
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar๐ค
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca๐ค๐ค๐ค๐ค
...๐๐๐...
"Kenapa? apa ada yang salah dengan itu?" tanya Zayn dengan santainya.
Nara langsung meliriknya sinis sembari meremat lingerie berwarna merah merah menyala yang ada ditangannya.
Sialan.
"Kau tau kan ini hari natal dokter?" tanyanya.
Zayn mengangguk, tentu saja dirinya tau kan dia memberikan dua kado pada Nara sekaligus ditambah lagi ada pohon natal besar di apartementnya tahun ini.
Bagaimana bisa Zayn melupakannya saat ia melihat pohon natal untuk pertama kalinya di apartementnya..
Ingat untuk pertama kalinya.
"Tentu saja aku tau, apa kau bodoh sampai bertanya seperti itu? tidak lihat kado yang aku berikan?" tanyanya.
Nara langsung berdecak kesal mendengarnya.
"Kau tau ini natal kenapa memberikanku hadiah seperti ini?" tanyanya.
Zayn menaikkan sebelah alisnya, "Hadiah bagaimana? bukankah itu bagus? bisa meningkatkan gairah dan untuk menghangatkan tubuh secara alami.. kau tau cuaca sangat dingin." jelasnya.
"Lagipula aku sudah memberikanmu hadiah berupa perhiasan mahal, apa itu bukan hadiah bagimu?" tanyanya.
Nara langsung melirik kotak perhiasan yang ada disamping pohon natal, ah benar juga. Itu kado natalnya karena diletakkan oleh Zayn disana.
"Ayolah jangan marah padaku. Aku bosan mengancam untuk melemparmu dari jendela."
Nara cemberut mendengarnya, "Baiklah, baiklah.. aku tidak akan marah padamu. Tapi bisakah kau menghangatkan ruangannya? aku kedinginan.." pintanya.
Nara berjalan ke arah jendela dan membuka tirainya. Wah.. salju turun dengan lebatnya pagi ini. Nara hendak membuka jendelanya untuk melihat kebawah namun tangannya langsung ditahan oleh Zayn.
Padahal ia ingin melihat seberapa lebat salju yang tertumpuk dijalanan pagi ini.
"Apa kau bodoh? di dalam saja sudah dingin jangan membuka jendela nanti kau mati kedinginan. Kau mau seperti itu?" tanyanya.
"Lihat suhunya saja -5, kau bisa sakit nanti." kata Zayn saat memperlihatkan ponselnya sendiri.
Benar, -5 pagi ini.
Nara menggelengkan kepalanya.. tidak jangan sampai ia sakit.
"Baiklah aku mengerti, aku hanya ingin melihat saja seperti apa tumpukan salju di bawah sana." cicitnya.
"Pasti banyak tapi jalanan pasti dibersihkan oleh petugas sebelum ada korban jiwa yang jatuh karena licin." jawabnya.
Hah, biasanya saat salju turun seperti ini dan membuat jalanan menjadi beku oleh es dan licin ada banyak sekali pasien yang datang kerumah sakit karena kecelakaan.
__ADS_1
Pasti para dokter dirumah sakit akan sibuk disaat seperti ini pikir Zayn. Apalagi ini hari natal, banyak masyarakat yang akan keluar untuk mengunjungi kerabat atau temannya.
"Hah.. baiklah. Kalau begitu hangatkan saja ruangannya dokter, ini dingin." pintanya.
Zayn berdecak namun saat melihat lingerie berwarna merah merona yang tergeletak diatas meja ia langsung menyunggingkan senyumannya.
Senyuman seorang harimau jantan saat menemukan mangsanya.
"Daripada itu, bagaimana jika menghangatkan tubuhmu dengan tubuhku saja?" godanya.
"Dokter!" pekiknya.
"Kenapa? kau malu karena aku berkata seperti itu?" tanyanya.
"Ck ck ck.. padahal kita sudah melakukannya berulang kali. Jangan pura-pura polos, ayo!" ajaknya.
Zayn langsung menarik tangan Nara dan membawanya ke dalam kamar.
Dan kalian pasti tau apa yang terjadi diantara mereka untuk menghangatkan tubuh satu sama lainnya.
Hingga jam 6 pagi saat matahari perlahan naik barulah Zayn berbaring disamping Nara dengan senyuman lebar di bibirnya.
Berbeda dengan Nara yang terlihat kelelahan sekali, keringatnya banyam bergulir di pelipinya dan nafasnya tersenggal-senggal.
"Kau gila dokter." ucapnya.
