
"Eungghh.."
Nara mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya.
Kamar.
Nara yakin ini adalah kamar saat melihat meja rias dan juga kamar mandi. Dan juga dirinya yang tengah tertidur diatas ranjang.
Sejak kapan dia ada didalam kamar?
Nara bangun terduduk, lalu pintu kamar tiba-tiba saja terbuka membuatnya tersentak kaget.
"Sudah bangun?" tanya Zayn.
Ya, Nara mengerjapkan kedua matanya berulang kali untuk memastikan.
Pria itu benar-benar Zayn, ya dia tengah berdiri di depan pintu menatapnya dengan tatapan dingin.
"Hei, kenapa diam saja? kau belum bangun dari tidurmu?" tanya Zayn lagi.
Nara mengerjap, "Su-sudah.. aku sudah bangun." jawabnya.
Jujur Nara bingung kenapa Zayn bisa ada disini dan dirinya ingat kemarin menangis di ruang keluarga, menangisi kesendiriannya.
"Kalau begitu cepat mandi dan ganti pakaianmu, kau masih memakai gaun sejak kemarin." kata Zayn.
"Jika sudah selesai, langsung temui aku di meja makan. Jangan terlalu lama mandi, dan jangan berendam."
Nara mengerutkan keningnya, ada apa ini? apa Nara melakukan sesuatu yang salah? pikirnya.
"Aku tidak punya waktu banyak untuk menunggumu." lanjutnya dan langsung menutup pintu.
Tunggu Nara masih linglung sekarang, kenapa Zayn bisa ada disini dan dirinya yang tidur di ranjang.
"Aku ingat kemarin tertidur di sofa.." gumamnya.
"Cepat kesini!!" teriak Zayn dari luar.
Nara tersentak, ia langsung mengangkat gaunnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Sungguh, saat masuk ke dalam matanya langsung tertuju ke bath up.
Nara ingin berendam sekarang...
Tapi ucapam Zayn tadi memghancurkan keinginannya, mandi dengan cepat dan jangan berendam. Nara pun memilih untuk mandi di bawah shower, air dingin membuat tubuhnya yang terasa lelah langsung segar.
Jika orang mandi air hangat disaat lelah untuk merenggangkan otot yang kaku, maka Nara akan mandi air dingin untuk menyegarkan kembali tubuhnya.
Hanya butuh waktu lima menit bagi Nara mandi dan membersihkan tubuhnya di kamar mandi, ia keluar dan mengganti pakaiannya dengan gaun berwarna soft pink dengan tangan sesiku dan juga panjang 5 cm diatas lutut.
Dia tidak memiliki pakaian lamanya disini. Tidak ada.
Nara yakin Zayn pasti membuangnya, tapi lebih baik ia tanya dulu.
Ceklek
Nara keluar dari dalam kamar, Zayn tengah duduk sambil menyesap kopinya di meja makan, pandangannya sama sekali tak teralihkan dari ponselnya saat Nara tiba.
__ADS_1
"Duduklah." ucapnya singkat.
Nara pun duduk di hadapan Zayn, pria itu lantas menyodorkan sepiring sandwich kepada Nara.
"Aku membuatnya dirumah karena belum ada bahan makanan disini."
"Untukku?" tanya Nara terkejut.
"Ya untukmu. Tidak mungkin aku membiarkanmu kelaparan."
Sudut bibir Nara terangkat sedikit, Zayn menunjukkan perhatiannya padanya?
Gigitan pertama berhasil masuk ke dalam mulutnya, Nara membelalak kaget dengan rasa sandwich buatan Zayn.
Sangat enak.
"Ternyata dia pandai membuat sandwich." batin Nara.
"Matamu terlihat bengkak, apa kau menangis semalam?" tanya Zayn tiba-tiba.
Nara mendongak menatap suaminya itu, ah ya mereka sudah menikah kemarin.
Suami...
"Ti-tidak."
"Bohong!" batin Zayn.
Zayn terdiam mengingat apa yang terjadi kemarin.
Tanpa membunyikan bel, Zayn langsung memasukkan kata sandi dan membuka pintu.
"Hiks.. hikss.."
Zayn mengerutkan keningnya mendengar suara tangisan dari jauh, ia berjalan mendekat dan saat melihat punggung Nara ia langsung berhenti dan diam.
Nara, wanita yang baru saja menikah dengannya iru menangis di malam pertama pernikahan mereka.
"Apa yang dia tangisi?" batin Zayn sampai akhirnya ia mendengar Nara menyebut ayah dan ibunya lalu mengatakan jika dirinya kembali sendirian.
Zayn pun bersembunyi dibalik dinding, duduk disana seorang diri menunggu Nara berhenti menangis.
