
Nara menatap kunci mobil yang ada dimeja dengan wajah kaget.
"Dia memberikanku mobil keluaran terbaru?" gumamnya.
"Astaga ada berapa banyak uangnya..."
Nara kembali duduk dan mengambil kuncinya, menatapnya dengan tatapan kagum.
"Selama ini dia selalu memakai mobil yang sama setiap ke rumah sakit dan kerumah mommynya, lalu kapan dia membeli mobil ini?" gumamnya lagi penuh tanya.
"Ahh.. hanya memakan seporsi sandwich saja tidak membuatku kenyang." ringisnya.
Nara menelan salivanya sendiri, membayangkan makanan yang biasa ia makan membuatnya lapar apalagi Nara sangat menyukai daging.
"Apa aku harus belanja sekarang?" pikirnya.
Nara bangkit dari duduknya, meletakkan kunci mobilnya lagi diatas meja lalu masuk ke dalam kamar.
Tetap dengan balutan gaun soft pink, Nara mengambil tas dan juga flat shoesnya. Mengucir rambutnya ke belakang menjadi satu dan menyisakan beberapa anak rambut di depan.
"Ah dimana kartunya? kartu akses apart, kartu atm dan ponselku juga."
Nara melirik ke seluruh kamar, lalu keluar mencarinya di ruang keluarga. Ternyata tergeletak di lantai, diantara sofa dan juga meja.
Nara mengambil kunci mobilnya dan langsung bergegas turun ke basement. Mencari mobil berwarna biru di parkiran A sesuai perkataan Zayn.
Sedikit sulit karena banyak sekali mobil bmw disini dengan seri berbeda namun ada beberapa yang memiliki warna biru.
"Ah ini dia." ucap Nara saat menemukan mobilnya.
Nara langsung masuk ke dalam, ia berdecak kagum melihat desain interior mobil.
"Wah.. seperti ini ternyata mobil orang kaya." gumamnya kagum.
"Aku seakan tengah menjalani mimpi panjang setelah mendapatkan semuanya dalam waktu singkat." ucapnya lagi.
Nara mendongakkan kepalanya, "Ayah dan ibu bisa lihat kan? aku mendapatkan semua kemewahan ini dalam waktu singkat." gumamnya.
"Aku akan berusaha menjadi anak yang baik untuk ayah dan ibu, dan menjadi istri yang baik untuk suamiku juga." lanjutnya.
Setelah itu Nara langsung melajukan mobilnya keluar dari basement, menuju ke salah satu pusat perbelanjaan di kotanya.
Nara sampai disana pukul 9 pagi, masih sangat pagi dan mall masih terlihat sepi. Mungkin juga karena Nara datang dihari kerja, hanya istri-istri sepertinya saja yang berkeliaran disini sepagi ini.
"Dia bilang aku bisa memakai kartu ini untuk membeli apapun." ucap Nara saat melihat deretan toko.
"Beli apapun dengan harga mahal Nara.. habiskan saja uang dokter kasar itu, maksudku suamimu.. habiskan uang suamimu." ucapnya lagi.
Nara masuk ke salah satu toko pakaian, baju tidur dengan berbagai model dan warna serta kaos-kaos santai yang bisa digunakannya dirumah.
Nara keluar masuk toko, membeli banyak pakaian. Bahkan ia juga membeli skincare, barang yang bahkan tidak pernah Nara sentuh sebelumnya.
"Wah.. sudah banyak sekali barang yang aku beli." gumamnya kaget saat melihat jumlah paper bag ditangannya.
Nara tidak menyadarinya, sejak tadi ia hanya keluar masuk toko membeli beberapa barang tanpa melihat-lihat.
__ADS_1
"Ternyata seperti ini yang dirasakan oleh mereka yang suka belanja." gumamnya.
Namun melihat jumlah belanjaannya sendiri pun mengingatkannya dengan Zayn, apa reaksi pria itu saat tau jumlah uang yang dikeluarkannya untuk membeli semua ini.
"Apa dia akan marah nantinya karena aku belanja sebanyak ini?" gumamnya.
Nara menggelengkan kepalanya, "Tidak mungkin, dia sendiri yang mengatakan aku bisa membeli apapun yang aku mau."
Nara pun kembali berjalan, membeli bahan masakan dan juga makanan lain untuk mengisi dapurnya.
Barulah setelah itu Nara kembali ke apartementnya tepat sesudah makan siang. Cukup lama juga ia berbelanja.
Nara meletakkan sayuran dan juga makanan lainnya di meja makan setelah membawa masuk paper bag belanjaannya di dalam kamar.