"Kau mengataiku gila? wah.. sudah berani ya." kata Zayn tak terima.
"Ingin aku buat tubuhmu panas bukannya hangat?" tanyanya.
Zayn menaikkan sebelah alisnya saat Nara menoel-noel lengannya sendiri.
"Ck, kenapa kau menyenggol lenganku? bagianmu untuk tidur sudah lebar jangan menggangguku." gerutunya.
"Bukan itu, tapi ambilkan aku minum. Aku kelelahann."
Zayn langsung melebarkan kedua matanya, dia tidak salah dengarkan? Nara baru saja menyuruhnya untuk mengambilkannya minum!
Zayn jadi tidak bisa berkata-kata. Semakin lama Nara semakin berani pada dirinya. Seperti tidak ada lagi rasa takut akan dirinya.
Apa aku sudah tidak menakutkan lagi? pikir Zayn.
"Kenapa? aku hanya meminta ambilkan air dan air minumnya ada di meja tepat disampingmu dokter.. ayolah kau pelit sekali sebagai suami. Anggap saja ini sebagai balas budi karena membuatku kelelahan."
Lihatkan.. lihat.
Nara bahkan berani berbicara panjang lebar seperti ini padanya. Wah, sungguh hebat sekali. Zayn sampai tidak bisa berkata-kata.
"Kau benar-benar membuatku tidak bisa banyak berkata-kata. Ambillah sendiri, kau punya tangan dan punya kaki." kata Zayn dan kembali berbaring.
Nara langsung merengut mendengarnya, ia pun kembali menggoyangkan lengan Zayn dengan kuat.
"Dokter, kau tidak berjalan selangkahpun kemana-mana. Lihat, air minumnya ada di meja disampingmu." pintanya lagi.
"Ah ya, apa kau lupa?" tanya Zayn kemudian duduk menatap Nara yang tertidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya sendiri.
__ADS_1
Nara menaikkan sebelah alisnya.
"Lupa apa?"
"Yang tadi ini sebagai balas budi karena aku sudah memberikanmu gaun yang bagus yang sekarang sudah tidak bisa dipakai lagi." jelasnya sembari melirik lingerie merah yang sudah teronggok dibawah dan koyak karena kelakuan Zayn.
Lalu apa tujuannya membeli pakaian itu jika hanya untuk dikoyak saja? Nara tidak mengerti dengan jalan pikir orang kaya seperti suaminya ini.
"Jadi aku akan mengambilkanmu minum seperti ini." kata Zayn dan mengamb air minum yang ada diatas nakas dan memberikannya pada Nara.
Bahkan Zayn tidak bergerak sama sekali, hanya tangannya saja yang bergerak untuk mengambil.
"Lalu kau harus membalas budiku." lanjutnya.
"Balas budi bagaimana?" tanyanya.
"Minumlah dulu, aku tau kau sudah kehausan." kata Zayn.
Nara langsung duduk dengan sebelah tangan yang menahan selimut agar tidak turun.
"Sudah." kata Nara setelah menegak habis satu gelas air putihnya.
"Kalau begitu sekarang aku ingin lagi, seperti tadi." ucapnya dengan senyuman nakalnya.
Nafas Nara langsung tercekat mendengarnya.
"Tidak! kan sudah tadi!" tolaknya.
"Tapi aku menginginkannya."
"Kenapa kau menginginkannya? sudah tidur saja, atau kau ngegym saja sudah jam seginikan." katanya.
Zayn menggelengkan kepalanya, "Salahkan dirimu sendiri kenapa terlalu seksi untukku."
Zayn langsung menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Nara.
Baiklah Nara yang salah.. Hah...
...๐๐๐...
Jam sembilan pagi, Zayn baru selesai mandi untuk membersihkan tubuhnya dengan air hangat. Ia keluar dari kamar mandi dan menatap Nara yang masih tertidur diatas ranjang dengan selimut sampai ke leher.
Sesekali ia melihat Nara mengernyitkan keningnya sendiri.
"Kau tidak ingin mandi?" tanya Zayn.
"Nanti saja." jawab Nara dengan suara sedikit lirih.
Tentu saja hal itu membuat Zayn kebingungan. Tadi Nara bisa menyuruhnya dan berdebat dengannya dengan baik.
Kenapa sekarang ia lesu sekali seperti rumput laut di dalam sup.
"Kau kenapa?" tanya Zayn sambil mendekat dan meletakkan tangannya di kening Nara takut jika istrinya demam tiba-tiba.
"Perutku sakit.." keluhnya.
__ADS_1