Perfectionist Husband

Perfectionist Husband
Membiasakan diri


__ADS_3

Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar๐Ÿค—


Yuk tinggalkan jejak!


Selamat membaca๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—


...๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ...


"Jadi katakan padaku, kau ingin ku cium dimana? pipi? bibir? atau... yang lainnya?" tanya Zayn.


Nara langsung menatap Zayn dengan tatapan tajam, hampir saja tangannya melayang ke pipi suaminya itu jika saja dirinya tidak ingat dengan kondisi.


Nara menarik nafas dalam lalu berdiri, kepalanya sakit berlama-lama dengan Zayn seperti ini.


Tidak bisa Nara bayangkan apa jadinya jika dirinya dan juga Zayn tinggal di satu atap yang sama, berbagi ranjang dan berbagi yang lainnya.


Ah, pasti Nara akan menyetok paracetamol jika itu terjadi.


"Kau ingin kemana?" tanya Zayn.


"Tidur."


Zayn langsung menatap jamnya sendiri dengan tatapan heran, baru pukul 8 malam masih bisa disebut sore.


"Kau ingin tidur sekarang?" tanyanya memastikan.


Nara mengangguk, "Ya, tidur sekarang. Makanlah makan malam yang sudah kubuat setelah itu kau bisa pulang ke apartementmu dokter."


Nara membungkukkan tubuhnya 90ยฐ hormat dan langsung melenggang pergi masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintu dan langsung menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang.


Zayn sendiri hanya bersikap biasa aja, ia tak menganggap serius sikap Nara barusan.


Dengan santainya ia mengambil makanan dan melahapnya dengan nikmat, toh Nara memang memasak untuk dirinya.


Sedangkan Nara terlihat mengguling-gulingkan tubuhnya diatas ranjang, membuat ranjang yang tadinta terlihat rapi langsung berantakan dan spreinya tak berbentuk lagi.


"Aisshhhh!!! ada apa denganku?" gumamnya.


Nara menatap langit-langit kamarnya, merutuki dirinya sendiri dan apa yang sudah ia katakan pada Zayn tadi pagi.


Plus merutuki dirinya sendiri yang memasak dan bersiap untuk menyambut kedatangan Zayn.


"Ah, ini semua salahku. Kenapa aku menawarkan diri sebagai bantuan agar dia bisa sembuh?" gerutunya.


"Seharusnya aku hanya perlu untuk menjauh darinya saja, toh kami menikah juga untuk keuntungan mading-masing bukan hal yang lainnya." sambungnya.


"Ya, biarkan saja jika dirinya terus menjadi dokter galak yang suka sekaki dengan kebersihan, untuk apa aku bersusah payah ingin membantunya, ck." gerutunya lagi.


Nara mengambil nafasnya dalam, "Nara kau harus sabar dan menahan emosimu.."

__ADS_1


"Jangan sampai tekanan darahmu naik dan kau terkena penyakit hanya karena dokter kasar itu."


Nara mengerutkan keningnya, kini Zayn bukan hanya dokter kasar saja tapi juga hem.. Nara berpikir sejenak panggilan yang cocok untuknya.


"Dokter kasar dan juga over pede?" gumamnya.


Ya, over pede.. Zayn memiliki sifat over pede yang baru Nara ketahui hari ini.


"Tapi apa yang tadi Zayn mimpikan sampai dirinya ketakutan seperti itu?" pikir Nara.


Nara mengingat ulang lagi bagaimana Zayn yang terlihat ketakutan dalam tidurnya. Bagaimana laki-laki itu bergumam dengan wajah pucat dan penuh keringat.


Apalagi laki-laki itu mengatakan tentang traumanya kepada Nara.


Trauma yang dideritanya sejak ia masih duduk di bangku SMA. Sejak belasan tahun yang lalu.


"Tapi kenapa dia bisa sampai seperti ini?" gunan Nara.


Ada banyak diluar sana orang-orang yang melalui hidup yang sama seperti Zayn, maksudnya salah satu dari orang tuanya memiliki hubungan dengan orang lain.


Tapi kenapa Zayn bisa sampai seperti ini? apa Zayn benar-benar trauma dengan apa yang terjadi di masa lalu? pikir Nara lagi.


Nara menghela nafasnya, semakin memusingkan saja hidupnya setelah mengenal Zayn.


