
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar🤗
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca🤗🤗🤗🤗
...💜💜💜...
Selesai makan enak dengan Zayn yang menghabiskan semuanya, kini Nara dan Zayn berjalan berkeliling mall melihat-lihat barang yang ada disana.
Tidak membeli.
Jika ingin membeli sesuatu maka Zayn pasti akan langsung mengajak Nara menuju ke mallnya saja, agar uang yang ia keluarkan bisa memberikan keuntungan untuk dirinya sendiri dan juga pegawai yang ada didalamnya.
Simpel sekali.
"Kau bilang kemarin ingin berbelanja." kata Zayn.
Nara menepuk dahinya sendiri, hampir saja dirinya lupa.
"Ah benar, aku ingin membeli bahan makanan untuk dikulkas."
"Apa kita belanja untuk di apartementmu juga? aku lihat hanya ada minuman dan daging-dagingan disana." tanyanya.
Zayn menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu, aku jarang berada dirumah dan memasak jadi penuhi saja kulkas dan lemarimu karena kau yang harus memasak dan membawakanku makanan ke rumah sakit. Bukankah begitu?" kata Zayn.
Nara mengerjapkan matanya sendiri, benar.. sebagai seorang istri yang berbakti melayani suaminya.
"Baiklah kalau begitu kita harus membeli banyak bahan makanan untuk stok di dapur." kata Nara.
"Ya sudah kita pulang saja sekarang, belanja di supermarket ku saja lebih lengkap." kata Zayn.
Padahal ia sendiripun tidak tau selengkap apa supermarket di mall ini ataupun di mall miliknya.
Ck ck ck..
"Akan lama Zayn, kita belanja disini saja sesekali." tolak Nara.
Zayn diam, ia menatap Nara dengan wajah datarnya namun istrinya itu memang pandai membujuk.
"Ayolah, ya? kita belanja disini saja agar tidak membuang waktu." kata Nara.
"Kau yakin?" tanya Zayn.
"Yakin, semua supermarket sama saja Zayn."
"Ya sudah, ayo." kata Zayn dengan entengnya.
Ia menggenggam tangan Nara erat, keduanya masuk ke dalam supermarket setelah berjalan dan mencarinya.
Nara mengambil satu buah troli, mereka langsung menuju ke bahan masakan dan membeli lumayan banyak sayuran untuk dimasak.
"Kenapa banyak sekali membelinya? kau ingin memasak untuk satu keluarga besar?" tanya Zayn heran.
Nara hanya menatapnya sinis, "Aku menyimpannya untuk beberapa hari Zayn, kau pikir aku akan memasak semuanya hanya untuk hari ini saja?" kata Nara.
Zayn menghedikkan bahunya, mana dirinya mengerti.
Zayn kan hanya tau makan saja.
"Ah, aku juga ingin membeli keju tapi dimana ya?" gumam Nara.
__ADS_1
"Cari saja." kata Zayn.
"Ya sudah aku cari dulu." kata Nara.
Nara hendak pergi namun tangannya langsung dicekal oleh Zayn.
"Mau kemana?" tanyanya.
Nara menaikkan sebelah alisnya, "Aku ingin mencari keju, kan sudah kukatakan tadi."
"Aku ikut." kata Zayn.
Nara menggelengkan kepalanya, seperti anak kecil saja ingin ikut kemanapun Nara pergi.
"Disini saja kau pilih makanan yang kau inginkan dokter, aku sebentar saja mencari keju disana." kata Nara.
"Aku akan segera kembali." lanjutnya.
Nara langsung berlari pergi membuat Zayn membuang nafasnya kasar.
Zayn pun menatap deretan sayuran di depannya, mengambil sayuran secara acak dan memasukkannya ke dalam troli.
Biarkan saja, biar Nara memasak terus dirumah karena sayurannya ada banyak.
"Ah, beli apa lagi ya?" gumam Zayn.
Ia mendorong trolinya menuju ke daging-dagingan dan juga ikan.
Dengan jahilnya Zayn memasukkan lagi semuanya, setiap jenis ikan dan daging langsung ia masukkan ke dalam troli.
"Hah, habis ini kau akan memasak terus, makan terus." gumam Zayn sambil tersenyum licik.
Memang Zayn tanpa sifat jahilnya pada Nara tidak bisa di sebut Zayn.
Zayn langsung tersentak kaget saat tangan mereka bersentuhan.
"Ah.. maaf aku duluan yang mengambil ini." kata gadis itu.
Zayn menelan salivanya sendiri, jantungnya berdebar lebih cepat dan dirinya berkeringat dingin.
Apa ini? kenapa tubuhnya bereaksi seperti ini saat disentuh orang lain?
Bukankah aku sudah sembuh? batin Zayn.
