Perfectionist Husband

Perfectionist Husband
Takdir


__ADS_3

Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar๐Ÿค—


Yuk tinggalkan jejak!


Selamat membaca๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—


...๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ...


Nara memarkirkan mobilnya di basement gedung apartement, karena keadaan yang urgent ia bergantian dengan Zayn.


Zayn duduk di kursi penumpang sedangkan dirinya menyetir mobil di depan.


"Zayn..." panggil Nara.


Zayn menatap Nara dengan tatapan datar dan dingin seperti biasanya.


Zayn dan Nara keluar dari dalam mobil bersamaan, dan Nara berjalan di belakang Zayn mengikuti pria itu menaiki lift bersama.


Begitu lift terbuka di lantai 44, Zayn langsung menengadahkan tangannya.


"Kunci mobilku." ucapnya.


Nara memgerjapkan kedua matanya dan langsung memberikan kunci mobil kepada Zayn, ia masih berdiri ditempatnya menatap Zayn yang terlihat dingin.


Apa dia marah kepadaku? pikir Nara.


"Kenapa diam saja? cepat keluar, aku ingin masuk ke apartementu." usirnya.


Nara menghela nafasnya lega, hah... lega jika Zayn memarahinya seperti ini.


Itu artinya laki-laki di depannya ini tidak marah atau kesal dengannya.


Tak


Nara meringis merasakan keningnya dijitak kuat oleh Zayn, "Ah.. sakit."


"Kalau begitu cepat keluar dari lift, mau berapa kali aku menahannya agar pintunya tidak tertutup? cepat." ucapnya.


Nara pun berdecak dan langsung keluar, Zayn hanya menatapnya dingin tak mengatakan apapun sampai pintu lift kembali tertutup.


Nara pun berjalan dengan gontai masuk ke dalam apartementnya, melemparkan tasnya diatas ranjang dan melepaskan sepatunya asal.


Bruk


Nara ikut menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang, mengingat lagi bagaimana takutnya Zayn saat di mall tadi.


"Padahal belum ada satu jam disana." gumam Nara sedih.


Padahal ia berniat mengajak Zayn untuk makan diluar, menonton bioskop bersama dan duduk di kursi bioskop yang di duduki oleh banyak orang.


Membuat Zayn terbiasa dengan semuanya.


Namun, baru bertabrakan dengan seorang gadis centil saja sudah membuat kaki Zayn lemas seperti jelly dan tak mampu berjalan.


"Apa setakut itu dirinya untuk berinteraksi dengan banyak orang?" pikir Nara.


Sungguh aneh, 25 tahun ia hidup baru kali ini Nara bertemu dengan pria yang mengidap penyakit aneh seperti ini bahkan menjadi suaminya.

__ADS_1


"Apa aku harus bertanya saja pada seorang psikiater?" pikir Nara.


Mungkin saja dengan begitu ia jadi tau harus melakukan apa, dan ini juga berhubungan dengan mental Zayn, kesehatan mentalnya yang terganggu sejak lama karena masalah kedua orang tuanya.


Nara pun mengambil ponselnya dan mencari di mesin pencarian nomor telepon seorang psikiater hebat yang bisa ia hubungi.


"Ah, ini dia.. perempuan, akan lebih mudah untukku bercerita kepadanya." ucap Nara.


Nara pun langsung menyimpan nomor psikiater itu dan menghubunginya dan membuat janji temu esok pagi.


"Hah... mudah-mudahan saja Zayn bisa sembuh setelah ini." gumamnya.


Sungguh, walaupun Zayn membuatnya kesal dan selalu berkata kasar padanya, Nara yakin Zayn memiliki hati yang lembut dan baik.


Hanya saja hatinya sudah tertutup untuk orang lain selama ini, ia tidak pernah menunjukkan perasaannya kepada orang lain.


Apalagi saat Nara melihat langsung Zayn yang bermimpi buruk hingga ketakutan saat bertemu dengan orang asing.


Nara yakin, Zayn banyak memendam masalahnya sendiri.


"Mungkin Tuhan hadirkan aku disini sebagai teman untuknya dan teman untuknya bercerita?" pikir Nara.


"Dan Zayn serta mommy Fey ditakdirkan untuk mengisi kekosongan hariku selama ini?" pikirnya lagi.