Hingga satu jam lamanya, barulah suara tangis Nara tak lagi terdengar. Zayn pun penasaran apa yang Nara lakukan, mengintipnya.
Istrinya itu tertidur dengan bersandar pada sofa, setengah badannya yang tertutup gaun berada di lantai.
Karena takut Nara akan kedinginan dan masuk angin, Zayn akhirnya membopongnya masuk ke dalam kamar setelah bergulat dengan pikiran dan ketakutannya sendiri.
"Benarkah?" tanya Zayn dan diangguki oleh Nara.
Zayn kembali diam, ia menyesap kopinya sendiri yang ia bawa dari apartementnya kesini.
Nara menatap Zayn ragu, ada dua hal yang ingin dia tanyakan. Perihal apakah Zayn yang membawanya ke kamar, kemungkinannya begitu.. dan juga mengenai pakaiannya.
"Ada apa? sepertinya ada yang ingin kau tanyakan." tanya Zayn, walaupun matanya sibuk menatap layar ponselnya tapi dia bisa tau dengan jelas apa yang Nara lakukan.
__ADS_1
"Ahh.. itu."
"Katakan saja."
"Aku ingin bertanya, dimana pakaianku yang lainnya? hanya ada gaun di dalam." tanya Nara.
Zayn menyesap kopinya lagi dan melirik Nara dalam satu detik setelah itu ia kembali menatap ponselnya.
"Kubuang, kau tidak memerlukannya lagi. Kau sudah mempunyai kartu atm tanpa batas untuk berbelanja, jadi gunakanlah untuk membeli pakaian di mall." ucapnya.
"Ah.. jadi dia membuangnya karena aku sudah bisa membeli yang baru dengan kartunya." batin Nara.
Nara mengangguk mengerti, sudahlah biarkan saja mengalah untuk kali ini. Toh tidak ada salahnya membeli pakaian baru walaupun ia sangat menyayangi pakaiannya yang lama.
Nara menatap Zayn ragu, pertanyaan terakhir. Bagaimana cara bertanyanya?
"Ada lagi yang ingin kau tanyakan? jangan menatapku begitu, kopiku jadi hambar." kata Zayn.
Nara langsung menelan salivanya sendiri dan meminum kopi miliknya, ia membuang pandang kearah lain.
"Katakan jika ada yang ingin kau tanyakan, kau bisa sakit kepala jika memendamnya terus." ucap Zayn.
Suaminya itu tetap terlihat santai, duduk sambil membaca entah apa di ponsel miliknya, Nara tidak mengetahuinya.
Zayn kembali mengangkat cangkir kopinya, hanya tersisa sedikit lagi.
"Ekhem.. begini. Aku ingat kemarin malam aku tertidur di sofa, apakah mungkin kau kembali tadi malam dan membawaku ke kamar?" tanyanya.
Cangkir kopi yang hampir saja menyentuh bibir Zayn langsung berhenti, namun Zayn dengan pandai menyembunyikan ekspresinya sendiri dan langsung menyesap kopinya.
"Tidak." jawabnya singkat.
Nara langsung menghela nafasnya, "Bukan dia, lalu bagaimana aku masuk ke kamar?" pikirnya.
"Mungkin kau ngelindur tadi malam, tapi kenapa kau bertanya? apa kau tidak ada di kamar tadi malam?" tanya Zayn.
Pura-pura tidak tahu.
"Aku tertidur di depan tv, emm.. aku menonton tv hingga larut malam dan ketiduran disana." ucapnya.
Bibir Zayn tertarik sedikit, ia meletakkan cangkir kopinya di atas meja dan menyimpan ponselnya sendiri.
"Aku akan bekerja sekarang." ucapnga kemudian berdiri dan merapikan kemejanya.
Nara pun ikut berdiri dan menatap Zayn, pria itu mengeluarkan kunci mobil dari dalam saku celananya dan meletakkannya diatas meja.
"Aku pikir kau membutuhkannya untuk pergi keluar. Kau bisa mengendarai mobil kan?" tanya Zayn.
Nara mengangguk, tentu saja bisa. Dirinya pernah menjadi supir pribadi dari seorang perancang busana dan dipecat karena wajah cantiknya yang hampir saja membuat pacar bosnya itu berpaling.
"Baguslah, gunakan ini untuk keluar. Mobil BMW 520i M Sport berwarna mediterranean blue di area parkir A." ucapnya.
Bmw... batin Nara.
"Oh tuhan aku mengendarai mobil mahal?"
__ADS_1
"Bergayalah selayaknya nyonya xavier, kau pantas mendapatkan semuanya." ucap Zayn dan langsung melenggang pergi.