
Putri dan Dian yang melihat Rizki yang masuk kedalam rumah sewanya begitu saja.
Membuat mereka sangat marah.
Semuanya karena Putri dan Dian merasa jika Rizki tidak menghargai mereka.
Sejak awal mereka datang sampai mereka sedikit menunggu.
Dan banyak ucapan Rizki yang telah menyinggung keduanya.
Perasaan orang kaya yang di rendahkan oleh orang miskin membuat mereka sedikit malu dan sekaligus marah.
Sementara Dina berusaha menenangkan kedua sahabatnya itu.
Karena Dina pribadi sangat takut jika Rizki sampai marah karena ulah dari sahabat sahabatnya.
Bayangan tentang bagaimana Rizki bisa menghadapi lima sampai sepuluh orang dengan hasil yang sangat mengerikan.
Setiap orang mendapatkan minimal satu patahan pada bagian di anggota tubuhnya, seperti kaki, tangan ataupun tulang rusuk.
Bayangan itu cukup membuat ketakutan di hati Dina.
Meskipun sebenarnya dia sangat ingin Rizki ikut dalam acara makan malam.
Biar bagaimanapun Dina sedikit menaruh perasaan kepada Rizki yang telah dua kali menyelamatkannya.
“sudah lah, jika Rizki tidak ingin ikut mari kita pergi!” ajak Dina kepada Dian dan Putri.
Dian dan Putri pun menuruti permintaan Dina dan masuk kedalam mobil.
Di dalam mobil Dian dan Putri masih sangat kesal dengan perlakuan Rizki kepada mereka.
“huh si culun itu mulai ber gaya dengan sombong!” ujar Putri dengan kesal.
“lihat saja nanti, aku akan membalasnya!” ucap Dian yang kesal kepada Rizki.
“sudahlah, kalian yang memulai kenapa kalian yang merasa kesal?!” tanya Dina dengan pelan.
Mendapat pertanyaan itu membuat Dian sedikit curiga dengan Dina.
“Dina kau yang awalnya ingin mengetahui siapa Rizki sebenarnya bukan?!” tanya Dian kepada Dina.
Putri yang menyadari maksud Dian, segera memberi respon terhadap pertanyaan Dian.
“benar sekali, kenapa sekarang kau seperti membela si culun itu?!” tambah Putri kepada Dina.
“apa jangan jangan? Kau suka kepada si culun itu?!” ujar Dian dan Putri dengan kompak.
Pertanyaan itu sontak membuat Dina terkejut.
__ADS_1
Hingga reflek Dina menginjak rem yang menyebabkan mobilnya berhenti sangat mendadak.
Putri dan Dian sangat terkejut dengan respon Dina.
“apa yang kau lakukan Dina?!” ujar Putri yang terkejut.
“kenapa kau menginjak rem seperti itu?!” tanya Dian yang memegangi kepalanya.
“apa kau ingin kita celaka?!” ucap Putri yang marah dengan prilaku Dina.
“upps maafkan aku!” ujar Dina yang merasa bersalah.
“aku terkejut dengan pertanyaan kalian itu!” ujar Dina kepada Dian dan Putri.
“kenapa kalian bisa memiliki pikiran bahwa aku menyukai si culun itu!” ujar Dina yang wajahnya memerah.
Wajah Dina yang memerah tidak dapat dilihat oleh Dian dan Putri karena gelapnya malam di kota Nozel.
Setidaknya itu sedikit menutupi rasa malunya kepada sahabat sahabatnya.
“jangan mengatakan hal yang macam macam lagi!” ujar Dina yang kembali mengendarai mobilnya.
Mereka bertiga pun akhirnya sampai di depan restoran Golden Jade.
Yaitu restoran dengan gaya Asia Timur klasik yang membuat restoran ini terlihat sangat indah di bagian dalamnya.
Saat tiba di restoran itu, Putri masih saja mengeluhkan tentang prilaku Rizki yang telah menghinanya dengan sangat buruk.
