Perfectionist Husband

Perfectionist Husband
Berbagi


__ADS_3

Cup


Nara mencium tepat dibibir Zayn sembari menutup kedua matanya.


Tubuh Zayn langsung lemas karenanya, hampir saja ia terjatuh jika tidak dengan cepat mengendalikan pikirannya.


Nara menjauhkan kepala dan mundur beberapa langkah. Ia menatap Zayn yang terlihat linglung bahkan mengeluarkan keringat di cuaca malam yang dingin.


"Ahh.. kakiku sakit, aku ingin duduk." ucap Nara mengalihkan perhatian.


Nara duduk di salah satu kursi taman yang berada di dekat Zayn, ia merutuki dirinya sendiri yang bertindak diluar akalnya sendiri.


"Ah Nara, kau bodoh sekali bodoh!!" rutuknya.


Nara menundukkan kepalanya, "Pasti Zayn akan mengira aku gadis macam-macam karena menciumnya lebih dulu padahal ini juga ciuman pertamaku." lirihnya.


Zayn duduk di dekat Nara dengan jarak ditengah mereka, wajah Zayn masih terlihat syok.


"Aku tidak akan mengira hal aneh tentangmu." jawab Zayn.


Nara langsung mendongakkan kepalanya dan menatap Zayn, "Maafkan aku, aku hanya.."


"Apakah itu tadi yang disebut oleh orang-orang sebagai ciuman pertama?" tanya Zayn, matanya masih menatap kosong kearah danau.


"Apakah itu sebuah ciuman?"


"Atau hanya sekedar kecupan saja?"


"Apa ini yang orang-orang rasakan saat mencium orang lain?" tanya Zayn bertubi-tubi.


Nara meringis mendengarnya, Zayn yang biasanya kasar dan bermulut tajam kepadanya kini terlihat terlihat seperti sebuah robot yang kehabisan daya.


"Dokter, kau pasti sangat syok dengan apa yang kulakukan tadi. Aku meminta maaf sebesar-besarnya dokter.. tolong maafkan aku." ucap Nara dengan wajah ketakutan.


"Tidak apa, kau bilang akan membantuku dan aku sedang berusaha untuk sembuh." jawab Zayn.


"Apa kau sungguh-sungguh dokter? aku sangat menyesal sekarang karena telah melakukan ini kepadamu." ucap Nara.


"Aku... aku..." ucap Zayn lemas.


Nara mengerjapkan matanya berulang kali, "Ada apa dokter? apa kau membutuhkan sesuatu? katakan apa yang harus kulakukan sekarang dokter?" tanya Nara.


"Sepertinya aku bisa menahannya." ucap Zayn.


Nara menaikkan alisnya, "Menahan apa dokter? kau sangat syok pasti sampai seperti ini, ah aku tidak tahu harus meminta maaf seperti apa." ucap Nara sedih.

__ADS_1


Zayn menatap kearah Nara dengan wajah datarnya, "Sepertinya aku bisa menahannya perlahan-lahan." ucapnya.


"Tadinya saat kau memegang tanganku, aku merasa seperti diriku berada di neraka yang penuh dengan kuman dan juga bakteri."


Deg


Nara langsung menutup mulutnya sendiri, secara tidak langsung Zayn menyebutkan bahwa neraka penuh kuman dan bakteri itu adalah dirinya.


"Tapi kau mengatakan padaku untuk memikirkan hal yang indah dan membuatku nyaman. Jadi saat itu aku langsung memikirkan apartementku yang bersih dan rapi."


"Ah benar, tentu saja hal itu yang membuatnya nyaman setengah mati. Kuman dan bakteri tidak akan berani masuk ke dalam apartementnya." batin Nara.


"Saat kau melepaskan tanganku dan aku melihat tanganku, aku merasa ada banyak kuman yang tertinggal dan berjalan disana.. namun sekali lagi kau mengatakan bahwa tanganku baik-baik saja, aku baik-baik saja."


"Aku bisa mengontrolnya perlahan." ucap Zayn.


Nara tersenyum senang mendengarnya, "Benarkah dokter? itu kabar bagus untukmu bukan?" tanya Nara.


"Ya ini kabar bagus untukku, tapi aku tidak tau apakah aku akan mampu melakukannya lagi denganmu ataupun dengan orang lain." kata Zayn.


Nara membalikkan badannya dan menatap ke depan menatap danau di depannya begitu pula dengan Zayn.


"Dokter bolehkah aku bertanya kepadamu?" tanya Nara.


"Apa yang ingin kau ketahui tentangku?" tanya Zayn.


"Ya kau benar, aku terobsesi dengan kebersihan sejak berumur 15 tahun. Dulu aku selalu mencuci tanganku berulang kali dan mencuci wajahku hingga kulitku kering."