"Ah.. lelah juga." gumamnya.
Drtt.. Drrtt..
Nara merongoh ponselnya yang ada di dalam tas, Zayn menelponnya.
Tumben sekali, biasanya pria itu hanya mengiriminya pesan.
"Apa dia akan marah kepadaku?" gumam Nara.
Panggilan terhenti, Nara langsung bernafas lega.
Namun beberapa detik kemudian Zayn kembali menghubunginya.
"Dia akan marah jika aku tidak menjawabnya." pikir Nara.
Nara pun menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinga.
Nara langsung meringis mendengarnya, benarkan pria itu pasti akan marah kepadanya.
"Kenapa diam? aku bertanya.. cepat jawab."
"Aku habis.. dari kamar mandi, dan saat ingin kujawab panggilannya sudah berhenti."
Oh pandai sekali berbohong...
"Baiklah.. aku baru saja selesai medical chek up untuk pasien yang akan menjalani operasi dan setelah ini aku ada pertemuan dengan para petinggi rumah sakit."
Tunggu, dia memberitahuku jadwalnya? untuk apa? pikir Nara.
"Kau mendengarku kan?" tanya Zayn lagi.
"Ya-yya aku mendengarmu dokter.." jawabnya.
"Baguslah, aku lapar cepat datang kesini bawakan aku makan siang." pintanya.
"Hah?" Nara tersentak kaget mendengarnya.
"*Tunggu diruanganku dan masak makanannya dengan bersih, aku mau kau memasaknya dengan bersih dan rapi."
"Aku mempercayakanmu untuk mengisi perutku siang ini. Jadi jangan rusak kepercayaanku."
__ADS_1
"Masakkan aku makanan dengan bahan yang telah kau beli." lanjutnya*.
Zayn langsung menutup teleponnya begitu saja, Nara menatap layar ponselnya dengan tatapan heran dan kebingungan.
"Dia ingin aku memasak untuknya?" gumam Nara.
*Drrtt.. Drttt...
Dokter Zayn:
Datang secepatnya atau aku tendang kau dari apartement*.
Nara membelalakkan matanya kaget, buru-buru ia mengeluarkan sayuran dan juga daging yang telah dibelinya tadi dan memasakkannya untuk Zayn.
Dengan cekatan Nara menyiapkan semuanya, memasak bahan-bahan dengan apik dan juga bersih sesuai dengan permintaan pria itu.
Nara mengambil kotak makanan dan langsung menyusunnya. Memasukkannya ke dalam paper bag dan setelahnya Nara langsung mengambil tasnya serta ponselnya dan langsung pergi menuju ke rumah sakit.
***
Rumah Sakit..
Nara turun dari mobil, orang-orang yang berlalu lalang diparkiran langsung menunduk hormat kepadanya.
Nara Prameswari Xavier
Nama belakang yang sekarang ditambahkan ke namanya membuat banyak sekali perubahan dalam hidupnya.
Nara menunduk juga, merasa tak enak dengan semua orang. Dan demi menghindari lebih banyak lagi orang yang mengenalnya, Nara langsung berlari masuk ke dalam lift dan menekan tombol menuju ke ruangan Zayn.
Ting
Nara masuk ke dalam, sepi tidak ada orang. Bahkan Aeripun tidak terlihat di mejanya.
"Sepi sekali." gumamnya.
"Ah.. dia pasti sekarang tengah melakukan pertemuan dengan para petinggi rumah sakit seperti yang dikatakannya tadi." lanjutnya.
Langsung saja Nara masuk ke dalam ruangan Zayn, sepi sekali. Ia duduk disana dan meletakkan paper bagnya di atas meja.
Tak lama setelah itu Zayn datang bersama dengan Aeri di belakangnya.
Zayn menatap Nara dengan wajah datar, sedangkan Aeri mengulum senyumnya.
Pengantin baru.
"Nyonya Nara.. selamat siang." sapa Aeri sambil menundukkan kepalanya.
"Kalau begitu saya kembali bekerja dulu, permisi dokter dan nyonya Nara." ucapnya dan langsung menutup pintu.
"Kau sudah sampai rupanya, cepat juga." kata Zayn.
Zayn duduk di depan Nara dengan wajah kakunya sedangkan Nara ikut diam tidak tau harus melakukan apa.
"Kenapa diam?" tanya Zayn.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan dokter? kau hanya diam saja tidak memberitahuku." tanyanya.
"Bodoh sekali. Lakukanlah yang biasanya dilakukan oleh para istri saat mengantarkan makanan kepada suaminya."