Perfectionist Husband

Perfectionist Husband
Mommy Fey khawatir


__ADS_3

"Kau akan dioperasi 30 menit lagi, rilekskan dirimu. Sudah tidak sakitkan?" tanya Zayn.


Nara mengangguk, suaminya itu tadi memberikannya obat agar nyeri diperutnya berkurang dan bisa membuatnya merasa lebih nyaman.


Dan setelah mengurus semua keperluan operasinya, kini suaminya ini berdiri tepat di depannya yang tengah berbaring sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Menatapnya dengan tatapan tajam.


Ah, auranya sudah tidak mengenakan.


Nara hanya bisa menelan ludahnya sendiri, menghindari tatapan Zayn yang mungkin saja bisa membuatnya berubah menjadi patung saking takutnya.


"Kau pasti tau dengan jelas penyebab kau sakit seperti ini." kata Zayn dengan ketus.


Astaga Zayn sudah marah.


"Ingat, aku akan buang semua makanan instan di rumah, ramen? atau makanan instan lainnya tidak akan aku izinkan lagi menginjakkam kaki di dalam rumah." tegasnya.


Nara langsung menatap Zayn dengan mata melotot tajam.


Apa katanya barusan?


"Kenapa? kau ingin marah?" tanya Zayn.


"Jangan dibuang, lagipula aku juga kan tidak makan sering-sering... kau juga hanya memperbolehkanku menyetok tiga bungkus ramen di apartement, bagaimana mungkin kau membuangnya?" tanyanya.


Tidak bisa, Nara ingin menangis rasanya.


Dulu begitu ia keluar dari panti asuhan dan hidup sendiri, ia tidak pernah sempat untuk memasak sendiri. Ia terbiasa membeli makanan di luar, makan di pinggir jalan atau memasak mi di kosannya hampir setiap harinya.


Tidak ada susu, buah-buahan segar, daging-dagingan mahal yang bisa ia makan dan ia simpan di lemari pendingin seperti sekarang.


Makanannya benar-benar tidak terjaga dulu. Sama sekali tidak.


Dan tidak makan ramen lagi untuk selamanya adalah hal yang tidak mungkin untuk Nara, tidak bisa.. siapa yang tidak pernah makan mi instan seumur hidupnya?


"Tetap saja tidak sehat, mulai sekarang makan makanan yang bergizi dan sehat, aku tidak akan pernah membiarkan satu makanan instan dan berpengawet ada di dalam rumah." titahnya.


Oke baiklah, tidak bisa dibantah.


Zayn tidak bisa dibantah.


Jika sudah seperti ini maka jalan terakhir adalah Nara yang harus bersabar dan mengalah atas semuanya.


"Tapi sesekali bolehkan aku makan diluar?" tanya Nara lagi, mencoba untuk berdiskusi dengan Zayn.


Namun sayangnya pria itu sangat gigih dengan pendiriannya.


"Lantas untuk apa aku membuang semua makanan instan dirumah jika kau masih bisa mencecapnya di luar sana?"


Tuhkan.


Aeri yang tadinya hendak masuk ke dalam ruangan Nara langsung menutup pintunya lagi, tidak berani masuk dan mengganggu aktivitas uwu keduanya.


"Ingat, jangan melanggar perintahku. Awas saja jika kau berani memakan makanan instan lagi." ucap Zayn memperingati.


Makanan segar jauh lebih sehat dan lebih enak, moto hidup Zayn.


Walaupun ia suka makanan cepat saji yang ia coba bersama Nara, namun mengingat gizi di dalamnya membuat Zayn tak ingin lagi mencobanya.

__ADS_1


Mungkin sekali setahun saja, tidak apa jika ingin.


"Aku akan berbicara sebentar dengan dokter yang lain, kau istirahat saja sebentar." kata Zayn dan langsung keluar dari ruangan Nara.


...πŸ’œπŸ’œπŸ’œ...


Sedangkan di lain tempat, mommy Fey berjalan sembari bersenandung senang memasuki apartement membawa banyak sekali paper bag ditangannya.


Ia membeli hadiah untuk menantunya, Nara. Mengingat ini hari natal dan Fey yakin Nara akan sangat senang jika mendapatkan hadiah di hari natal seperti ini.


Fey juga sudah lama sekali tidak berkunjung dan melihat bagaimana kabar anak dan menantunya.


Begitu sampai di lantai apartement Zayn, Fey langsung memencet bel dan menunggu hingga beberapa saat.


Namun pintu tak kunjung dibuka oleh Zayn maupun Nara.


"Kemana mereka berdua? hari natal seperti ini tidak mungkin mereka tidur saja di dalam kamar." gumamnya.


Tidak mungkin, ada banyak hal yang bisa dilakukan dihari natal.


Fey kembali menekan bel beberapa kali namun tak kunjung direspon oleh pemilik apartement, tangannya juga mulai pegal menenteng paper bag yang lumayan berat.


