Perfectionist Husband

Perfectionist Husband
Ikuti saja permainannya


__ADS_3

"Dokter bisa kau jelaskan padaku tentang semuanya? maksudku kau meminta bantuanku tapi kenapa aku harus menikah denganmu?" tanya Nara.


Kini mereka tengah berada di perjalanan pulang, Zayn tidak ingin berlama-lama ada dimansion mommynya. Itu hanya akan menambah bebannya saja.


"Aku akan menjelaskannya padamu." jawab Zayn.


"Kalau begitu katakanlah dokter, kenapa kau meminta bantuan seperti ini padaku? kau memang memberiku barang-barang mewah seperti ini tapi bagaimana dengan masa depanku? kau benar-benar akan menikahiku?" tanya Nara bertubi-tubi.


"Diamlah, aku tidak bisa fokus menyetir karenamu. Memikirkanmu duduk disana saja sudah membuatku stres memikirkan bakteri dan kuman apa kira-kira yang kau bawa." ucap Zayn.


Nara langsung menutup mulutnya rapat-rapat, Zayn yang kasar telah kembali lagi jadi kini Nara harus terbiasa dengan itu.


Zayn menghentikan mobilnya di sebuah restoran bintang lima dengan ruangam vvip yang mengarah langsung ke pusat kota, pemandangan air mancur dan juga jembatan khas dikota itu.


"Turunlah." ucap Zayn.


Nara turun, ia mengikuti Zayn yang berjalan di depannya dengan susah payah. Kakinya masih terasa sedikit nyeri dan sepertinya lecet karena terlalu lama menggunakan high hells.


Zayn dan juga Nara dituntun oleh seorang pegawai menuju ke sebuah ruangan tertutup, ruangan private yang cocok sekali untuk membicarakan sesuatu yang penting.


Nara dan juga Zayn duduk bersebrangan dibatasi oleh meja kaca ditengah mereka, Nara menatap takjub kearah luar. Pemandangan terlihat begitu jelas dibalik dinding kaca tersebut.


"Pesanlah sesuatu, aku yakin kau belum kenyang dengan makanan di mansionku." ucap Zayn.


Pegawai tersebut memberikan buku menu kepada Nara dan tanpa membuang waktu Nara langsung memesan makanannya.


"Kenapa kau tidak memesan?" tanya Nara setelah pegawai itu keluar.


Zayn menggelengkan kepalanya, "Aku tidak makan sembarangan diluar, sudah kukatakan padamu." ucapnya.


Nara menganggukkan kepalanya mengerti, ia menatap Zayn ragu-ragu.


"Bisakah kau jelaskan padaku semuanya sekarang?" tanyanya.


Zayn menatap Nara dengan tatapan dingin dan menusuk khas miliknya.


"Mommy memaksaku untuk segera menikah, karena aku menggagalkan rencananya untuk menjodohkanku akhirnya ia memintaku untuk membawa seorang gadis dalam minggu ini." ucap Zayn sebagai pembuka.


"Lalu apa hubungannya denganku? mengapa kau membawaku ke dalam masalah ini?" tanyanya.


"Aku melihat sisi keuntungan dari kita berdua. Kau bisa membantuku menjadi calon istriku dan menikah denganku nantinya."

__ADS_1


"Tidak, aku tidak mau menikah denganmu! ah maksudku aku belum siap untuk itu." ucap Nara sembari memelankan suaranya.


"Kau tidak perlu khawatir sama sekali, setelah menikah nanti aku akan memberikanmu apartement tepat dibawah penthouse milikku dan juga uang bulanan, artinya hidupmu terjamin dan kau tidak perlu bekerja seperti sekarang."


"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Nara.


Zayn menghedikkan bahunya, "Aku tetap menjalani kehidupanku seperti biasanya dengan nilai plusnya aku terbebas dari tuntutan untuk menikah, hanya saja kita harus berpura-pura saat di depan mommyku selain itu jalani kehidupan masing-masing. Bagaimana?" tanya Zayn.


Nara diam sejenak, apa yang Zayn tawarkan kepadanya sangat menggiurkan dan tidak ada yang salah dengan pemikiran Zayn.


Zayn diuntungkan karena bebas dari keinginan mommynya dan Nara diuntungkan karena mendapatkan tempat tinggal mewah serta mendapatkan uang tanpa perlu bekerja.


"Aku yakin kau akan menyetujuinya, mana mungkin kau menolak pemberianku itu." ucap Zayn.


Nara terdiam memikirkannya sembari menatap ke arah luar, segala kemewahan akan ia nikmati dan hidupnya tidak akan susah seperti dulu.


