Penguasa Culun

Penguasa Culun
Awal Permainan


__ADS_3

Rizki pun segera berjalan kearah dua orang berandal yang tersisa.


Mereka sangat ketakutan setengah mati.


Bagaimana bisa tuan Gordon di kalahkan dengan sangat mudah oleh pemuda seperti Rizki.


"apa.. Apa yang kau inginkan?!" tanya salah seorang berandal itu kepada Rizki.


"kau segera telepon ambulan, katakan bahwa ada banyak orang yang memerlukan perawatan disini!" ujar Rizki kepada salah seorang berandal.


Namun berandal itu hanya diam saja, melihat Rizki yang masih berdiri di hadapannya.


"kau dengar tidak?!" tanya Rizki yang membentak berandal itu.


"baik aku akan melakukannya!" ujar berandal itu yang langsung menelpon ambulan dari rumah sakit terdekat.


"sekarang giliranmu!" ujar Rizki yang menunjuk seorang berandal lainnya.


"telepon tuan mu, yang bernama siapa tadi?!" tanya Rizki yang melupakan nama itu.


"siapa saja lah intinya telepon dia dan katakan bahwa Gordon di habisi oleh anak buah tuan Renan!" ujar Rizki kepada berandal itu.


"baik, aku akan menelponnya sekarang!" ujar berandal itu dengan ketakutan.


Setelah urusan dengan kedua berandal itu, Rizki pun berjalan kearah Dian dan Putri yang masih bingung dengan kejadian hari ini.


"apa kalian sudah puas?!" tanya Rizki kepada Dian dan Putri.


"apa.. Apa maksudmu?!" tanya Dian dengan ragu.


"aku tahu bahwa semua ini rencana kalian!" ujar Rizki dengan tersenyum.


"tapi bukan kah sebuah ironis melihat orang yang ingin kalian sakiti malah berbalik menjadi orang yang menolong kalian?!" ujar Rizki dengan secara langsung.


Dian dan Putri yang mendengar itu pun menjadi sangat merasa bersalah kepada Rizki.

__ADS_1


Lagi pula semua yang di ucapkan Rizki adalah kebenarannya.


Mereka disini memang ingin menyaksikan Rizki di beri hukuman oleh Gordon.


Namun kenyataannya Gordon malah menyandera mereka berdua untuk memancing Rizki keluar.


Setelah itu mereka berharap bahwa Rizki dapat menyelamatkan mereka berdua.


Itu adalah kejadian yang sangat ironis bagi mereka.


Sementara itu Rizki telah berjalan masuk kedalam rumah sewanya.


Tanpa sedikit pun menoleh kearaha Dian dan Putri, bahkan untuk melihat keadaan mereka.


"Dian, aku takan pernah mengganggu orang lain lagi!" ujar Putri dengan perasaan takut.


"kau benar, kita beruntung Rizki tidak melakukan apa pun kepada kita!" ujar Dian yang masih terbayang dengan Rizki.


Setelah itu mereka berdua pun segera pergi meninggalkan rumah sewa Rizki.


***


Sementara itu Hayden saat ini menerima telepon dari salah seorang bawahan Gordon.


Mereka mengatakan bahwa tuan Gordon di habisi oleh kaki tangan tuan Renan.


Bawahan itu menceritakan semuanya sesuai dengan yang dia lihat dan mengganti karakter Rizki sebagai kaki tangan tuan Renan sesuai perintah Rizki.


Meskipun saat ini Rizki tidak ada di hadapan mereka, tapi tetap saja mereka mengikuti semua perintah Rizki.


Dalam benak mereka telah tertanam bahwa Rizki adalah monster yang jangan pernah di ganggu.


Bahkan tuan Luis Braga pun belum tentu dapat menghadapi Rizki jika satu lawan satu.


Ketakutan mereka memang sangat mendasar, karena mereka melihat bagaimana teman teman mereka di habisi.

__ADS_1


Bahkan tuan Gordon pun seperti tidak dapat berbuat apa apa di hadapan Rizki.


Tuan Gordon adalah orang nomor tiga di bawah tuan Luis Braga, tapi bagi Rizki dia hanya selevel dengan bawahannya yang lain.


Jika dilihat dari waktu, Rizki hanya butuh waktu dua puluh menit untuk menghabisi mereka semua.


Bahkan tuan Gordon pun tidak dapat bertahan lebih dari lima belas menit.


Bukan kah itu sudah menjelaskan bahwa Rizki bukanlah pribadi yang sanggup mereka singgung.


Hayden yang selesai mendengar semua laporan itu, tidak bisa menyembunyikan kemarahannya.


Semua terlihat di matanya yang memerah karena amarahnya.


"SIALAN!!" teriak Hayden yang membanting cangkir minuman diatas mejanya.


"aku tidak menyangka Gordon dan dua puluh orang menjadi sangat tidak berguna!!" ujar Hayden yang marah karena semua itu.


Tidak lama kemudian, Luis Braga pun masuk kedalam ruang kerja Hayden.


"ada apa? Kenapa kau terlihat sangat marah?!" tanya Luis Braga kepada Hayden.


"tuan Braga, maafkan saya tuan!" ujar Hayden dengan cemas.


"tidak apa, katakanlah!" ujar Luis Braga kepada Hayden yang sedang bingung.


"apa Gordon gagal menjalankan misinya?!" tanya Luis Braga yang seolah olah sudah mengetahui hasilnya.


"ampun tuan Braga, Gordon dan dua puluh orang itu gagal menjalankan misi mereka karena di ganggu oleh kaki tangan si tua Renan!" ujar Hayden dengan jujur.


"kau tidak perlu meminta maaf, ini sudah ku prediksi!" ujar Luis Braga yang mulai menyalakan sebatang rokok.


"maksudnya tuan?!" tanya Hayden yang bingung dengan perkataan Luis Braga.


"segera beritahu Yuan, Victor, Thalita dan Larrson untuk segera berkumpul di ruangan ini!" perintah Luis Braga kepada Hayden

__ADS_1


"Baik tuan!!" ujar Hayden dengan segera meninggalkan Luis Braga sendiri.


__ADS_2