Perfectionist Husband

Perfectionist Husband
Apa kau menyukaiku?


__ADS_3

Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar🤗


Yuk tinggalkan jejak!


Selamat membaca🤗🤗🤗🤗


...💜💜💜...


Nara dan Zayn sekarang tengah duduk berhadapan di meja makan. Nara dengan wajah kesalnya dan Zayn dengan wajah datarnya.


"Kau kenapa?" tanya Zayn.


"Kenapa maksudmu? aku baik-baik saja." jawab Nara.


Zayn menghela nafasnya lalu melirik ke arah jam tangannya.


"Aku datang kesini ditengah kesibukanku di rumah sakit untuk bertanya padamu, jadi jawablah."


"Ada apa denganmu seminggu terakhir ini?" tanyanya lagi.


Sejak malam itu, dimana Zayn meninggalkannya diruangannya demi menolong pasien.


Nara menjadi lebih berani untuk menunjukkan perasaannya sendiri, perasaannya seperti meledak dengan sendirinya tanpa bisa ditahan oleh Nara.


Seperti seminggu terakhir ini, ia kesal, marah, dendam, ingin menangis namun Nara tidak bisa dan berakhir dirinya yang mendiamkan Zayn.


Namun Nara semakin marah lagi, karena niatnya untuk marah seakan tidak didukung oleh situasi dan kondisi.


Empat hari berturut-turut Zayn tidak pulang ke apartementnya, ia sibuk di rumah sakit dan memilih untuk tidur di ruangannya dibandingkan bersusah payah untuk pulang ke apartementnya.


Dan tentu saja Nara jadi kelabakan sendiri, ia bingung harus bagaimana. Zayn tidak menghubunginya selama beberapa hari, tidak pulang dan tidak bertanya kabarnya.


Dan semua ini adalah akibat dari ucapan Zayn waktu itu, semua ucapan Zayn waktu itu adalah penyebabnya bagi Nara.


Andai Zayn tidak mengatakan hal tersebut, tidak menceritakan kepadanya bagaimana ia menjalani hidup tanpa perasaan selama ini.


Mungkin Nara tidak akan seperti ini.


"Kenapa diam saja? jawab aku Nara." tanya Zayn lagi.


Ia dikejar waktu karena rumah sakit kedatangan puluhan pasien yang mengalami keracunan makanan hingga kritis.


Dan sebagai dokter senior, Zayn wajib mendampingi dokter dan perawat yang lainnya untuk mengurus para pasien.


Ditambah lagi dengan rencananya, rencananya bersama dengan para petinggi rumah sakit yang harus segera di realisasikan.


Kepala Zayn sudah pusing, membaca puluhan rekam medis pasien, lalu mengurus hal yang lainnya. Bukan hal yang mudah bagi Zayn.


Ia menelpon Nara jika ada kesempatan tapi Nara mengabaikan panggilannya, ia mengiriminya pesan juga tapi Nara hanya membacanya saja.


Tidak biasanya Nara berani mengabaikannya karena iti Zayn pusing memikirkan apa kesalahannya.


"Jawablah Nara, aku tidak bisa bekerja dengan baik karena memikirkanmu." ucap Zayn lagi.

__ADS_1


"Kalau begitu anggap saja aku tidak ada, tidak perlu memikirkanku." jawabnha enteng.


Nara berdiri, berjalan ke arah balkon apartementnya. Balkon yang bisa disebut sebagai teras karena lebarnya.


"Nara!" panggil Zayn namun Nara memgabaikannya.


Zayn berdiri hendak menyusul Nara namun tiba-tiba saja ponselnya berdering dan Aeri yang menghubunginya. Zayn langsung mengangkat teleponnya.


"Ada apa Aeri?" tanya Zayn, ia berjalan kembali ke arah dapur.


Samar-samar dari arah balkon Nara masih bisa mendengar suara Zayn, ia berdecih pelan.


"Kau bahkan tidak hanya tergila-gila pada kebersihan tapi juga tergila-gila dengan pekerjaanmu." gerutu Nara kesal.


Nara berdiri di pagar pembatas menatap ke arah bawah.. seram sekali, membuat Nara merinding.


Ia berada di lantai tertinggi kedua dari gedung ini dan ini berada dilantai 44, bagaimana Nara tidak merinding..


"Tolong minta dokter Rain mengurusnya Aeri, dia cukup handal untuk melakukan operasi ini." kata Zayn.


Nara menghela nafasnya berat, "Hah, dia sangat sibuk ternyata." gumamnya lagi.


