
"apa yang harus aku jelaskan kepada kalian?!" tanya Dina yang bingung.
"kau harus menjelaskan tentang Rizki kepada kami!" ujar Dian dengan cepat.
Dina yang terus terusan di paksa oleh kedua sahabatnya pun akhirnya mengalah.
"baiklah aku akan menceritakan kepada kalian!" ujar Dina dengan terpaksa.
Mendengar itu Dian dan Putri pun terdiam untuk mendengarkan Dina.
"apa kau ingat saat kejadian aku dan Rizki berada di gedung bengkel?!" tanya Dina dengan pelan.
"iyah kami mengingatnya!" jawab Putri dengan cepat.
"saat itu aku dan kalian semua mengira bahwa yang membebaskan kami adalah Tyson bukan?!" tanya Dina yang mengingat kejadian itu.
"bukan kah memang itu yang terjadi!" ujar Dian kepada Dina.
"saat itu aku pun mengetahuinya sama persis dengan yang kalian ketahui!" ujar Dina yang menjelaskan dengan pelan.
"memang ada yang berbeda?!" tanya Putri dan Dian berbarengan.
"ternyata yang membebaskan kita adalah Rizki sendiri!" ujar Dina dengan langsung.
Pernyataan itu sontak membuat Dian dan Putri terkejut.
"apa kau sedang bercanda Dina?!" tanya Dian yang merasa bingung.
"bukan kah itu tidak mungkin terjadi?!" ujar Putri yang menggelengkan kepalanya.
Kenyataan ini memang sangat menyakitkan bagi Dian dan Putri.
Bagi mereka kenyataan ini seperti mimpi buruk yang terjadi di hidup mereka.
Bagaimana mungkin orang seperti Rizki menjadi begitu sangat tangguh.
Apalagi mereka seringkali mengejek dan menertawakan penampilan culun yang selalu di perlihatkan oleh Rizki.
"bagaimana mungkin pecundang seperti dia bisa mengalahkan Joe dan Shawn?!" tanya Putri yang semakin gelisah.
"Dina katakan kepada kami bahwa kau bercanda!" mohon Dian kepada Dina.
__ADS_1
"maafkan aku, tapi inilah kenyataan nya!" ujar Dina yang mengatakannya dengan santai.
"bukan kah kau mengatakan bahwa kau saat itu di bawa oleh Joe?!" tanya Dian yang teringat akan cerita Dina sebelumnya.
"benar! Lalu bagaimana kau mengetahui jika Rizki yang membebaskan kalian?!" tanya Putri yang sedikit merasa lega.
Kenyataan bahwa pecundang tetap lah pecundang adalah sesuatu yang sangat menyenangkan bagi sebagian orang orang kaya seperti mereka.
Sedangkan pecundang yang tiba tiba menjadi sosok yang di hargai menjadi sesuatu yang sangat menakutkan bagi mereka.
Dina yang mendengar hal itu seketika menghentikan mobilnya.
"aku juga baru mengetahuinya setelah aku bertemu dengan Tyson!" ujar Dina dengan pelan.
"sebelum Tyson masuk rumah sakit dengan tiba tiba!" tambah Dina dengan tenang.
"Tyson menceritakan semuanya kepada ku!" ujar Dina dengan pelan.
Pernyataan itu membuat Dian dan Putri sangat bingung sekaligus khawatir.
"Dina, kau jangan menyebarkan cerita bohong!" ucap Putri yang masih belum percaya dengan kenyataannya.
"aku hanya memperingati kalian saja!" ujar Dina dengan tersenyum.
"itu urusan kalian sendiri!" tambah Dina dengan tenang.
Mobil Dina pun kembali melaju menuju arah rumah Dina.
"Dina, apa ini yang menyebabkan kau selalu membela Rizki?!" tanya Dian dengan ragu.
"aku hanya tidak ingin, Rizki sampai marah!" jawab Dina kepada Dian.
"memang apa yang akan terjadi jika Rizki marah?!" tanya Putri dengan khawatir.
"apa tatapan Rizki tadi belum bisa memberi jawaban untukmu?!" tanya Dina kepada Putri.
Ucapan Dina membuat Putri dan Dian mengingat kembali bagaimana tatapan Rizki membuat mereka sangat ketakutan.
Tatapan yang mungkin hanya bisa di lakukan oleh orang orang yang memang memiliki kemampuan luar biasa.
Dina yang melihat Putri dan Dian sangat ketakutan.
__ADS_1
Sedikit tersenyum karena berhasil membuat Dian dan Putri khawatir dan kemungkinan tidak akan menganggu Rizki lagi.
"jangan pernah menyinggung Rizki lagi!" ujar Dina dengan pelan.
"atau nasib kalian akan seperti Joe Steward yang berakhir di kursi roda!" ujar Dina dengan sedikit merinding.
Dian dan Putri yang mendengar itu pun langsung merasakan kaku diseluruh anggota tubuhnya.
Dina pun sebenarnya tidak akan percaya jika tidak melihat langsung bagaimana Rizki menghabisi sepuluh orang dengan kekuatannya sendiri.
Bahkan seseorang sehebat Shawn saja dibuat tidak berdaya oleh Rizki.
Tyson pun bercerita banyak kepadanya.
Tentang bagaimana Rizki melawan semua teman Joe bahkan Shawn pun tidak berkutik melawan Rizki.
Semua yang melawan Rizki selalu berakhir dengan tragis.
Dina melihat sendiri dengan kedua matanya bagaimana semua musuh Rizki mengalami patah pada kaki atau tangannya.
"Dina bagaimana kita bisa meminta maaf kepada Rizki?!" tanya Dian yang mulai ketakutan.
"kita tidak perlu meminta maaf kepada Rizki!" ujar Putri memotong ucapan Dian.
"aku akan menyuruh seseorang untuk menghabisi Rizki!" ujar Putri yang sedikit mulai frustasi.
Dina yang mendengar itu sedikit terkejut dengan ucapan Putri.
Namun Dina hanya menggelengkan kepalanya.
"Rizki bukanlah pribadi yang senang menonjolkan dirinya!" ujar Dina tiba tiba.
"lalu bagaimana kau membuat dia bertarung dengan orang suruhan mu?!" tanya Dina dengan pelan.
Putri dan Dian yang mendengar itu pun bingung dengan pertanyaan Dina.
"apa kau ingin membantu kami Dina?!" tanya Putri yang tiba tiba mendapatkan ide.
"apa maksudmu?!" tanya Dina yang sepertinya mengerti arah tujuan Putri.
"kau harus mengajak Rizki keluar!" ujar Putri dengan tersenyum.
__ADS_1
"sisanya serahkan kepada kami!" ujar Dian yang ikut setuju.