
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar🤗
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca🤗🤗🤗🤗
...💜💜💜...
"Wow.. kau menepati janjimu." ucap Zayn kagum.
Nara yang masih mengelap jendela langsung tersetak kaget, ia berbalik dan menatap Zayn yang berdiri di ujung lorong kamarnya.
Masih sedikit gelap, matahari masih enggan untuk bangun namun sudah mengerjapkan matanya.
"Sudah bangun?" tanya Nara gugup.
Kenapa dia jadi gugup? Nara juga tidak tau, tidak mengerti.
"Menurutmu? bagaimana bisa aku berdiri disini dengan tegap jika masih tertidur?" tanyanya sinis.
Cih, lihatkan..
Masih pagi seperti ini sudah mencari ribut.. emangnya dia tidak mengerti yang namanya basa basi?
"Jangan mengataiku di dalam hati, nanti hatimu ikutab kotor seperti otakmu." sindir Zayn.
Ia berjalan ke dapur mengambil segelas air putih dan melewati Nara begitu saja.
"Sejak kapan pikiranku kotor?" tanya Nara bingung.
Tak
Suara dentingan antara gelas kaca dengan meja marmer saat Zayn meletakkan gelasnya.
"Kau selalu menatap tubuhku seakan ingin memakannya, aku anggap otak dan pikiranmu kotor karena itu." ucapnya membuat Nara membelalakkan kedua matanya.
Astaga, apa segitu jelasnya ia saat menatap tubuh atletis Zayn?
"Sudahlah, kau lanjut bersihkan apartementku setelah itu kembalilah ke tempat asalmu." ucapnyaa dan langsung berlalu, menghilang entah kemana.
Nara berdecak kesal, "Dia pikir aku apa? mermaid? atau jin?" gumamnya.
"Ck, tempat asalmu sialan."
Nara menggosok-gosok kaca jendela dengan kuat hingga menimbulkan bunyi decitan antara kaca dan juga kainnya.
Sedangkan Zayn masuk ke dalam ruangan gym miliknya, setiap pagi sebelum berangkat bekerja Zayn memang selalu olahraga sejenak.
Zayn naik ke atas treadmill dan mulai berjalan perlahan baru setelah itu ia menaikkan kecepatannya secara bertahap.
Nara duduk di meja makan setelah selesai membersihkan semuanya, sangat melelahkan ternyata membersihkan apartement satu lantai ini dibandingkan dengan mengepel lantai rumah sakit.
Walau hanya beberapa sudut saja yang ia bersihkan namun tetap mampu membuatnya berkerigat lelah apalagi Nara belum mandi.
"Jam berapa sekarang?" gumamnya.
__ADS_1
Nara meraba-raba kantong piyamanya namun tak menemukan ponselnya. Nara pun berkeliling apartement namun tak juga menemukannya dimanapun.
"Kemarin aku letakkan dimana ponselku?" gumamnya.
Nara berusaha mengingat-ingat lagi..
Setelah mencuci wajah ia dan Zayn pergi ke kamar lalu saat ingin tidur Nara meletakkan ponselnya di atas nakas tepat di samping tempat tidur.
"Astaga! bagaimana bisa aku ceroboh sekali?" pikirnya.
"Aku harus segera mengambilnya sebelum Zayn marah lagi karena aku masuk ke dalam kamarnya." gumamnya.
Nara pun berjalan dengan cepat menuju ke kamar Zayn, berdiri di depan pintu dengan gugup.
"Dia masih di tempat lain kan?" gumam Nara.
Nara menjentikkan jarinya sendiri, "Tentu saja, kan dia tadi pergi entah ke ruangan apa dan aku tidak melihatnya kembali."
Tanpa ragu Nara langsung masuk ke dalam kamar Zayn, ia membuka pintunya dan aroma pria itu terasa sangat kuat disana.
Zayn..
Nara masuk ke dalam perlahan dan berjalan menuju ke ranjang Zayn, ia melirik ke arah nakas dan benar saja ponselnya masih ada disana.
Nara bernafas lega, ia langsung mengambil ponselnya dan mengeceknya.
Sudah pukul 7 pagi ternyata. Pantas saja matahari sudah mulai terasa menusuk ke dalam.
Ceklek
Nara tersentak kaget mendengarnya, ia langsung diam terpaku saat mendengar suara berat milik Zayn di belakangnya.
"Apa pria itu ada disini?" batinnya.