"Kenapa aku jadi mudah kesal padanya? aku ingin mencoba pengertian padanya tapi jika seperti ini, hah.." gerutu Nara lagi.


Sedangkan di dapur Zayn tengah sibuk mengatur jadwalnya dengan Aeri.


"Ya Aeri, aku sepertinya kelelahan, kau bisa meminta dokter lain untuk menggantikanku hari ini."


Zayn langsung memutuskan panggilannya begitu selesai dan memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku celana.


Zayn berjalan menghampiri Nara yang tengah berdiri di pagar pembatas, ia ikut berdiri di samping Nara.


"Katakan padaku, ada apa denganmu? kau berani memgabaikan pesan dan panggilanku?" tanyanya.


"Tidak, mana mungkin aku berani melakukannya." elaknya.


Zayn mengesampingkam tubuhnya menatap Nara, "Kau tau kan aku sibuk beberapa hari ini?" tanya Zayn.


"Ya dokter, aku tau." jawabnya.


"Lalu? kau ingin mempersulitku lagi?" tanya Zayn.


Nara menarik nafas dalam lalu menundukkan kepalanya menatap ke bawah.


"Jangan membuatku semakin pusing dengan sikapmu. Kalau kau marah karena aku tidak pulang atau tidak memberimu kabar, aku harap kau mengerti."


"Pasien adalah hal nomor satu untukku."


Nara menghela nafasnya pelan, "Jika pasien memang hal nomor satu untukmu kenapa tadi kau meminta dokter lain untuk menggantikanmu?" tanyanya.


Zayn menatap Nara datar, bodoh sekali istrinya ini, membuat kesal saja.


Ingin sekali Zayn menjitak kepalanya dengan keras hingga Nara memekik sakit dan siapa tau otaknya bisa berfungsi dengan baik setelahnya.

__ADS_1


"Aku melakukannya karenamu."


Deg


Nara langsung berbalik menatap Zayn, jantungnya berdebar mendengar satu kalimat itu.


"Aku tidak bisa fokus bekerja karena memikirkanmu, memikirkan ada apa denganmu hingga mengabaikanku. Karena itu aku tidak bisa kembali bekerja sebelum semuanya selesai." lanjutnya.


Zayn berjalan mendekati Nara, berdiri tepat di depannya lalu meletakkan kedua tangannya di kanan dan kiri tubuh Nara.


Bertumpu pada pagar pembatas dengan tubuh yang dicondongkan kedepan membuat wajahnya dan juga Nara berdekatan.


"Kenapa kau seperti ini?" tanya Zayn sambil menatap kedua manik mata Nara.


Nara ikut menatap Zayn dan tak mengedipkan matanya. Telinganya memerah begitupula dengan wajahnya sendiri.


Detak jantungnya juga tidak teratur.


Apa aku terkena serangan jantung? pikir Nara.


"Apa kau menyukaiku?" tanya Zayn.


Nara langsung tersentak mendengarnya,menyukai Zayn? apa ia menyukai Zayn?


Nara tidak tau, Nara tidak mengerti.


"Aku rasa kau tidak punya alasan logis lainnya untuk mengabaikanku selain kau memendam perasaanmu padaku."


"Ti-tidak, tidak mungkin aku menyukaimu. Kau konyol sekali." jawab Nara.


Zayn langsung tersenyum miring mendengarnya, "Benarkah?" tanyanya.


Nara mengangguk, "Tentu saja benar."


"Kalai begitu aku ingin mengetesnya langsung." ucap Zayn.


Dahi Nara langsung berkerut mendengarnya, "Mengetes apa maksudmu?" tanyanya.


Zayn tersenyum miring lagi, "Aku sudah mengosongkan jadwalku hari ini, aku libur di siang hari."


Zayn menyentuh perlahan bibir Nara, mengusapnya pelan. Bibir yang membuatnya candu itu.


Lalu Zayn menyelipkan rambut Nara di telinganya, menyentuh perlahan leher putih dan mulus milik Nara hingga empunha menahan geli.


Dan tanpa mengatakan apapun Zayn langsung meletakkan tangannya di tengkuk Nara, mencium bibirnya dengan cepat, menyesapnya dan bertukar saliva.


Zayn menarik pinggang Nara mendekat padanya, Nara pun langsung menutup kedua matanya karena hal itu.


Mengalungkan kedua tangannya di leher Zayn dan meremas pelan kemeja yang digunakannya.


Zayn melepaskan ciumannya sejenak sambil menatap kedua mata Nara.


"Aku tanya sekali lagi, apa kau menyukaiku?" tanyanya.

__ADS_1


__ADS_2