ekspresinya.
Tyson yang mengerti langsung segera menghubungi mereka semua dan mengatakan apa yang Rizki perintahkan.
"mereka semua sudah siap!" ujar Tyson kepada Rizki.
"baiklah, kita pulang sekarang!" ujar Rizki kepada Tyson.
Namun saat di perjalanan pulang Rizki segera menghubungi Bagas.
"paman, hati hati!" ujar Rizki dari telepon dan langsung di matikan.
Bagas yang mendengar itu seketika menjadi tersenyum dengan senang.
Entah apa yang Bagas pikirkan, namun yang jelas dia merasa bahwa Rizki nampaknya akan menjadi kepala keluarga Saputra yang cukup pantas.
"kakak sepertinya akan bangga jika dia melihat Rizki saat ini!" ujar Bagas kepada Bryan.
"aku sangat mengagguminya!" ujar Bryan kepada Bagas dengan tersenyum.
"apa yang membuatmu mengangguminya?!" tanya Bagas kepada Bryan dengan penasaran.
"entahlah dari awal aku sudah merasa jika saudara ku itu sangat bisa di andalkan!" jawab Bryan yang tertawa.
"bagaimana dengan kondisi mu?!" tanya Bagas kepada Bryan.
"aku sudah merasa baikan tuan!" jawab Bryan dengan menepuk rusuknya.
"apa benar?!" ujar Bagas yang tiba tiba menyerang rusuk Bryan dengan tendangan.
Bryan yang melihat itu pun segera menghindari tendangan itu dengan cermat.
"apa yang kau lakukan tuan? Apa kau ingin membuat ku terbaring di rumah sakit lagi?!" tanya Bryan yang terlihat kesal.
Bagas yang melihat itu pun tertawa dengan sangat keras.
"ternyata kau benar benar sudah sembuh!" ujar Bagas yang tertawa sambil masuk ke ruang kerjanya.
Saat di dalam ruang kerjanya Bagas mengubah ekspresi nya menjadi sangat serius.
"Keluarga Braga? Bukan kah keluarga itu sudah musnah?!" tanya Bagas di dalam hatinya.
__ADS_1