
"Disampingmu?" tanya Nara.
Zayn menganggukkan kepalanya, "Ya, disampingku."
"AKKKHHHH!" pekik Nara frustasi sambil mengacak-acak rambutnya, ia berguling-guling diatas kasurnya memikirkan perkataan Zayn tadi.
"Apa maksud dari perkataannya tadi ya?" gumam Nara.
"Aku berada disampingnya terus? ahh.. bagaimana ini.. apa yang harus aku lakukan besok.." ucapnya frustasi.
Nara bangkit dan duduk di atas kasurnya, memikirkan solusi untuk esok hari.
"Bagaimana jika esok hari aku tetap di rumah saja? aku tidak perlu kembali kerumah sakit."
Nara mengerjapkan matanya, menepuk tangannya.
"Benar! dia bilang aku tidak bekerja lagi sebagai petugas kebersihan disana, jadi untuk apa aku datang jika hanya berada disampingnya?"
"Ya, aku hanya harus berada disini sampai hari pernikahan.. aku hanya perlu diam dirumah saja." ucap Nara akhirnya.
"Baiklah, sekarang aku hanya perlu tidur dan bermimpi indah." ucap Nara sembari membenarkan rambutnya yang acak-acakan.
Setelahnya Nara langsung berbaring di kasurnya dan memakai selimut, menutup matanya dan tertidur dengan tenang.
Sedangkan Zayn di apartementnya yang lebih pantas disebut sebagai penthouse berjalan mondar-mandir di kamarnya.
"Kenapa aku mengatakan itu?" gumam Zayn.
Ia meringis, "Ah aku pasti sudah gila." ucapnya.
"Bagaimana aku bisa mengatakan seperti itu? ya, disampingku. Ahh... aku sudah gilaa." gumam Zayn.
"Lagi, kenapa dia tiba-tiba menciumku tadi?" gumamnya tak percaya.
"Wah dia benar-benar percaya diri sekali setelah aku mengajaknya menikah." gumamnya lagi.
"Besok, dia pasti datang kan kerumah sakit? aku akan memberinya pelajaran."
"Dia harus mendapatkan pelajaran karena sudah berani menciumku seperti tadi." gumam Zayn.
"Lihat saja kau Nara, kau tidak akan selamat." ucap Zayn yakin.
"Tapi dia pasti akan datang besok kan?" tanya Zayn lagi.
Zayn menjentikkan jarinya, "Pasti, tidak mungkin dia berani untuk membangkang perkataanku."
"Ah pelajaran apa yang harus kuberikan kepadanya?" gumam Zayn lagi.
Akhirnya malam itu dikamarnya Zayn menghabiskan waktunya hanya untuk bergumam, mengumpat dan mengatai Nara atas apa yang terjadi di taman.
...πππ...
__ADS_1
Cip.. cip.. cip...
Zayn membuka jendela penthousenya, jarang sekali ia melakukannya seperti ini. Bisa dihitung dengan jari.
Seperti biasa, Zayn melakukan aktivitas paginya sebelum dirinya pergi untuk bekerja di rumah sakit.
Membuat sandwich, potongan buah segar dan juga susu hangat untuk mengawali harinya yang berat dan memusingkan.
"Eumm... enak, makanan buatan sendiri memang yang terbaik." ucapnya.
Selesai makan, Zayn langsung turun ke bawah dan menaiki mobilnya menuju ke rumah sakit. Hanya butuh waktu sebentar Zayn langsung sampai di gedung rumah sakitnya yang merupakan rumah sakit swasta terbesar di negaranya.
Zayn menyemprotkan disinfektan ke tangannya sendiri, "Cuaca yang bagus." gumamnya di parkiran.
Zayn berjalan masuk ke dalam rumah sakitnya, perawat dan juga dokter yang berlalu lalang langsung menjaga jarak dari dirinya dan menundukkan kepala hormat.
Zayn berjalan dengan wajah datarnya yang mampu mengintimidasi sambil ia menatap sekelilingnya.
Tap
Zayn berhenti di depan salah satu dokter koas yang ada di dekatnya, ditatapnya dokter tersebut dari atas sampai bawah hingga membuat dokter tersebut ketakutan.
*Koas : Ko-Assisten.
"Kau.." tunjuk Zayn.
"Y-yaa dokter?" tanyanya.
Zayn menggeleng-gelengkan kepalanya dan segera berlalu ke arah lift khusus dirinya sendiri.