Tok tok tok


Nara tersentak kaget mendengar ketukan di pintunya, hampir saja ia berteriak jika tidak mengingat Zayn.


"Ada apa dokter Zayn yang terhormat?" tanya Nara dari ranjang dengan suara keras.


Sengaja, ia juga tidak mau membukakan pintu untuk Zayn.


"Kau tidak akan membuka pintunya?" tanya Zayn kesal saat mendengar suara setengah teriak dari Nara.


Jika dia berteriak berarti dia tidak akan membuka pintunya.


"Kenapa diam saja? mulutmu tidak bisa berbicara ya?" tanyanya lagi.


Nara langsung mencebikkan bibirnya sendiri, lihatlah.. orang yang tadinya ingin dia kasihanipun sekarang bertingkah seperti ini padanya.


Hah, tidak bisa.


Nara memang tidak ditakdirkan untuk berbuat baik padanya.


Jikapun iya, mungkin dikehidupan yang selanjutnya atau kehidupan yang lainnya lagi.


"Aku malas berjalan dokter, aku sudah berbaring diatas ranjangku!" teriak Nara.


Zayn menghela nafasnya, kali ini dengan suara yang sedikit berteriak ia membalas ucapan Nara.

__ADS_1


"Baiklah, kau boleh tidur seperti mayat sekarang."


Nara langsung melotot, apa katanya? mayat? wah.. hebat sekali mengatai istrimu mayat Zayn..


"Tapi besok pagi kau harus sudah bersiap disini, masakkan aku sarapan juga. Aku akan datang untuk belajar denganmu, membiasakan diri."


Nara mengernyit, "Membiasakan diri?" gumamnya penuh tanya.


"Ah maksudku untuk kesembuhanku. Kau sendiri yang menawarkan diri padaku untuk membantuku sembuh kan? jadi bertanggung jawablah besok dan aku akan menunggunya!" kata Zayn.


Zayn langsung melenggang pergi setelah itu, selesai mengatakan apa yang ingin ia katakan dan juga merapikan sedikit apartement Nara sebelum dirinya pulang,


Ke lantai atas.


Bahkan Zayn sempat menatap ke sekeliling sebentar sebelum akhirnya ia mematikan beberapa lampu karena Nara bilang dirinya sudah berbaring diatas ranjang.


Nara menghela nafasnya dan langsung menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang, menggigit kuat bantal dikepalanya.


"Apa yang harus aku lakukan besok?" gumamnya frustasi.


...๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ...


"Jadi kenapa kau diam saja?" tanya Zayn kesal.


Pria itu kini tengah duduk di sofa setelah selesai memakan sarapannya sedangkan Nara berdiri di dekatnya dengan kedua jari yang menyatu.


Zayn bilang hari ini dirinya tidak bekerja, ia juga hanya menggunakan pakaian santai untuk pergi ke apartementnya.


"Kenapa diam saja? mana dirinu yang meyakinkanku bisa menyembuhkan semuanya hem?' tanya Zayn.


Nara menggigit bibirnya sendiri bingung harus menjawab apa ataupun mengatakan apa kepada Zayn.


"Wah ternyata manusia bisa se plin plan ini." gumam Zayn takjub padahal dirinya hanya menyindir Nara.


"Hah.. kau.. ingin menonton televisi?" tanya Nara gugup.


Lihatkan, dia juga tidak mengerti kenapa bertanya pada Zayn dan kenapa dirinya menjadi gugup.


Sedangkan Zayn langsung menatap Nara malas, "Kenapa tidak sekalian saja kau mengajakku untuk makan mi ramen bersama?" tanya Zayn.


Makan ramen bersama di malam hari sebgaai pancingan untuk mau mampir, namun kenapa Zayn menawarkan ramen di pagi hari seperti ini.


"Ck, bukan begitu.. sabar aku tengah berusaha mencari cara untuk menyembuhkanmu." ucap Nara.


Zayn langsung membelalak marah, sejak kemarin apa yang Nara cari tau pikirnya.


"Bodoh sekali, jadi kau tidak tau harus menyembuhkankh bagaimana? ck ck ck.. seharusnya aku tidak padamu." kata Zayn.


Nara menggigit bibirnya lagi geram, ayo berpikir Nara.. apa yang akan kau lakukan untuk membantu suamimh yang mengesalkan kini.

__ADS_1


"Jangan menggigit bibirmu begitu, kau ingin aku menciummu ya?" tanya Zayn.


__ADS_2