Sedangkan Dina yang melihat sahabat sahabatnya itu menjadi sedikit terganggu dengan mereka.
“kenapa kalian terus saja mengeluhkan sesuatu yang tidak penting!” ujar Dina yang kesal.
“lagi pula apa yang salah dengan itu semua?!” tanya Dina kepada Dian dan Putri.
“dari awal kalian tidak ingin mengajak si culun itu bukan?!” tanya Dina kepada Putri dan Dian.
“lalu kenapa kalian tiba tiba berubah pikiran dan ingin mengajaknya?!" tanya Dina yang mulai emosi.
"Sekarang saat si culun itu menolak ajakan kalian, kenapa harus kalian yang merasa marah? Bukan kah itu bagus?!” tanya Dina dengan bertubi tubi.
"itu sesuai dengan yang kalian inginkan!" ujar Dina yang marah.
"hey kenapa kau marah kepada kami?!" tanya Dian kepada Dina.
"itu benar, kenapa kau setega itu Dina?!" tanya Putri yang terlihat sedih.
"aku lelah mendengar keluhan kalian!" jawab Dina dengan tegas.
Putri dan Dian yang mendengar hal itu seketika menjadi sangat marah kepada Rizki.
__ADS_1
Karena selama ini Dina belum pernah semarah ini kepada mereka tentang masalah apa pun.
Tentang keluhan mereka, selama ini Dina adalah pribadi yang selalu menerima mereka mengeluhkan apapun.
Meskipun terkadang Dina menenangkan mereka yang terkadang keterlaluan.
Tapi Dina tidak pernah sedikit pun mengeluh atau marah dengan mereka.
Namun saat ini mereka baru melihat Dina yang mengeluh kepada mereka dengan sangat buruk dan semua ini terjadi karena si culun Rizki itu.
“baiklah maafkan kami Dina!” ujar Dian kepada Dina.
“itu benar, mari kita masuk dan makan dengan yang lainnya!” tambah Putri yang mulai sedih dan memeluk Dina.
Namun Dina tidak menjawab apapun dan melepaskan Putri.
Dina hanya pergi berjalan meninggalkan sahabat sahabatnya itu.
“Dian seperti ada yang aneh dengan Dina!” ujar Putri dengan cepat.
“kau benar, apa kau sadar dari awal dia selalu membela si culun itu?!” tanya Dian kepada Putri.
“apa sebenarnya Dina sudah mengetahui identitas dari si culun itu?!” tanya Putri dengan tiba tiba.
Meskipun itu adalah pemikiran mereka berdua yang paling masuk akal.
Namun mereka masih mencari alasan bahwa itu semua tipuan.
Yang sengaja di siapkan Rizki untuk menipu sahabatnya.
“tapi bukannya Dina sudah berkata bahwa si culun itu tidak perlu di khawatirkan!” ujar Dian yang heran.
“ahh sudahlah lebih baik kita segera menuju ruang makan itu!” ajak Dian kepada Putri.
Putri dan Dian pun berjalan menuju ruang makan yang telah mereka sewa untuk menghabiskan malam akhir pekan ini.
Didalam ruangan itu sudah banyak anak mahasiswa dari berbagai fakultas dan jurusan di Universitas Nozel.
Mereka semua rata rata adalah anak orang kaya atau anak dari orang yang berpengaruh dikota Nozel.
“kenapa kalian terlambat?!” tanya Robin kepada Dian dan Putri.
“dimana Rizki? Bukan kah kalian bertiga bilang ingin mengajaknya?!” tanya Frans kepada Dina, Dian dan Putri.
“kenapa kalian menanyakannya kepadaku?!” tanya Putri yang mulai kesal.
“lagi pula kami tidak benar benar datang untuk mengajak si culun itu!” ujar Dian dengan kesal dan duduk.
Semua teman kelasnya yang mendengar jawaban itu seketika menoleh kearah Dina.
__ADS_1
Dina yang mendapatkan perhatian itu.
Hanya berdiam diri saja tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya tentang Rizki ataupun sahabat sahabatnya.