Nara menyunggingkan senyumannya, ya mungkin benar. Dulu ia hanya menjalani hidupnya seorang diri dan terkesan abu-abu namun semenjak ada Zayn dan juga mommy,


Nara merasakan apa itu warna dalam hidup, setidaknya ada yang memperhatikannya dan ada juga yang membuatnya kesal.


"Kalau seperti ini, aku harus berbuat baik kepada Zayn dan juga mommy.."


"Zayn, aku akan menolongmu.. aku akan membantumu untuk sembuh!" tekadnya.


...๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ...


Sedangkan di apartement atas, Zayn masih berada di dalam kamar mandi. Sedari tadi ia berdiri dibawah guyuran air shower.


Kuman, kuman dan kuman..


"Sabun.." gumamnya.


Zayn mengambil sabun dan kembali menggosokkannya ke seluruh tububnya untuk yang ketiga kalinya, menikmati guyuran air shower sembari mendinginkan kepalanya.


"Hah.."


Zayn menciumi tubuhnya sendiri, "Aku sudah wangi kan? sudah bersih?" gumamnya.


Zayn menggelengkan kepalanya saat mengingat kakek-kakek yang tadi terbatuk di depannya.


"Sekali lagi." ucapnya dan kembali menggosokkan sabun di badannya.


Selepas mandi dan berganti pakaian, Zayn keluar dari kamarnya berjalan menuju ke dapur dengan rambut yang masih basah.


Ia membuka pintu kulkas dan menuangkan segelas susu ke dalam gelas setelah itu Zayn juga mengambil cemilan.


Zayn tidak nafsu lagi untuk makan.


Zayn berjalan ke ruang televisi, duduk sofa empuk sembari menonton tv hingga ia mengantuk.

__ADS_1


Dan begitu susunya habis, Zayn langsung mematikan televisi dan mencuci gelas dan membersihkan dapurnya dari debu.


"Ah, aku mengantuk." gumamnya.


Zayn langsung berjalan lagi menuju ke kamarnya, apartement seluas ini membuatnya lelah juga berjalan.


Bruk


Zayn menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang dan menghela nafasnya lega.


"Nyaman sekali." gumamnya sebelum akhirnya ia masuk ke dalam alam mimpinya sendiri.


***


"Zayn!!" panggil seorang gadis sambil menyentuh tangan Zayn.


Zayn langsung menepisnya dan berlari ke kamar mandi sekolah, ia berdiri di depan wastafel dan mencuci tangannya sendiri, menggosoknya hingga bersih.


"Cih!"


Zayn menatap ke arah pintu, ternyata teman sekelasnya tengah berdiri disana dan menatapnya jijik.


Apa aku menjijikan? tanya Zayn saat itu dan semakin mencuci tangannya dengan kuat hingga kulitnya memerah.


"Apa kau pikir kau sebersih itu sampai tidak ingin disentuh oleh kami?" tanya salah seorang laki-laki.


Zayn tidak menjawabnya, fokusnya masih pada tangannya sendiri.


Kuman, kuman, kuman...


Aku harus bersih dari kuman..


"Kau bahkan tidak mau kusentuh! padahal dulu kau selalu bermain denganku! apa kau sudah merasa seperti dewa sekarang?" tanya gadis yang tadi kesal.


"Kau menjijikan Zayn, kau membuatku kesal!!!" pekiknya membuat Zayn berhenti mencuci tangannya sendiri.


Gadis itu terlihat menarik nafas dalam, ia kesal dengan Zayn namun ia juga tidak mengerti apa permasalahan yang sedang Zayn hadapi.


"Kalau saja dulu kita tidak berteman, mungkin aku sudah meludahi wajahmu itu!" ucap gadis itu lalu pergi.


Zayn memegang pinggiran wastafel dengan tangan gemetar dan wajah menunduk, teman sekelasnya yang tadi berdiri di depan kamar mandi pun tertawa dengan keras dan ikut pergi setelahnya.


"Zayn!"


Zayn membalikkan badannya, seorang laki-laki yang ia kenal sebagai temannya bermain bola tengah berdiri di belakangnya.


Pintu kamar mandi juga tertutup.


"Ada apa?" tanya Zayn.


"Aku ingin mewujudkan keinginannya, meludahi wajahmu itu!" ucapnya sambil tersenyum miring.


Cih!


"Hah! hah!!"


Zayn langsung terduduk diranjangnya dengan keringat yang membanjiri keningnya sendiri.

__ADS_1


Hanya mimpi..


__ADS_2