"Ya aku pikir tidak ada yang salah dengan ucapanmu, jadi ya sepertinya aku bisa membantumu terus untuk hal ini." ucap Nara.


Zayn menyunggingkan senyumannya mendengarnya, "Baguslah jika kau setuju. Setelah pernikahan nanti, aku akan membuatkan surat kontrak diantara kita dan kedua belah pihak harus mengikutinya."


"Baiklah aku tidak masalah dokter."


"Oh ya, aku juga tidak ingin menunda semuanya terlalu lama. Kau tahu sendiri jadwalku padat sebagai seorang dokter. Karena itu aku akan melamarmu secara resmi di depan mommy lusa."


Zayn menggelengkan kepalanya, "Lebih cepat lebih baik, terlalu lama akan membuat kepalaku semakin sakit memikirkannya." ucap Zayn.


"Kau hanya memikirkan dirimu sendiri." gumam Nara kesal.


"Bergumamlah dengan benar supaya aku tidak mendengar ocehanmu itu." sindir Zayn.


"Maafkan aku dokter." ucap Nara sembari membungkukkan tubuhnya.


Zayn diam melihat ke arah luar saat pegawai tadi mengantarkan makanan Nara.


"Habiskanlah makananmu, aku mengantuk dan ingin kembali ke rumah secepat mungkin." ucap Zayn.


"Baik dokter, aku akan menyelesaikan semuanya kurang dari satu jam." jawab Nara.


Zayn menatap tajam ke arahnya, "Satu jam terlalu lama, aku beri kau waktu untuk menghabiskannya kurang dari 30 menit lagipula kau hanya memakan pasta." ucap Zayn.


"Baik dokter, baik." jawab Nara.

__ADS_1


Nara langsung berusaha menghabiskan makanannya dengan cepat namun tiba-tiba kakinya terasa semakin nyeri dan sakit.


"Sstt... akhh.." ringis Nara.


Zayn yang mendengar suaranya langsung menatap ke arahnya, "Ada apa?" tanyanya.


Nara menundukkan kepalanya dan melepas sepatu yang dikenakannya, kakinya terlihat memerah dan tumitnya sedikit berdarah.


Zayn yang tak mendapat jawaban pun langsung mendekat ke arah Nara dan ikut menunduk untuk mengetahui ada apa di bawah.


"Hah, kau tunggu disini saja dan habiskan makananmu." ucap Zayn.


"Dokter mau pergi kemana? kau tidak akan meninggalkan aku sendirian kan?" tanya Nara.


Zayn menatapnya dengan tajam, "Hapus pemikiran bodohmu itu dan cukup duduk diam tunggu aku disini."


"Baik dok, aku akan menunggu disini." ucap Nara.


Zayn langsung keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Nara sendirian. Nara pun kembali melihat kakinya yang malang.


Dilepasnya sepatu cantik tersebut, "Sepertinya aku tidak bisa memakaimu dalam waktu yang lama.." gumam Nara sembari melihat sepatunya.


"Hah, kemana Zayn pergi." tanya Nara penasara.


Ia pun lanjut memakan makanannya hingga habis, 20 menit setelah berpamitan tadi Zayn akhirnya kembali dengan paper bag ditangannya dan sebuah tas kecil.


"Kau membeli sesuatu dokter?" tanya Nara.


Zayn hanya dian dan berlutut di samping Nara, d tariknya kaki gadis itu.


"Akkhh.." ringis Nara kaget.


Diluar dugaannya, Zayn mengeluarkan kotak p3k yang ada di mobilnya dan mengobati luka di kaki Nara. Sedikit memberikan alkohol untuk membersihkan lukanya dan memberikannya obat merah serta antibiotik.


Setelah itu Zayn menutupi luka kecil di tumit Nara dengan menggunakan kain kasa. Zayn juga memberikan revanol pada memar di kaki Nara bagian yang lainnya.


"Kau mengobati lukaku dokter?" tanya Nara.


Zayn mengambil paper bagnya membuka kotak yang ada di dalamnya alih-alih menjawab pertanyaan Nara itu.


"Pakailah.. aku masih punya rasa iba melihat kakimu itu." ucap Zayn. Setelah itu Zayn membereskan peralatan p3k nya dan memakai cairan disinfektan ditangannya sendiri.

__ADS_1


Nara pun memakai flat shoes berwarna peach pemberian Zayn tersebut, kini kakinya terasa lebih nyaman dan tidak terasa sakit.


"Terima kasih dokter, kau menyembuhkan lukaku." ucap Nara.


__ADS_2