Perfectionist Husband

Perfectionist Husband
Makan siang dengan suamiku


__ADS_3

Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar๐Ÿค—


Yuk tinggalkan jejak!


Selamat membaca๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—


...๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ...


"Kalau begitu jadilah perantara, jika dia tidak ingin mendatangiku maka jadilah psikiater untuknya."


"Aku yakin Zayn pasti mau karena kau juga kan istrinya." lanjut Jesslyn.


Nara tersenyum kikuk, istri.. ya istri.. tapi tidak ada ikatan cinta sama sekali diantara mereka berdua.


Tidak ada.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanyanya.


Jesslyn tampak berpikir, "Orang yang mengidap penyakit ini biasanya sangat sensitif dan terkesan cuek ataupun kasar." ucapnya.


Nara mengerjapkan kedua matanya, ya Zayn seperti itu.. tapi apa maksud terkesan disini? apa artinya Zayn tidak seperti itu?


"Kau tau Nara?" tanyanya.


Nara mengangkat kedua alisnya, kau saja belum mengatakan pertanyaannya Jess..


"Zayn mungkin bersikap kasar padamu dan orang lain untuk melindungi dirinya sendiri."


Nyes..


Nara diam, apa benar seperti itu?


"Menurutmu saja Nara, orang yang bersikap kasar itu apa memang benar mereka kasar? murni karena sifatnya seperti itu sejak kecil?"


"Ya, mungkin.. alasan apa yang membuat mereka seperti itu?"


Jesslyn menggelengkan kepalanya, "Mereka punya masa lalu yang pahit Nara.. sebenarnya mereka lemah jika kau bisa melihat ke dalam hati mereka."


Jesslyn menatap cincin pernikahan Nara, "Coba lihatlah cincin pernikahanmu, tepatnya lihat berliannya." ucapnya dan Nara mengikutinya.


"Suamimu mungkin terlihat seperti berlian sekarang, keras dan tidak ingin disentuh sembarangan orang. Tapi apa kau tau bahwa berlian melalui banyak sekali rintangan untuk menjadi indah seperti itu?"


"Dan kau hanya perlu waktu Nara untuk membuat berlian itu menjadi indah."


Jesslyn menatap jam pasirnya, waktu sudah berjalan setengahnya.


"Karena Zayn sangat sensitif, kau harus membuatnya merasa berharga. Aku yakin sekali Nara, ada masa lalu kelam dibalik semua ini, ada sesuatu yang membuatnya menjadi lemah dan berpura-pura kuat seperti sekarang."


"Kau perlu menjadi temannya, sahabatnya, istrinya, dan juga seseorang yang dia yakini akan selalu ada untuknya, kapanpun dan dimanapun."


Nara menatap Jesslyn, "Apa itu artinya aku harus mencintainya?" tanyanya.


"Bukankah kalian berdua saling mencintai?" tanya Jesslyn heran.

__ADS_1


Tidak ada orang yang mau menikah dan repot seperti ini jika tidak mencintai satu sama lain, bukankah begitu?


Nara gelagapan, terbawa suasana membuatnya berbicara melewati batas. Ia tidak ingin ada orang lain yang tau tentang pernikahan mereka.


"Ah, tidak. Maksudku, apa aku harus membuatnya yakin seratus persen jika aku memang benar-benar mencintainya?"


Jesslyn mengangguk, "Tentu saja, bujuk dia dan katakan apa yang ingin kau katakan padanya. Berikan dia pengertian secara perlahan, ingat Zayn orang yang sensitif dan pastikan dia ingin sembuh."


Nara mengangguk, "Baiklah, aku mengerti."


Ya mengerti ucapan Jesslyn namun tetap saja melakukan hal ini adalah pekerjaan sulit.


"Tapi bolehkan aku bertanya satu hal?" tanya Jesslyn.


"Ini hal penting." sambungnya.


Nara mengangguk, "Tanyakan saja."


"Jawab dengan jujur agar aku bisa membantumu dengan baik. Orang penggila kebersihan seperti suamimu pasti punya tempat istimewa yang tidak bisa disentuh oleh orang lain."


Ah benar.. ringis Nara. Zayn memilikinya.


Apartementnya.


"Apa kalian tinggal bersama? karena aku yakin rumah adalah tempat istimewa dan ternyaman baginya yang tidak bisa disentuh oleh orang lain."


Nara menghela nafasnya sendiri, apa yang harus kukatakan? pikirnya.


"Jawablah dengan jujur, aku tidak bermaksud jahat dan ini untuk membantumu."