"Maaf, bisa kau lepaskan tanganmu dari dagingnya? aku ingin membelinya." tanyanya.
Tidak, aku sudah sembuh.. batin Zayn lagi.
Zayn menggelengkan kepalanya, ia menyangkal bahwa dirinya masih trauma dengan sentuhan orang lain. Namun gadis itu malah berpikir bahwa Zayn menolak permintaannya.
"Kau tidak ingin mengalah dneganku?" tanyanya.
Zayn menarik nafasnya dalam, ia menatap gadis di depannya.
"Aku ingin daging ini, bisakah kau memberikannya untukku? mengalahlah pada wanita apalagi kau terlihat seperti orang kaya dengan uang yang banyak." kata gadis itu lagi.
Beberapa orang yang melewati mereka pun langsung menatap Zayn dengan tatapan sinis karena ucapan gadis itu.
Gadis itu menyentuh tangan Zayn hendak menariknya agar ia bisa mengambil dagingnya namun Zayn segera menepisnya.
"Jangan sentuh aku!" ucapnya dengan tegas.
__ADS_1
Gadis itu langsung menatap Zayn heran, ada apa dengan laki-laki ini pikirnya.
"Jangan sentuh aku.." kata Zayn lagi.
Ia langsung meremat trolinya dengan kuat dan setelah itu mendengar gadis di depannya berdecih kepadanya.
"Cih, memangnya kau sesuci apa sampai tidak ingin bersentuhan denganku? menjijikan!"
"Kau menjijikan Zayn, kau membuatku kesal!!!"
Zayn langsunh teringat dengan ucapan temannya saat sekolah dulu. Menjijikan..
Apa dia menjijikan?
Nara yang baru saja kembali sambil membawa beberapa keju langsung menghampiri Zayn.
"Zayn!" panggilnya.
Gadia tadi langsung mengumpat dan pergi saat Nara datang, sedangkan Zayn masih diam di tempatnya.
"Zayn?" panggil Nara lagi sambil menggoyangkan tangannya.
"Kau kenapa Zayn? kenapa diam saja?" tanya Nara.
Zayn perlahan menatap Nara, "Nara.."
"Aku takut.. aku sepertinya belum sembuh." lirihnya.
Nara mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan apa yang Zayn katakan, apa yang suaminya itu maksud.
"Apa ada sesuatu yang terjadi dokter?" tanya Nara.
"Gadis itu.. gadis itu.. menyentuhku." adunya.
Nara langsung menghela nafasnya, ia mengerti sekarang kenapa Zayn seperti ini dan kenapa gadis tadi menatap dirinya dan juga Zayn dengan tatapan sinis.
Nara langsung menarik kedua tangan Zayn dan menggenggamnya dengan erat.
"Tidak apa, tidak apa Zayn.. aku disini sekarang, ada aku. Semuanya baik-baik saja." kata Nara menenangkan.
Ia ingat Jesslyn memintanya untuk mengatakan hal-hal yang bisa membuat Zayn tenang jika sewaktu-waktu hal seperti ini terjadi lagi.
Jesslyn meminta Nara untuk menggenggam tangan Zayn erat atau memeluknya atau melakukan apapun yang bisa membuat Zayn tenang dan percaya karena ada dirinya disisinya.
"*Tenangkan dia terlebih dahulu saat serangan paniknya muncul, berikan ia pengertian bahwa kau ada untuknya." begitulah kata Jesslyn.
"Walaupun dia sudah sembuh, bisa saja ia merasa panik saat berada diantara kerumunan, atau saat dirinya bersentuhan dengan seseorang*."
"Kita pulang saja sekarang, kau sudah membeli banyak juga." kata Nara. Nara menggenggam tangan Zayn dan membantunya mendorong troli menuju ke kasir.
"Jangan lepaskan tanganmu." kata Zayn.
Nara mengangguk, sampai ke parkiranpun mereka terus bergandengan tangan, sebelah tangan Zayn mendorong troli dibantu oleh Nara sedangkan sebelah tangan mereka saling bertautan.
Nara dan Zayn menyimpan belanjaan mereka di dalam mobil, Nara mengembalikan trolinya dan Zayn menunggunya di mobil.
"Aku saja yang menyetir, kau duduk saja." kata Nara kemudian mengambil kunci mobil yang ada di tangan Zayn.
Saat diperjalanan Zayn dan Nara hanya diam saja hingga lampu merah dan mobil berhenti membuat Nara memberanikan diri untuk menatap Zayn.
"Kita terapi saja bagaimana?" tanya Nara menyarankan.
__ADS_1
Zayn menarik nafasnya dalam, "Apakah aku bisa sembuh setelah itu?" tanyanya.
Nara mengangguk, "Bisa dokter, kau bisa sembuh. Aku akan membuat jadwal terapimu jadi jangan terlalu sibuk bekerja." ucapnya.