Dengan kesal Fey menaruh paper bagnya di lantai, namun tetap pelan karena takut isi belanjaannya rusak, semua yang dibelinya adalah barang mahal.


Fey mengambil ponselnya yang ada di dalam tas lalu mencari nomor Nara dan menghubunginya.


Namun tidak diangkat.


"Tumben sekali Nara mengabaikan panggilanku." pikirnya.


Karena itu Fey pun langsung menghubungi Zayn, anaknya yang tidak seperti manusia itu.


Sialan sekali bukan? ingin rasanya Fey mengumpat mendengar pertanyaan anaknya itu.


"Tidak, kau pikir mommy kekurangan uang?" tanyanya.


"Mungkin saja, kau bisa belanja banyak barang dalam sehari." jawab Zayn enteng.


"Bodoh, mommy sekarang ada di depan apartementmu dan sudah 76 kali memencet bel. Dimana kalian sekarang?" tanya Fey cepat.


"Diluar masih banyak salju, kau juga sangat membenci menyetir saat jalanan seperti ini. Jadi katakan dimana kalian sekarang?" tanyanya lagi.


"Santai saja mom, aku dan Nara dirumah sakit sekarang." jawabnya.


Fey membuang nafasnya kasar, "Disaat seperti ini pun kau bekerja dan meminta Nara untuk menemanimu?" tanyanya tak percaya.


"Kau jahat sekali Zayn, astaga! apa tidak bisa libur sehari saja?"


"Bisa mom, aku-"


"Mommy tau kau sangat menyukai pekerjaanmu itu Zayn, sangat suka hingga kau seperti dibutakan oleh pekerjaanmu. Tapi istirahatlah sehari saja, nikmati hari natalmu dengan Nara dirumah." omelnya.


Zayn yang ada di ujung sana pun hanya bisa diam mendengarkan ocehan mommynya saja.


"Cepatlah pulang bersama Nara sekarang, mommy tunggu di apartement. Berapa kata sandinya?" tanyanya.


"Aku dan Nara tidak bisa pulang mom, kami harus dirumah sakit."


"Kenapa begitu?"

__ADS_1


"Ada operasi-"


"Oper ke dokter yang lain, jangan tangani operasinya! ayo makan siang dan makan malam bersama dengan mommy disini, cepat pulang." potongnya.


Mungkin jika ada dihadapan Zayn, kalian akan tau bagaimana kesalnya ia saat mendengar mommynya memotong ucapannya seperti ini.


"*Dengarkan aku mom, kau selalu saja cerewet."


"Jangan potong ucapanku lagi atau aku tidak akan menganggapmu sebagai mommyku lagi." ancamnya*.


Fey langsung diam, lihatlah malah Zayn sebagai anak yang mengancam mommynya.


Terbalik.


"Aku libur untuk hari ini mom tapi tiba-tiba saja Nara kesakitan dan harus dilarikan kerumah sakit-"


"APAAA? MENANTU MOMMY KESAKITAN? APA YANG TERJADI?" Tanyanya histeris.


Keguguran?


Astaga, tidak mungkin.


Fey jadi panik sendiri memikirkan apa yang terjadi dengan menantu tersayangnya itu.


"Katakan Zayn katakan apa yang terjadi dengan Nara? bagaimana keadaannya? apa dia baik-baik saja sekarang? dia sehat kan? dia sakit apa?" tanyanya beruntun.


Zayn sampai merasa telinganya sakit mendengar pertanyaan mommynya yang tiada habisnya.


Definisi orang cerewet saat panik, membuat pusing.


"Kau memotong ucapanku mom..." geramnya.


"Bagaimana mungkin mommy tidak khawatir saat kau mengatakan menantu kesayangan mommy berada di rumah sakit sekarang."


"Kalau begitu dengarkan aku mom, jangan memotong lagi atau aku akan mengusirmu dari kartu keluarga."


Hah baiklah, Fey diam dan mendengarkan dengan baik sekarang.


"Sudah?" tanya Zayn.


"Ya lanjutkan apa yang ingin kau sampaikan."


"Nara terkena usus buntu mom, keadaannya lumayan parah dan dalam 10 menit lagi Nara akan menjalani operasi untuk usus buntunya."


Ah, usus buntu ternyata..


Fyuuhhh.. Fey bisa bernafas lega karena tidak ada yang begitu serius.


"Kau bisa datang ke rumah sakit untuk menjenguk, aku matikan ponselnya karena operasi harus dilaksanakan segera." lanjutnya.


"Ah baiklah, lakukan semuanya dengan baik Zayn... mommy tau kau dokter profesional jadi selamatkanlah nyawa menantu mommy yang cantik dan baik hati tersebut, mommy akan segera-"


Fey mengambil ponselnya dan membuang nafasnya perlahan.


Panggilan sudah dimatikan sepihak oleh anaknya.


Sialan sekali pikirnya.


Hah diusia segini ia harus mengumpat karena kelakuan anaknya.

__ADS_1


__ADS_2