Jesslyn menghela nafasnya, sudah ia duga. Jarang sekali ada pasien pengidap penyakit ini yang mau menikah, bahkan mereka pun menganggap manusia kuman.


Bagaimana bisa mereka tinggal dengan manusia yang dianggap kuman?


"Untuk sekarang, aku sarankan kau untuk membujuknya dan menunjukkan sikap yang aku beritahu padamu tadi."


"Pastikan dia menerimanya dan yakin padamu. Setelah itu kau bisa menghubungiku, dan melakukan konsultasi selanjutnya."


"Baiklah aku mengerti, terima kasih Jesslyn." ucap Nara kemudian bangkit.


"Sama-sama, hubungi aku saja saat kau kesulitan karena berhadapan dengan orang yang sakit secara mental jauh lebih melelahkan dibandingkan dengan orang yang sakit secara fisik." ucap Jesslyn sebelum akhirnya Nara menutup pintu dan pulang.


...๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ...


Nara mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, berpikir langkah yang harus ia ambil sekarang.


"Apa aku bawakan dia makan siang lagi?" pikirnya.


Menurutnya makan siang bukan ide yang buruk mengingat Zayn memakan makanan buatannya dengan baik terakhir kali.


Lagipula suaminya itu pasti sibuk dan hanya memiliki sedikit waktu saja untuk mengisi perutnya sendiri.


Dokter tapi sulit menjaga kesehatan, ck ck ck..

__ADS_1


Nara melirik arlojinya, masih pukul 10 pagi. Masih lama sebelum jam 12 siang.


"Lebih baik aku pulang sekarang dan membuat makan siang yang enak untuknya." gumam Nara.


Nara langsung mengendarai mobilnya menuju apartement, masuk ke dalam dan mengeluarkan bahan masakan untuk ia makan bersama dengan Zayn.


Dengan gesit Nara memotong sayuran, daging dan juga bahan lainnya. Memasak nasi lalu memasak makanannya.


Nara juga membuat jus strawberry untuk Zayn, ia harus bersikap baik pada Zayn.


Bersikap baik.


"Selesai!" ucapnya senang saat selesai menata makanan di dalam kotak.


Nara juga membawa makan siang miliknya, makan disana saja bersama dengan Zayn.


Tak butuh waktu yang begitu lama, Nara sampai di rumah sakit. Ia memarkirkan mobilnya tepat disamping mobil suaminya.


Ah, suami.. Kenapa jantung Nara jadi berdebar begini saat ingin menemuinya.


Nara menggelengkan kepalanya dan menarik nafas dalam, "Pasti aku gugup." pikirnya.


Nara pun mengambil paper bagnya lalu membuka pintu mobil dengan anggun, keluar dan berjalan masuk ke dalam parkiran layaknya nyonya Xavier.


Setelah mengingat-ingat bagaimana mama mertuanya bertingkah laku.


"Ingat, kau menyandang gelar nyonya Xavier."


Ucapan Zayn itulah yang selalu berputar dikepalanya.


Nara langsung naik ke lantai atas, ruangan Zayn berada. Senyum Nara langsung terbit saat melihat Aeri tengah berada di mejanya dan sibuk mengetikkan sesuatu, itu artinya Zayn ada diruangannya.


Nara menggelengkan kepalanya, haishh.. kenapa aku tersenyu?


Seperti biasa, takut jika Zayn maran dan mengatakan kuman maka Nara menggunakan disinfektan lebih dulu.


Lebih baik mencegah daripada mengobati.


"Siang Aeri.." sapa Nara.


Aeri mendongakkan kepalanya terkejut, "Nara? kau disini? wah.. aku terkejut. Pasti kau ingin makan siang dengan dokter Zayn ya?" tanyanya saat melihat paper bag di tangan Nara.


"Iya Aeri, Zayn ada di dalam bukan?"


"Tentu, masuk saja. Dokter Zayn tengah beristirahat sejenak selepas rapat dengan petinggi rumah sakit."


Nara mengerutkan keningnya, berapa kali Zayn rapat dalam seminggu.


"Ya sudah, aku masuk dulu Aeri." ucap Nara.


Nara membuka pintu lalu menyembulkan kepalanya ke dalam, tatapan tajam Zayn lah yang menyambutnya dan Nara hanya bisa tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya.


"Sedang apa kau disini?" tanya Zayn.

__ADS_1


Nara masuk ke dalam lalu mengangkat paper bag yang dibawanya.


"Aku ingin makan siang dengan suamiku."


__ADS_2