Penguasa Culun

Penguasa Culun
Kesombongan yang Menghilang


__ADS_3

Setelah Bryan selesai membunuh ketiga pejuang terbaik yang dimiliki oleh Edward.


Bryan pun segera menuju kearah Edward dengan berjalan pelan.


Langkah yang ringan namun terdengar sangat kencang di telinga Edward Flick.


Edward yang melihat hal itu pun sangat ingin melarikan diri.


Namun entah kenapa kedua kakinya tidak dapat di gerakan bahkan dia merasa bahwa setiap sendi di dalam tubuhnya seperti melunak dengan perlahan.


Edward merasa seperti orang bodoh yang telah kalah dalam permainan yang dia buat sendiri.


"jangan mendekat, aku mohon!" teriak Edward dengan putus asa.


"kemana keangkuhan dan kesombongan mu tadi?!" tanya Bagas yang masih duduk dengan memegang gelas berisi anggur.


"apa kau masih menyimpan pejuang terbaik mu?!" tanya Bagas dengan tersenyum.


"tidak ada semuanya sudah tidak ada!" ujar Edward kepada Bagas.


"semuanya telah berakhir, maafkan aku!" ucap Edward dengan memohon kepada Bagas.


Bagas yang mendengar hal ini menjadi tertawa.


"bukan kah tadi kau mengatakan bahwa pantang untuk mu mengatakan permintaan maaf tuan Edward yang terhormat?!" tanya Bagas dengan mengejek.


"tidak tuan, aku salah dan setiap yang berbuat salah harus meminta maaf!" ujar Edward kepada Bagas dengan ketakutan.


"kau salah!" ujar Bagas yang menatap Edward.


"setiap kesalahan mempunyai takaran toleransinya tersendiri!" ujar Bagas menjelaskan.


"ada yang memang cukup dengan meminta maaf!" terang Bagas dengan tenang.


"namun ada pula yang harus diberi hukuman untuk memberi efek jera kepada pelakunya!" ucap Bagas yang menghancurkan gelas yang di genggamnya.


Melihat hal itu Edward menjadi sangat ketakutan.


Apalagi saat ini dia sadar bahwa hanya tersisa dirinya seorang yang masih hidup.


Semua bawahannya bahkan orang orang terbaik keluarg Flick sudah mati dengan cara yang mengerikan.

__ADS_1


"bagaimana aku keluar dari situasi ini?!" gumam Edward dalam hatinya.


"tuan tolong ampuni nyawaku!" ujar Edward dengan wajah yang cemas.


Bagas pun berjalan kearah Edward dengan tenang.


Edward hanya bisa berdiam diri melihat Bagas menuju kearahnya.


Semua akses jalannya untuk melarikan diri sudah di tutup oleh anak buah dari Bagas.


Baik Bryan ataupun para Harimau siap untuk menghabisi Edward yang telah berani menghina tuannya.


"aku sudah memperingatkan mu?!" ujar Bagas yang berdiri dihadapan Edward.


"jangan melakukan tindakan bodoh jika kau tidak berani menanggung konsekuensinya!!" ujar Bagas dengan tatapan yang penuh dengan emosi.


Edward yang melihat tatapan itu pun seketika membuat tubuhnya menggigil sangat ketakutan.


Tatapan itu seolah olah menjelaskan bahwa nyawanya berada di ujung tanduk.


"Kita bunuh saja dia tuan!" ujar Bryan yang sedikit takut melihat tatapan Bagas.


"bukan kita yang berhak membuat keputusan untuk memberinya hukuman!" ujar Bagas kepada Bryan dengan tersenyum.


"baik tuan!!" teriak mereka dan berjalan menghilang.


"Bryan kau panggil tuan Hanser kemari!" ujar Bagas kepada Bryan.


Edward yang melihat bahwa semua anak buah dari Bagas telah pergi.


"dasar bodoh!" ujar Edward kepada Bagas.


"apa kau mengira aku tidak tahu sedikitpun tentang beladiri!" ujar Edward yang berlari menyerang kearah Bagas.


Bagas yang melihat hal itu pun tersenyum.


Sebelum serangan itu mengenai Bagas, tiba tiba Edward terpental karena sebuah tendangan yang sangat keras di bagian perutnya.


"sialan apa yang dia lakukan!" teriak Edward dengan marah.


"apa kau mengira aku hanya seorang tuan yang dapat memerintah?!" tanya Bagas kepada Edward.

__ADS_1


"bukan bermaksud sombong, jika aku hanya seorang diri pun menghadapi kalian sangat lah mudah bagiku!" ujar Bagas yang berjalan kearah Edward.


"kau tahu aku sangat membenci seorang pengkhianat!" ujar Bagas dengan menampar wajah Edward.


Tamparan itu begitu keras hingga membuat Edward mengeluarkan darah di mulutnya.


"apalagi jika itu dilakukan oleh saudara sendiri!" ujar Bagas yang kembali menampar Edward.


Setiap kali Bagas selesai berbicara, Edward akan mendapatkan satu kali tamparan keras di wajahnya.


Entah sudah berapa kali Bagas melakukan tamparan itu kepada Edward.


Hingga wajah Edward sulit dikenali karena memar pada wajahnya.


Bagas baru berhenti setelah Bryan datang bersama Hanser dan pengawal Hanser yang lainnya.


"kenapa kau sangat lama sekali?!" tanya Bagas kepada Bryan.


"maafkan aku tuan, ini bukan salah saudara Bryan!" ujar Hanser kepada Bagas.


"aku yang salah karena menyulitkan saudara Bryan mencariku!" ujar Hanser dengan takut.


Banyak pejuang dari keluarga Flick yang merasakan ketakutan di dalam hati mereka karena insiden ini.


Dimana mereka melihat banyak nya mayat yang berjatuhan dengan kondisi yang sangat mengerikan.


"bagaimana tuan Edward dan ketiga keluarga Bill yang merupakan pejuang tangguh bisa mati dengan cara mengenaskan?!" ujar salah seorang bawahan Hanser.


"entahlah mereka sepert mati karena terkejut!" ucap salah seorang bawahan lainnya.


"apa kalian tidak bisa diam!!" ujar tuan Hanser kepada mereka.


"maaf kan kami tuan!" teriak mereka serempak.


"sudahlah jangan terlalu kasar dengan mereka!" ujar Bagas dengan tersenyum.


"apa kalian baik baik saja?!" tanya Hanser dengan ragu.


Bagas yang mendengar hal itu pun tertawa dengan pertanyaan Hanser.


Bagaimana bisa seorang pemimpin keluarga besar bisa memberikan pertanyaan bodoh seperti itu.

__ADS_1


"tidak ada yang terluka sama sekali tuan Hanser!" ujar Bagas dengan tersenyum.


"kami baik baik saja!" ujar Bagas dengan tenang dan tersenyum.


__ADS_2