
Engagement day
Nara dan juga Zayn tidak bekerja hari ini sesuai dengan perintah momny Fey.
Zayn duduk santai di apartementnya sembari menikmati secangkir kopi dan membaca buku.
Sedangkan Nara tengah berada di sebuah salon bersama dengan mommy Fey, mommy sendiri yang menjemput Nara ke kostannya untuk mengajaknya mempercantik diri demi malam ini.
Untuk lamaran ini, Zayn hanya ingin melakukannya berdua dengan Nara. Ia tidak ingin ada satu orangpun yang ikut campur dengan hari ini.
Fey mengangguk mengerti, ia akan membiarkan Zayn dan juga Nara melakukan apa yang ingin mereka lakukan.
"Kau cantik sekali Nara.." ucap Fey saat melihat Nara yang selesai di facial dan mengecat rambutnya menjadi agak kecoklatan.
"Terima kasih mom.." ucap Nara malu-malu.
"Ayo, mommy antar ke kostanmu. Bersiaplah disana, gunakan gaun dan juga sepatu yang mommy belikan tadi dan tunggu Zayn menjemputmu nanti malam." ucapnya.
"Mommy tau kau tidak terbiasa menggunakan hak tinggi jadi mommy membelikanmu sepatu dengan hak tipis saja agar kau tetap nyaman memakainya." ucap Fey.
Nara tersenyum senang mendengarnya, "Terima kasih mom, kau sangat baik kepadaku." ucap Nara.
"Tentu saja, kau akan menjadi menantuku.. anggita keluarga Xavier nantinya dan akan melahirkan cucu untuk mommy dan sebagai penerus keluarga kita." ucapnya.
...πππ...
Malam harinya, Nara sudah siap dengan gaun yang diberikan oleh mommy Fey. Sebuah gaun selutut dengan bahu terbuka.
"Gaunnya sangat cantik, inilah kenapa orang yang banyak uang selalu terlihat cantik." gumam Nara.
Drtt.. Drrt..
Nara mengambil ponselnya, Zayn menelponnya.
"Aku sudah di depan, cepat kesini."
Selesai mengatakannya, Zayn langsung menutup panggilannya. Nara menghela nafasnya pelan, bagaimana pun ia menghindar pasti akan tetap bertemu dengan Zayn bagaimana pun caranya.
Nara berjalan dengan anggunnya menghampiri mobil Zayn, Zayn yang menunggu di dalan mobil kembali terpana untuk yang kedua kalinya saat melihat betapa cantiknya Nara.
"Selamat malam dokter." sapa Nara sembari membungkuk.
"Malam."
Zayn langsung menyodorkan cairan disinfektan kepada Nara, dan Nara langsung menjalankan tugasnya seperti biasa. Dia sudah tahu harus bagaimana.
"Masuklah." ucap Zayn.
Nara memgangguk dan langsung masuk ke dalam. "Kita akan kemana dokter?" tanyanya.
__ADS_1
"Kau cukup diam saja dan jangan melakukan kesalahan seperti tempo hari atau aku akan meninggalkanmu di hutan." ancamnya.
"Tenang saja, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama." jawab Nara cepat.
Zayn langsung melajukan mobilnya dengan cepat membelah jalanan kota, perjalanan kali ini cukup memakan waktu.
Hingga Zayn dan juga Nara sampai di sebuah taman dengan danau di tengahnya, taman tersebut terlihat cantik dengan lampu taman yang meneranginya.
"Kenapa sepi sekali disini?" tanya Nara.
"Aku menyewa tempat ini untuk malam ini jadi tidak ada yang bisa masuk." jawab Zayn.
Nara melongo tak percaya, "Kau menyewanya dokter? wah... tidak kusangka."
"Bukankah aku cukup royal kepadamu? seharusnya kau berterima kasih atas semuanya."
Nara menutup mulutnya sendiri, menghela nafas sabar menghadapi omongan Zayn.
"Terima kasih atas kebaikanmu dokter." ucap Nara sambil membungkuk.
Zayn berhenti tepat di samping danau, ia menatap Nara yang berdiri tidak jauh dari dirinya.
"Kemari."
Nara berjalan mendekat dan berdiri dihadapan Zayn dengan wajah gugup. Walaupun lamaran ini tidak spesial tapi Nara cukup gugup karena ini adalah yang pertama kalinya untuk dirinya.
"Ah, bisakah kau memakai cincinnya sendiri? aku tidak sanggup untuk menyentuhmu." ucap Zayn.