"Apa yang membuatmu sampai seperti ini dokter? setauku, seseorang bisa mengalami gangguan ini jika mereka mengalami hal yang sangat mengganggu diri mereka." tanya Nara.


"Ternyata kau cukup pintar untuk seorang gadis yang dibesarkan dipanti asuhan dan aku tidak tau aku boleh menceritakan hal ini kepadamu atau tidak sebagai orang yang baru kenal beberapa hari."


Nara menggelengkan kepalanya, "Jika kau tidak bisa mengatakannya tidak apa-apa, aku tidak akan memaksamu dokter." ucap Nara.


"Aku rasa kau bisa menjaga kerahasiaan hal ini dan aku juga sepertinya bisa mempercayaimu sebagai tunanganku." ucap Zayn sembari menunjukkan cincin dijari manisnya.


"Ah kau benar, kau sudah melamarku tadi ya.." ucap Nara.


Lamaran yang berbeda dari yang lain dan sangat tidak romantis.


"Dulu saat aku berumur 15 tahun aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, ayahku orang yang saat itu aku banggakan dengan senyum diwajahnya tengah bersama wanita lain di rumah kami sendiri."


Nara menatap ke arah Zayn tak percaya, ayahnya bisa setega itu melakukan hal itu.


"Ayahku benar-benar melakukannya, mommyku saat itu hanya bisa diam dikamarnya menangisi bagaimana sakitnya dikhianati oleh suaminya. Sejak saat itu aku membenci ayahku sendiri dan menganggap semua wanita di dunia ini menjijikan dan tanpa sadar obsesiku muncul dengan sendirinya." jelas Zayn.

__ADS_1


"Dokter.. bagaimana bisa ayahmu melakukan itu? mommymu sangat baik dan manis." tanya Nara.


"Aku tidak tahu, yang pasti dirinya adalah monster di mataku. Sampai akhirnya ia meninggal karena serangan jantung saat aku berumur 20 tahun."


"Aku harap kau bisa menyimpannya untuk dirimu sendiri, ini adalah hal pribadi yang hanya aku ceritakan kepadamu sebagai tunanganku."


"Aku mempercayaimu." ucap Zayn sembari menatap mata Nara.


Nara tersenyum dengan sangat manis kepada Zayn, "Aku akan menyimpannya sebagai hal pribadi untukku juga. Kau juga sudah mengetahui bagaimana aku kehilangan orang tuaku." ucap Nara.


"Ya, sangat tragis dan menyedihkan."


"Ya.. kau benar sekali dokter." ucap Nara sambil menghela nafasnya.


Nara mendongakkan kepalanya menatap langit yang dipenuhi dengan bintang dilangit malam itu. Zayn pun ikut melakukannya.


"Tingkat polusi dan debu hari ini cukup bagus, bintang dan bulan bisa terlihat jelas dilangit malam ini." ucap Zayn.


"Jika aku diberikan kesempatan, aku ingin terlahir dikeluarga yang utuh.. aku ingin merasakan hangatnya pelukan ibu dan ayahku untuk waktu yang lama." ucap Nara.


Tes


Air mata menetes dari mata indah Nara.


Zayn menatap tangannya sendiri lalu mengangkatnya di depan wajah Nara membuat gadis itu bingung.


"Apa yang kau lakukan dokter?" tanyanya.


Zayn menatap lurus kedepan dan menggoyangkan tangannya, "Anggap ini sebagai tangan orang tuamu... kau bisa menggenggamnya untuk sekarang, dan mungkin sebuah pelukan di lain waktu." ucapnya.


Nara menatap tangan Zayn kemudian tertawa, Terima kasih dokter.. kau menghiburku." ucap Nara.


"Hanya itu? ah.. tanganku pegal."


Nara dan Zayn sama-sama diam sejenak, semilir angin malam berhembus dengan lembut.


"Ah.. sangat dingin." kata Nara.


"Kau kedinginan?" tanya Zayn dan Nara menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu kita pulang sekarang saja, lagipula tidak ada yang akan kita lakukan lagi. Cincin sudah terpasang dijarimu dan berita pertunangan kita akan segera menyebar di rumah sakit." ucap Zayn.


"Benarkah dokter? bagaimana denganku kalau begitu?" tanya Nara khawatir.


"Bagaimana apanya? bersikap saja seperti biasanya dan ah.. kau tidak perlu bekerja sebagai petugas kebersihan mulai besok, kau hanya perlu berada di sampingku saja, memastikan aku tetap aman."

__ADS_1


"Disampingmu?" tanya Nara.


Zayn menganggukkan kepalanya, "Ya, disampingku."


__ADS_2