Nara meringis menutup matanya sendiri, kapan dia masuk ke dalam kamarnya? kenapa aku tidak melihatnya? ah dia pasti akan marah padaku...
"Hei, kenapa diam saja? kau patung ya?" tanya Zayn.
Nara membenarkan dalam hati, ya dokter aku menjadi patung dadakan karena dirimu.
"Hei!" pekik Zayn lagi membuat Nara tersentak kaget hingga kehilangan keseimbangannya.
"Aaaa!!" teriak Nara.
Bruk
Tubuhnya jatuh kebelakang tepat diatas ranjang dengan posisi terlentang, untung saja ia jatuh diatas kasur empuk bukan lantai syukurnya.
Namun sayangnya bagi Zayn itu adalah malapetaka, ia membelalak kaget dan langsung menghampiri Nara.
Nara tadi membersihkan apartement dan bisa dipastikan tubuhnya penuh dengan keringat dan kuman. Ranjang tercintanya pasti terkena keringat Nara, wanita itu juga belum mandi.
Ah Zayn ingin berteriak sekarang. Ia berdiri di depan Nara sambil berkacak pinggang lupa jika dirinya hanya melilitkan handuk untuk menutupi aset berharganya saja.
Kedua mata Nara langsung terbuka lebar, pipi dan juga telinganya terlihat memerah menahan malu.
__ADS_1
Di depan matanya, ia melihat secara live bagaimana bentuk tubuh suaminya, Zayn. Lihatlah perut kotak-kotak itu, lengannya yang kokok dan uratnya yang terlihat.
Bagaimana rasanya menyentuh perut kotak-kotak milik Zayn? apa keras seperti yang dirasakan oleh tokoh wanita dalam novel atau komik?
Nara ingin menyentuhnya, sekali saja merasakan bagaimana perut kotak-kotak itu.
Lalu bahunya yang begitu lebar, Nara bisa bersandar dengan nyaman disana.
Nara menelan ludahnya sendiri, matanya menatap ke bawah tepat ke handuk yang melilit di pinggang Zayn.
Astaga! apa itu? batin Nara saat melihat tonjolan kecil disana.
Ah dia sangat malu sekarang.. tolong selamatkan Nara! selamatkan Nara!!
Zayn yang heran dengan reaksi Nara saat melihatnya pun mengernyitkan dahinya, seharusnya dirinya ketakutan seperti biasanya namun sekarang Nara terlihat malu-malu.
Zayn pun menatap dirinya sendiri dan langsung terkejut saat menyadari bahwa ia hanya memakai handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya saja.
Dan tubuhnya yang lain terekspos dengan jelas.
Zayn mengumpat pelan, ia langsung masuk ke dalam walk in closet yang ada dikamarnya untuk berganti pakaian.
Nara langsung bernafas lega, ia buru-buru bangkit dan segera pergi dari apartement Zayn dan kembali ke apartementnya sendiri.
Malu sekali.
Nara menghela nafasnya lega begitu menutup pintu apartementnya sendiri.
"Hah syukurlah." gumamnya sambik memegangi dadanya.
"Tapi apa yang harus aku lakukan saat bertemu lagi dengan Zayn? aku kan harus berada di dekatnya terus untuk membantunya sembuh." gumamnya.
"Apa Zayn akan marah padaku karena sudah masuk ke dalam kamarnya lagi?" gumamnya takut.
Nara memukul kepalanya sendiri, "Bodoh, seharusnya kau menunggu saja sampai Zayn menghampirimu dan meminta tolong padanya."
Dengan lunglai Nara berjalan ke arah sofa dan merebahkan tubuhnya disana. Tiba-tiba saja bayangan tubuh atletis milik Zayn berputar lagi dikepalanya.
Wajah Nara pun kembali memerah mengingatnya.
"Oh astaga! pergi! pergi!" pekik Nara sambil memukul kepalanya sendiri.
"Ouh tidak salah Zayn menyebut otakku kotor. Bagaimana bisa aku memikirkannya?" ringisnya.
Nara berguling-guling diatas sofa, malu sekali..
Bruk
"Awhh... sshhh.."
Nara mengusap-usap bokongnya sendiri yang terasa sakit, begitu pula dengan sikut tangannya dan kepalanya yang terantuk dengan meja tadi.
"Ah.. kepalaku." ringisnya lagi dengan wajah kesakitan.
Nara pun mengambil ponselnya membuka kamera dan kaget saat melihat dahinya yang memerah.
__ADS_1
"Sepertinya akan bengkak." ringisnya hampir menangis.