"Apa dia sudah datang ya?" gumam Zayn bertanya-tanya di dalam lift.
Ting
Pintu lift terbuka, Zayn langsung berjalan menuju ke ruangannya, di depannya Aeri sudah stand by berjaga seperti biasanya.
"Selamat pagi dokter Zayn." sapa Aeri sambil menunduk.
"Pagi.." jawab Zayn singkat.
"Ah dokter, permisi boleh saya bertanya?" ucap Aeri
Zayn menghentikan langkahnya, "Ingin bertanya perihal apa?"
"Maaf kan saya dokter, tapi tadi pagi saya mendengar perawat dan juga para dokter bergosip di bawah... mereka bilang dokter sudah bertunangan?" tanya Aeri hati-hati.
Zayn tersenyum tipis mendengarnya, "Ya, kemarin. Silahkan tunggu undangan dariku." ucap Zayn dan langsung masuk ke ruangannya.
Aeri menutup mulutnya sendiri tak percaya dengan apa yang didengarnya, dokter Zayn yang menginap OCD dan tidak pernah dekat dengan wanita kini akan segera menikah.
"Wah.. kabar yang luar biasa." gumamnya tak percaya.
__ADS_1
"Tapi apa benar yang di gosipkan oleh mereka? petugas kebersihan di rumah sakit ini. Siapa dia?" ucap Aeri bertanya-tanya.
"Ah sudahlah lebih baik aku kembali bekerja, aku baru ingat harus mengecek kondisi pasien di bangsal 1." gumamnya dan segera bergegas.
Zayn meletakkan tasnya dan duduk di kursinya, ia mengerutkan keningnya.
"Kenapa dia belum datang?" gumam Zayn bertanya-tanya.
Zayn mengetuk-ngetuk jarinya diatas meja, menunggu sampai Nara datang sesuai dengan perkataannya kemarin.
"Jelas sekali aku mengatakan kepadanya untuk datang, kenapa dia belum datang juga?" gumam Zayn kesal di menit ke 15 ia menunggu.
Karena penasaran, Zayn mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Nara untuk bertanya kepadanya.
Drrtt.. Drtt...
"Haloo..." sapa Nara di ujung sana dengan suara beratnya.
Zayn memijit kepalanya sendiri, "Kau masih tidur?!" pekiknya kesal.
Nara langsung membelalakkan matanya dan menatao layar ponselnya sendiri, tersadar bahwa dirinya tengah berbicara dengan Zayn di telepon.
"Tidak dokter mana mungkin saya masih tidur... saya tengah berada di halte bus, hari ini panas sekali." alasannya.
"Pagi ini suhu diluar masih 21Β°, tidak panas sama sekali. Kau kepanasan karena selimut tebal yang membalut tubuhmu."
"Kau baru bangun tidur kan?" tanya Zayn.
"Ah tidak dokter Zayn, aku tidak tidur." elak Nara.
"Kau, jangan merasa tinggi karena sudah menjadi tunanganku. Ingat, sebelum menikah kau masih tinggal di kostan kumuh dan tidak punya uang."
"Iya dokter aku mengingatnya." ucap Nara lesu.
"Bagus kalau begitu, sekarang juga kau datang ke rumah sakit seperti perkataanku kemarin, pakai gaun yang bagus yang warna putih, nanti kita beli gaun lagi untukmu selepas bekerja."
"Ingat, jangan pernah berpikir untuk tidak datang bekerja atau habis kau!" ancam Zayn dan langsung menutup teleponnya.
Zayn menghela nafasnya kasar, "Aku menunggunya dan bisa-bisanya dia masih tertidur." gumam Zayn tak percaya.
Nara langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandinya, membersihkan tubuhnya hanya dalam waktu 5 menit.
Nara memakai gaun yang Zayn berikan untuk ke mansion mommynya waktu itu, memakai flat shoes yang diberikan Zayn dan membawa tas serta sedikit merias wajahnya.
Dengan langkah seribu Nara langsung berlari keluar dan menunggu bus di halte.
"Ahh sial, aku tidak bisa berkata tidak jika berbicara dengannya." ringisnya.
"Padahal aku sudah berencana untuk tetap dirumah apapun yang terjadi dan tidak akan bertemu dengannya."
"Tapi semua jadi kacau, Zayn benar-benar membuatku takut tadi." ringisnya lagi.
__ADS_1