Nara menaikkan sebelah alisnya, "Kau yang seharusnya memakaikannya dokter."
"Tapi tidak ada orang disini, tidak ada yang melihat kita. Jadi pakailah sendiri, kau bisa kan?" tanya Zayn.
"Lalu bagaimana saat pernikahan kita nanti dokter? bagaimana kau akan menggandeng tanganku jika kau saja tidak mampu." tanya Nara.
Zayn menghela nafasnya, "Ah kau benar, kenapa sulit sekali.." ringisnya.
"Dokter, aku akan membantumu untuk sembuh.. kau hanya perlu percaya kepadaku, aku juga tadi sudah menyemprot diriku dengan disinfektan dan dijamin tidak ada kuman ataupun bakteri yang menempel." jelas Nara.
"Tetap saja, aku tidak bisa. Aku tidak pernah menyentuh wanita selain untuk mengobatinya." jawab Zayn.
"Emm... bagaimana jika kau bayangkan sesuatu yang indah saat memegang tanganku dok? seperti membayangkan hal yang kau sukai dan kau cintai."
Zayn menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Tidak ada, aku tidak punya."
Nara menghela nafasnya, ia memikirkan cara lain untuk ini. Dengan cepat ia menggenggam tangan Zayn membuat pria itu menjerit dan menatapnya tajam.
"Lepaskan! lepaskan! apa yang kau lakukan?" tanyanya
"Nara lepaskan tanganku! lepaskan tanganku!!!" pekik Zayn.
__ADS_1
Nara langsung melepaskan tangannya, Zayn langsung melihat tangannya yang digenggam oleh Nara barusan dan segera menyemprotkan disinfektan.
"Lihat kan dok, tidak terjadi apa-apa. Kau hanya ketakutan saja.. Kau harus belajar untuk melawan rasa takutmu itu." ucap Nara.
Zayn kembali menatap tangannya, "Ya, tanganku baik-baik saja.." ucapnya dengan nafas tersenggal.
"Tapi bagaimana caranya aku belajar untuk ini?"
Nara tampak berpikir sejenak lalu dirinya teringat dengan bibi yang ada di mansion. Dia bisa menyentuh Zayn sesuka hatinya.
"Dokter, apa yang kau rasakan dan pikirkan saat dirimu menyentuh bibi yang ada di mansion?" tanya Nara.
"Nyaman, aku merasa nyaman dan aman di dekatnya." jawan Zayn.
Nara menjentikkan jarinya, "Nah, itu maksudku dokter.. cobalah untuk bersikap seperti itu denganku, percaya padaku. Bagaimana bisa kau menikahiku jika seperti ini?" tanya Nara.
"Baiklah aku akan mencobanya, katakan apa yang harus aku lakukan?" tanya Zayn.
Nara tersenyum puas mendengarnya, ia menunjukkan jarinya sendiri.
"Pasangkan cincinnya dok." ucap Nara.
Zayn menelan ludahnya sendiri, mengambil nafas dalam-dalam dan memegang tangan Nara gemetar.
Perlahan Zayn berhasil memakaikan cincinnya tepat dijari manis Nara.
"Hah.. hah.." Zayn menatap tangannya dan mengambil disinfektannya namun Nara langsung menghalanginya.
"Biarkan saja, jangan di bersihkan. Tanganmu tidak kotor dokter." ucap Nara santai.
Zayn terus menatap tangannya dengan gemetar, "Tapi tanganku.. Nara aku tidak bisa.." ucap Zayn, suaranya pun ikut terdengad bergetar.
"Kau bisa dokter.. pikirkanlah hal yang membuatmu nyaman, jangan pikirkan hal yang membuatmu takut." ucap Nara.
Zayn menutup kedua matanya, membayangkan dirinya tengah bersama dengan bibi yang merawatnya sejak kecil. Nafas Zayn yang tadinya tersenggal-senggal kini mulai teratur.
Nara tersenyum senang melihatnya, "Lihatlah dokter, kau bisa.. kau bisa.." pekiknya senang.
Zayn pun tersenyum senang, ia menatap Nara dengan wajah bahagia.
"Kemarikan cincinnya biar aku pasangkan dijarimu dokter, ah aku juga punya satu hal lagi untukmu." ucap Nara.
"Apa itu?"
Nara memegang tangan Zayn dan memasangkan cincin tersebut dijari manisnya. Begitu terpasang Nara langsung menatap mata Zayn sembari berjinjit.
Cup
Nara mencium bibir Zayn.
__ADS_1