
Sementara itu Rizki dan Dina saat ini sudah tiba di sebuah rumah yang sangat besar di pusat kota Nozel.
Dina saja yang merupakan salah satu anak orang penting di kota ini tidak mengetahui rumah siapa ini dan siapa yang tinggal disini.
"rumah siapa ini?!" tanya Dina kepada Rizki.
Namun Rizki diam saja tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Dina.
Dina yang melihat itu pun semakin di buat penasaran oleh Rizki.
Ada banyak pertanyaan di benak Dina tentang siapa dan ada hubungan apa dengan Rizki.
"apa ini salah satu rumah keluarga Rizki?!" tanya Dina di dalam hatinya.
"tapi bukan kah ini rumah yang sangat besar?!" tanya Dina yang bergumam sendiri.
Dina yang masih memikirkan banyak hal tentang rumah ini dan hubungan nya dengan Rizki.
Tiba tiba melihat Rizki sudah berada di depan pintu masuk utama rumah ini.
"Rizki tunggu!!" teriak Dina dengan berlari kearah Rizki.
Namun tiba tiba Dina dihalangi oleh penjaga pintu untuk masuk kedalam bersama Rizki.
"kenapa kalian menghalangi jalan ku?!" tanya Dina yang kesal.
"maaf nona, ini bukan rumah yang bisa sembarangan orang masuk kedalam!" ujar penjaga itu dengan sopan.
"tapi kenapa Rizki bisa masuk kedalam tanpa kalian halangi?!" tanya Dina yang penasaran.
"Saudara Rizki adalah pengecualian, dia bisa datang kapan pun dia inginkan!" jawab penjaga itu dengan hormat.
"aku adalah temannya Rizki, kenapa aku tidak di beri ijin untuk masuk kedalam?!" tanya Dina yang masih mengomel.
Belum sempat di jawab oleh penjaga itu.
"biarkan dia masuk, wanita itu kekasih Rizki!" ujar Bryan yang datang dengan tiba tiba.
Pernyataan itu sontak saja membuat penjaga itu terkejut sekaligus merasa bersalah.
__ADS_1
"maafkan aku nona!" ujar penjaga itu dengan gestur hormat.
"ehh iyah, terimakasih!" ujar Dina yang terkejut dengan ucapan pria itu.
Lagi pula sejak kapan dirinya berpacaran dengan Rizki.
Bukan kah Rizki selalu bersikap biasa saja dengannya.
Meskipun dahulu Rizki bukanlah pria yang akan di dekati oleh Dina.
Namun saat Dina mengetahui bahwa Rizki bukanlah orang yang mampu di singgung oleh sembarang orang.
Dina pun menjadi sedikit merasakan jatuh hati dengan Rizki.
"Saudara Rizki sedang berbicara dengan tuan ku!" ujar Bryan dengan sopan kepada Dina.
"lebih baik kita menuju tempat makan, untuk bersiap makan malam!" ujar Bryan yang mengajak Dina.
"baiklah tuan!" ujar Dina dengan sopan kepada Bryan.
...****************...
"ada apa Rizki?!" tanya Bagas dengan ramah.
"aku ingin menanyakan dua hal kepada mu?!" ujar Rizki tanpa berbasa basi.
"baiklah silahkan!" ujar Bagas yang duduk di sofa.
"pertama, kenapa kau meminta saudara Ernest memata matai rumahku?!" tanya Rizki kepada Bagas.
"kedua, apa yang kau lakukan kepada keluarga Flick?!" tanya Rizki yang penasaran dengan prilaku Edgar tadi pagi.
Bagas yang mendengar pertanyaan itu menjadi sangat senang.
Bukan tanpa alasan Bagas merasakan senang di hatinya.
Tapi karena Rizki ternyata jauh lebih bijaksana dan pintar dibandingkan dirinya dan mendiang kakaknya atau ayah Rizki sendiri.
"kenapa kau terlihat senang?!" tanya Rizki yang bingung.
__ADS_1
"aku akan menjawab semua pertanyaan mu!" ujar Bagas yang bangkit dari sofanya.
"tapi saat ini waktunya makan malam!" ucap Bagas kepada Rizki.
"bukan kah sebaiknya kita makan dahulu dan melanjutkan obrolan kita nanti!" ajak Bagas yang menepuk pundak Rizki.
Rizki yang melihat Bagas berjalan keluar dari ruangan kerjanya pun akhirnya ikut berjalan mengikuti Bagas.
Sesampainya mereka di ruang makan.
Rizki dan Bagas sedikit terkejut dengan keberadaan Dina yang saat ini sedang membantu para pelayan menyiapkan makanan diatas meja makan.
"ternyata pacarmu rajin juga!" ujar Bagas kepada Rizki dengan sedikit mengejek.
"jangan mengatakan hal yang tidak tidak!" balas Rizki kepada Bagas.
Bagas yang mendengar itu pun tersenyum senang dengan jawaban Rizki.
"Rizki mari makan terlebih dahulu!" ajak Dina kepada Rizki.
"Dina apa yang sedang kau lakukan?!" tanya Rizki yang bingung dengan Dina.
"aku hanya membantu sedikit disini!" ujar Dina dengan lembut.
"benar aku yang memberinya ijin!" ujar Bryan yang keluar dari dapur.
"sudahlah tidak perlu di bahas, lebih baik kita santap hidangan yang sudah tersedia di meja!" ujar Bagas yang duduk dengan santai.
Mereka pun akhirnya menyantap hidangan yang telah di sediakan malam itu.
Hingga tidak terasa bahwa perut mereka semua telah terisi penuh dengan makanan yang di hidangkan.
"Rizki ada yang perlu aku bicarakan dengan mu!" ujar Bagas yang berjalan kearah tempat terakhir mereka berbicara.
Rizki yang mendengar itu segera mengikuti Bagas menuju arah yang sama.
Sedangkan Dina dibiarkan berada disana bersama Bryan.
"Rizki sebelum aku menjawab dua pertanyaan mu tadi, ada hal penting yang ingin aku sampaikan perihal keluarga kita!" ujar Bagas dengan serius.
__ADS_1